Kaset Usang Asing

Kaset Usang Asing
©Blogger

Melepaskan dan menghilang bukan cara untuk mendamaikan keadaan. Namun, engkau membuatku makin terpuruk. Amrey, mungkin kau tidak membaca atau bahkan tidak peduli dengan abjad-abjad yang kurangkai kali ini sebab mungkin kini kau telah asing mendengar namaku.

Amrey, biarkan aku memutar kaset usang yang kusimpan rapi di dalam kotak layar lebarku.

Bermula dari pertemuan-pertemuan biasa hingga masuk ke dalam ranah pertemuan bola mata yang ingin beradu untuk saling menatap. Tatapan yang teduh namun malah saling menuduh. Haha, kau malu untuk mengakuinya, bukan? Padahal engkau yang memulai melempar teduh itu.

Matahari makin redup, kau mengajakku mendaki bukit untuk melihat jeruk orange raksasa di ujung barat. Sungguh, Rey, waktu itu kau membuatku makin terpukau dengan hadirnya dirimu di dalam hidupku. Kita tidak saling mengobrol waktu itu, cukup diam dan mehidangkan semangkuk lengkung sabit untuk menikmati jeruk orange raksasa itu lenyap.

Waktu terus berputar dan angin sepoi tetap berjalan di dalam hubungan kita. Jalan kita tidak ada pertigaan maupun perempatan bahkan tidak ada warna tujuh pelangi. Namun, jalan kita terbentang lurus dan hanya diberi warna putih dan merah jambu. Aku rasa saat itu semua baik-baik saja.

Esok harinya matahari makin terik dan teman-temanku sibuk berbincang tetang hari mereka akan berkelana, aku dibujuk mereka untuk mengikuti rencana itu. Aku tersenyum sebab aku belum mampu memberi pernyataan tersebut.

Aku mendatangimu, Rey, menanyakan apakah aku akan baik-baik saja jika ikut teman-teman berkelana? Aku kira kau akan bahagia mendengar pertanyaanku, Rey, sebab kau telah berkelana sebelum bersamaku.

“Tidak, jangan ikuti,” jawabmu dengan singkat dan tegas.

“Kenapa, Rey? Bukankah itu akan memberiku sebuah pengalaman?” tanyaku.

Kau mengembuskan napas. “Baiklah kau boleh ikut, aku akan mengikutimu besok,” jawabmu kemudian kau terbitkan sabit. Aku sangat bahagia waktu itu, Rey. Aku langsung mengabari teman-temanku bahwa aku akan ikut berkelana bersama mereka.

Tepat pada hari yang telah ditentukan, kita berkumpul di bawah pohon rindang, namun jadwal pemberangkatannya tidak sesuai, yang seharusya jam 11.00 WIB sampai jam 13.00 WIB belum berangkat juga. Aku merasa kesal dan lelah. Kau mendekatiku dan memberiku seceguk semangat. Baiklah, aku kembali melengkungkan sabit, sebab esok aku akan membutuhkan lebih dari seceguk hari ini.

Pukul 14.00 WIB, akhirnya kita mulai berangkat. Aku memutar pandangan untuk mencarimu dan kau tidak ada di mana-mana. Sungguh aku mulai gelisah waktu itu, namun aku tetap yakin bahwa kau ada bersamaku. Hingga malam tiba, angin membuatku hampir membeku kala itu namun tiba-tiba kutemukan kau berada di belakangku. “Aku tahu kau kuat, bertahan ya,” bisikmu. Aku mengangguk saja waktu itu dan melanjutkan langkah.

Perjalanan tetap dilanjutkan, walau terkadang kita duduk dan istirahat sejenak untuk menghilangkan penat. Seiring bertemu dengan malam yang membuatku makin menggingil, kau lari entah ke mana. Aku khawatir waktu itu, dugaan-dugaanku tidak enak, jika aku mengikutimu pasti kau akan marah.

Namun tiba-tiba kau berada di belakangku lagi. “Pakai jaketku, kau kedinginan. Aku rasa ini cukup untuk menghangatkanmu. Gunakan erat-erat jangan sampai lecet. Ini seperti memelukku, bukan? Haha,” bisikmu. Aku mencubit lenganmu. Keadaan seperti ini masih aja ngasih kalimat gombal.

