Kebanyakan Gimik, PIM Sebut Politisi Indonesia Miskin Gagasan

Kebanyakan Gimik, PIM Sebut Politisi Indonesia Miskin Gagasan
©RMOL

Nalar Politik – Perkumpulan Indonesia Muda (PIM) menyebut politisi Indonesia kebanyakan gimik. Alih-alih membanjiri ruang publik dengan ide atau gagasan, yang tampil darinya hanyalah serangkaian tipu muslihat.

Menurut PIM, sebaiknya politisi menghentikan gimik politik. Hal ini cuma akan menegaskan bahwa mereka, termasuk bakal kandidat di Pilpres 2024 mendatang, tak memiliki konsep yang jelas bagi kemajuan Indonesia.

Political gimmick demikian mendominasi dan merefleksikan bahwa para politisi dan partai politik memang miskin visi-misi, tak memiliki konsep yang jelas dan solid tentang mau dibawa ke mana Indonesia,” kata Ketua PIM, Yhodhisman Soratha, dalam keterangan tertulisnya seperti dilansir Republika (31/12).

Di antara kegimikan yang, kata Yodhisman, sering dimunculkan politisi di ruang publik adalah marah-marah saat melihat ketidakbecusan anak buah; mengunjungi warga yang tertimpa musibah dan sedang disorot media; makan mi ayam gerobak pinggir jalan; menanam padi di tengah guyuran hujan; atau menangis ketika terbongkar skandal asusila seolah-olah bahwa kejadian tersebut merupakan kekhilafan sesaat.

Meski sikap kepedulian yang ditunjukkan lewat marah-marah atau bersilaturahmi ke rakyat memang perlu, hal ini belumlah cukup. Yodhisman menilai, seorang pejabat publik mestinya menyajikan solusi yang sistemik dan komprehensif, bukan sibuk bergimik ria.

“Seharusnya mereka sudah harus menyuguhkan gagasan.”

Ia pun berharap, pada 2022 hingga Pileg dan Pilpres 2024 ke depan, ide dan gagasan dari politisi sudah harus membanjiri ruang publik. Politik, menurutnya, mesti menjadi arena memajukan kehidupan bangsa di mana kekuasaan bukan sebagai tujuan utama melainkan sarana.

Yodhisman melihat kondisi Indonesia sekarang masih jauh dari ideal sebagai sebuah negara-bangsa. Para aktor politiknya tak kunjung memperlihatkan kecakapan teknokratis dalam menjawab persoalan rakyat, tetapi malah sibuk bergimik politik.

“Indonesia terlalu berharga jika hanya diisi gimik-gimik tak berkesudahan. Hal ini juga yang membuat banyak kalangan jenuh, bahkan muak dengan politik.”

Ia mengakui memang masih banyak upaya yang harus dilakukan untuk mencapai tataran ideal itu. Salah satunya adalah dengan mulai menghentikan gimik politik.

“Para politisi bisa mengembalikan kepercayaan publik jika mulai bicara substansi. Untuk itu, PIM meminta agar para tokoh politik segera menghentikan tontonan politik gimik.”

Baca juga: