Kaya karena Wabah

Kaya karena Wabah
©WAG

Orang-orang menangguk untung dari wabah yang menghentak negeri, seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.

Di awal-awal pandemi masuk ke Indonesia, harga masker dikerek gila-gilaan. Satu kotak berisi lima puluh helai masker yang biasanya 50.000 rupiah, dijual 250.000 sampai lebih. Masker menghilang di rak-rak apotek dan mini market.

Di saat banyak orang Indonesia menimbun masker—tak sedikit yang kaya mendadak—kita mendengar toko-toko di sejumlah negara malah menurunkan harga masker untuk warga biasa. Masker dipajang di etalase dekat pintu masuk agar terlihat dari jalan.

Pakaian pelindung APD pernah juga menjadikan banyak orang kaya raya dengan memasoknya untuk tenaga-tenaga medis berkat harga yang dikerek setinggi langit. Sepaket APD 100.000-an dijual sampai sekitar 850.000 rupiah. Konon triliunan rupiah yang berputar untuk pembelian APD ini telah menjadi temuan auditor negara tapi tak sampai-sampai di pengadilan.

Peralatan rapid test, face-shield, aneka suplemen, bahkan vitamin-vitamin yang digembar-gemborkan berkhasiat untuk melawan Covid-19 pernah pula membanjiri pasar online dengan harga jauh di atas yang seharusnya.

Dan kini, giliran ivermectin. Obat cacing ini jadi barang mahal dan langka. Antrean panjang warga dan pengojek online mengular di apotek untuk mendapatkannya, seperti foto yang saya dapatkan di satu grup percakapan ini. Harganya yang 30.000-an, di bursa gelap, ditawarkan hampir 20 kali lipat.

Inilah potret Indonesia masa kini. Negeri yang ramah, welas asih, dan—bila dasar negaranya diringkas, kata Bung Karno—bergotong royong. Orang-orang menangguk untung dari wabah yang menghentak negeri, seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.

Sudahkah kau menimbun obat cacing ivermectin hari ini?

Baca juga:
    Tomi Lebang
    Latest posts by Tomi Lebang (see all)