Kebenaran Itu Berserak, Tidak Tunggal

Kebenaran Itu Berserak, Tidak Tunggal
©Unsplash

Kebenaran Itu Berserak, Tidak Tunggal

Kaum fundamentalis agama dan kelompok kiri itu memiliki persamaan. Sama-sama santun pada lawan debat. Apa yang menyebabkan mereka sangat santun begitu? Kemungkinan besar karena mereka merasa sudah menemukan yang benar.

Yang pertama merasa membawa pesan ilahi. Yang kedua merasa membawa kepentingan rakyat. Di pundaknya bertengger kebenaran. Tidak bisa diganggu-gugat. Semua yang tidak sepakat adalah penentang tuhan dan rakyat.

Makian dan umpatan barangkali justru terlalu ringan bagi mereka yang menentang kebenaran tuhan dan rakyat itu. Kalau perlu, mati pun mereka pantas.

Itu sebabnya saya suka orang liberal. Nyaris tidak pernah saya menemukan seorang liberal yang memaki lawan debatnya. Mengapa begitu? Liberalisme berpijak pada asumsi bahwa semua manusia memiliki kelemahan. Tidak ada di antara kita yang punya kebenaran absolut. Manusia ini dhaif, tempatnya salah dan lupa. Tak ada superman di antara kita. Superman is dead.

Orang-orang liberal akan mempertahankan pendapatnya dengan argumentasi. Tapi sekokoh apa pun argumen itu, mereka tetap menyisakan ruang untuk salah. Ada ruang untuk koreksi. Karena itu, di lingkungan kelompok liberal, kesombongan kurang mendapat tempat.

Bahkan lebih jauh, penganut liberalisme juga percaya value pluralism. Masing-masing pandangan memiliki kebenaran sendiri-sendiri yang sering kali tidak bisa diperbandingkan. Kebenaran itu berserak. Ia tidak tunggal, melainkan banyak.

Jangankan antara satu komunitas dengan komunitas lainnya, atau antara satu individu dengan individu lainnya, bahkan keputusan-keputusan dari satu individu pun sering kali memiliki kebenarannya sendiri-sendiri. Ketika kita memutuskan sesuatu, sering kali itu bukan tentang memilih di antara yang benar dan salah, tapi memilih di antara yang benar. Bahkan di dalam diri kita seorang ini, kebenaran itu beragam.

Semoga kita terhindar dari perangai takabur.

Baca juga:
Saidiman Ahmad
Latest posts by Saidiman Ahmad (see all)