Kearifan Mandar untuk Nusantara

Berikut saya petikkan lagi salah satu pesan leluhur yang menjadi dasar dari kepemimpinan Malaqbiq:

Naiya maraqdia, tammatindo di bongi, tarrarei di allo. Anna mandandang mata di matanna daung ayu, di malimbongna rura, di madinginna litaq, diajarianna banne tau, diatepuanna saraq.

Artinya:

Seorang pemimpin, tak lelap di malam hari, tak berdiam di siang hari. Senantiasa memikirkan kesuburan tanah, tanaman, tambak, keamanan dan kedamaian, kesejahteraan penduduk, dan iman yang sempurna.

Berdasarkan pesan leluhur di atas, maka seorang pemimpin bangsa menurut masyarakat Mandar pantang berdiam diri terhadap situasi. Seorang pemimpin harus menjaga kedamaian dan kesejahteraan penduduk. Bahkan pemimpin harus tampil sebagai penjaga moral keagamaan masyarakat. Pemimpin yang demikian itu yang kita sebut sebagai pemimpin rakyat.

Meski para raja di Mandar tidak dipilih secara langsung oleh rakyat, tetapi raja memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelangsungan hidup rakyatnya. Jika pada masa seorang raja terjadi, semisal, kegersangan lahan, maka raja tersebut wajib turun tahta sebab telah gagal memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Kepemimpinan yang malaqbiq, dengan demikian, adalah kepemimpinan yang bermula dari integritas personal seorang pemimpin. Ia memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup rakyatnya. Perpaduan dari dua sifat tersebut itulah yang kita sebut sebagai pemimpin yang Malaqbiq.

***

Dari sebermulanya kandungan makna dari kata Mandar, sudah demikian jelas betapa nilai kemaslahatan kehidupan bersama adalah hal yang begitu terjunjung tinggi nan utama. Serta bagaimana seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat yang Malaqbiq agar ia pantas menjadi sang pemimpin.

Baca juga:

Dari dua penjelasan di awal yang sudah saya sampaikan, itulah yang menjadi makna dari petuah Todilaling. Jika ada raja/pemimpin yang tidak memenuhi kriteria-kriteria demikian, maka itulah pemimpin yang tania to massayanni litaq anna tania to massayanni paqbanua (tak mencintai tanah air dan rakyatnya).

Pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang dalam kepala saya adalah bagaimana mungkin tatanan yang luhur di masa lalu tersebut sedikit pun tak membekas dalam konsep pemerintahan hari ini? Apakah kondisi korup para pemimpin Indonesia hari ini adalah karena mereka tak pernah sungguh-sungguh belajar dari kearifan Mandar sendiri? Atau jangan-jangan para pemimpin korup itu tak terlahir dari kebudayaan Nusantara?

*Restu Bumi Juarta, Pegiat Seni di Komunitas Rumah Mandar Yogyakarta

Kontributor