Kearifan Mandar untuk Nusantara

Kearifan Mandar untuk Nusantara
Foto: Budpar Polman

Sebuah petuah dari kearifan Mandar berbunyi:

Marondong duang bongi anna matea, mau ana’u mau appou, da muannai menjari maraqdia mua’ tania to namassayanni litaq na tania tonamassayangngi paqbnua (esok hari saat ajal telah menjemputku, meski itu anak dan cucuku, janganlah ia dijadikan pemimpin jika tak mencintai tanah air dan rakyat).

Petuah tersebut adalah ucapan dari raja pertama kerajaan Balanipa, I Manyambungi yang bergelar Todilaling. Itu adalah petuah, lebih tepatnya kearifan Mandar, bagi segenap masyarakatnya untuk bersungguh-sungguh dalam memilih pemimpin.

Nah, sebelum jauh mengelaborasi makna dari petuah tersebut, maka terlebih dahulu, untuk memperjelas keadaan, saya akan mengisahkan apa itu Mandar dan siapakah itu manusia Mandar.

Mandar adalah salah satu suku besar di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Dalam sejarahnya, Mandar merupakan persekutuan (konfederasi) dari empat belas kerajaan—karib disebut Pitu Ulunna Salu (tujuh kerajaan di pegunungan) dan Pitu Ba’bana Binanga (tujuh kerajaan di pesisir pantai).

Kata atau nama Mandar sendiri memiliki setidaknya lima pengertian. Nama-nama itu, sampai kini, masih menjadi perdebatan, yakni Manda’, Mandarra’, Meandar atau Ma’andar, Mandar, dan Mandarra.

Jika ‘Manda’ diartikan ‘kuat’ atau ‘kekuatan’, maka orang Mandar harus saling memberi kekuatan. Tidak saling melemahkan, meruntuhkan atau menghancurkan. Jika diartikan ‘Mandarra’ berarti ‘bersinar atau bercahaya’, maka orang Mandar harus saling menyinari, atau memberi sinar dan cahaya. Tidak saling memberi kegelapan atau memadamkan api yang sudah dinyalakan saudaranya yang lain.

Jika ‘Meandar’ atau ‘Ma’andar’ berarti bermakna ‘mengantar’, maka orang Mandar seharusnya saling mengantar pada kebaikan. Tidak saling mengantar pada keburukan atau kecelakaan.

Sementara itu, jika ‘Mandar’ diartikan sungai yang ada di Tinambung Balanipa Mandar, di mana airnya yang melimpah tak pernah kering mengalir ke seluruh penjuru untuk memberi kehidupan alam sekitar, tentu, dalam konteks ini, maknanya secara filosofis, yakni senantiasa mengalir ke kerendahan, mengisi tempat yang kosong.

Namun, jika terjadi salah atur tekanan arusnya, maka akan menghancurkan apa saja yang dilaluinya, baik jembatan, lereng perbukitan, bahkan gunung sekalipun. Ini mengandung pengertian bahwa kearifan Mandar dalam diri masing-masing manusianya harus menjadi rahmat pada alam sekitarnya, membantu yang kekurangan, bersifat rendah hati, adil, dan berani berkorban untuk kebenaran serta keadilan bersama.

Sedangkan jika ‘Mandarra’ diartikan ‘mendera’ atau ‘memukul’ orang yang bersalah, maka hal ini seyogianya dimaknai bahwa orang Mandar seharusnya berani menegakkan kebenaran dan keadilan.

Dalam versi ini, Andi Syaiful Sinrang (penulis buku Beberapa Upacara Adat Suku Mandar di Sulawesi Selatan) ikut menegaskan. Baginya, orang Mandar bukan sebagai tukang pukul, bermulut dan berperangai kasar yang membabi-buta. Tetapi mereka mengutamakan kesopanan serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral.

Dari pengertian-pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kearifan Mandar mengajarkan untuk senantiasa harus saling memberi kehidupan, kebaikan. Mengingatkan yang terlupa, membangunkan yang rebah, menepikan yang hanyut, mengapungkan yang tenggelam.