Langkah kaki terus berjalan, hingga tiba pada hari di mana aku tampak lesu, perut terasa mual, dan dada sesak. Aku kira maagku kambuh, banyak mata tertuju padaku, sebab aku sempat menghentikan langkah. Alhasil, aku tidak kuat lagi untuk malam itu.

Aku rasa teman-temanmu itu menggiringku ke suatu tempat yang nyaman untuk beristirahat. Dan benar saja teman-temanmu mengenaliku. “Kiran? Loh.. tunggu sebentar.. Amrey di mana? Bukannya dia selalu di belakangmu?” tanyanya.

Aku hanya sanggup menggelengkan kepala. Malam itu teman-temanmu menjaga, Rey, engkau di mana? Ahh.. entahlah, aku pun tertidur lelap.

Esok harinya, tiba-tiba kau sudah ada di sampingku. Tak ada lengkung sabit yang terbit di rautmu “Gimana? Masih kuat?’’ tanyamu.

“Iya,” jawabku.

Kau pun akhirnya mengantarku untuk mengkuti rombongan teman-temanku. “Hari ini terakhir, jaga diri baik-baik,” pesanmu.

“Iya, iya..,” jawabku.

Hari makin gelap, perjalanan ini akan segera berakhir di puncak. Sesampainya di puncak, kau dengan bangga memelukku, “Alhamdulillah, Kiran, selamat ya, kau sudah mampu bertahan sampai di sini,” ucapmu.

“Iya, Amrey, terima kasih juga andalanku, hehe,” jawabku. Kemudian, kau melepaskan peluk dan membiarkanku untuk berpelukan dan saling mengucapkan selamat dengan yang lain.

Sepulang dari berkelana, jalan kita masih seperti biasa. Lurus dan tersedia warna putih dan merah jambu. Hingga pada akhirnya teman-temanku mengajakku berkelana lagi namun tidak sampai berhari-hari seperti kemarin, kali ini cukup sehari dan itu tidak meninggalkan jejak langkah kaki melainkan menggunakan besi mesin beroda dua yang otomatis hanya bisa digunakan oleh dua orang saja.

Aku mengajakmu, tapi kau enggan untuk mengikutinya lagi. Kau hanya mengantarku di kafe tempat di mana aku dan teman-temanku berkumpul dan akan memulai kelana yang hanya sehari itu.

Aku menanyakan sekali lagi, “Rey, beneran kamu tidak ikut?” Kau hanya menggelengkan kepala kemudian bola matamu jatuh tidak seperti biasanya.

Melihatmu seperti itu sebenarnya aku ingin mengurungkan niat untuk ikut berkelana dengan teman-temanku. Namun, kali ini aku harus membantah, aku juga ingin berkelana dengan teman-temanku naik besi mesin beroda dua itu. Kau membiarkanku sendiri tanpamu waktu itu. Ya udahlah, gapapa.

Selepas hari di mana aku berkelana seharian bersama teman-temanku, kau tidak ada kabar, bahkan aku menunggumu di malam minggu.

“Tolong, Rey, ini hari Sabtu, jangan membuatku menggerutu dan nanti malam Minggu jangan membuatku menunggu,” batinku

Namun, hingga hari minggu berakhir kau tak menemuiku. Hari Senin aku pergi ke perpustakaan bersama teman-temanku, mereka bilang, “Kiran, ada Amrey, dia melihat ke sini,” celetuk salah satu temanku.

“Di mana?” tanyaku.

“Itu,” jawab temanku sambil menunjuk ke arahmu. Namun, kau berpaling saat aku melihatmu.

“Hey, Rey, ada apa? Mungkinkah kejadian seharian aku pergi bersama teman-temanku itu?” pikirku penuh pertanyaan. Ahh.. apa aku salah? Entahlah.. Purnama telah berlalu dan hingga saat ini kau tetap tak memberi kabar secuil pun.

Hey, Amrey, tolong beri tahu letak lubang hitam di jalan putih dan merah jambu kita. aku telah menyusurinya sendiri hingga aku berhalu bersama bayanganmu. Tolong datanglah, bukankah jeruk orange raksasa, rembulan, bintang, dan kunang telah menyampaikan undangan untukmu? Mari kita menyusuri jalan kita yang lurus berwarna putih dan merah jambu itu lagi.

Gibran Zahra
Latest posts by Gibran Zahra (see all)