Saling menghormati, menghargai dan menyayangi. Sipattau, siakayyangang siri’ anna sisamboiyang siri’ (saling menghormati sesama manusia, saling menjunjung tinggi, dan saling menjaga serta tidak mengumbar aib sesama).

Kepemimpinan yang Malaqbiq

Di kearifan Mandar lainnya, terkenal sebuah konsep kepemimpinan yang lazim disebut sebagai A Malaqbiang atau Malaqbiq. Dalam terjemahan Indonesia, kata ‘sempurna’ atau ‘kesempurnaan’ barangkali dapat mendekati kata Malaqbiq itu.

Saya mengatakan mendekati sebab, dalam referensi sejarah Mandar pun, istilah ini belum mempunyai definisi yang jelas dan baku. Biasanya konsep ini langsung dipaparkan dengan mengambil contoh seorang tokoh. Semisal, dari Baharuddin Lopa (Jaksa Agung RI di masa Abdurrahman Wahid yang bergelar pendekar hukum), untuk memperjelas arti dari Malaqbiq.

Berikut saya petikkan lagi salah satu pesan leluhur yang menjadi dasar dari kepemimpinan Malaqbiq:

Naiya maraqdia, tammatindo di bongi, tarrarei di allo. Anna mandandang mata di matanna daung ayu, di malimbongna rura, di madinginna litaq, diajarianna banne tau, diatepuanna saraq.

Artinya:

Seorang pemimpin, tak lelap di malam hari, tak berdiam di siang hari. Senantiasa memikirkan kesuburan tanah, tanaman, tambak, keamanan dan kedamaian, kesejahteraan penduduk, dan iman yang sempurna.

Berdasarkan pesan leluhur di atas, maka seorang pemimpin bangsa menurut masyarakat Mandar pantang berdiam diri terhadap situasi. Seorang pemimpin harus menjaga kedamaian dan kesejahteraan penduduk. Bahkan pemimpin harus tampil sebagai penjaga moral keagamaan masyarakat. Pemimpin yang demikian itu yang disebut sebagai pemimpin rakyat.

Meski para raja di Mandar tidak dipilih secara langsung oleh rakyat, tetapi raja memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelangsungan hidup rakyatnya. Jika pada masa seorang raja terjadi, semisal, kegersangan lahan, maka raja tersebut wajib turun tahta sebab dianggap telah gagal memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Kepemimpinan yang malaqbiq, dengan demikian, adalah kepemimpinan yang dimulai dari integritas personal seorang pemimpin. Ia memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup rakyatnya. Perpaduan dari dua sifat tersebut itulah yang disebut sebagai pemimpin yang Malaqbiq.

***

Dari sebermulanya kandungan makna dari kata Mandar, sudah demikian jelas betapa nilai kemaslahatan kehidupan bersama adalah hal yang begitu dijunjung tinggi nan utama. Serta bagaimana seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat yang Malaqbiq agar ia pantas menjadi sang pemimpin.

Dari dua penjelasan di awal yang sudah saya sampaikan, itulah yang menjadi makna dari petuah Todilaling. Jika ada raja/pemimpin yang tidak memenuhi kriteria-kriteria demikian, maka itulah pemimpin yang tania to massayanni litaq anna tania to massayanni paqbanua (tak mencintai tanah air dan rakyatnya).

Pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang dalam kepala saya adalah bagaimana mungkin tatanan yang luhur di masa lalu tersebut sedikit pun tak membekas dalam konsep pemerintahan hari ini? Apakah kondisi korup para pemimpin Indonesia hari ini adalah karena mereka tak pernah sungguh-sungguh belajar dari kearifan Mandar sendiri? Atau jangan-jangan para pemimpin korup itu tak terlahir dari kebudayaan Nusantara?

*Restu Bumi Juarta, Pegiat Seni di Komunitas Rumah Mandar Yogyakarta

_____________

Baca juga:
Kontributor NP
Kontributor 74 Articles
Kontributor Nalar Politik