Kebenaran Personal dan Impersonal

Kebenaran Personal dan Impersonal
©Haluan

Kebenaran Personal dan Impersonal

Filsuf Jean-Francis Lyotard pernah mengatakan bahwa internet bisa memprovokasi perang baru, yakni perang perebutan kebenaran.

Apa yang dikatakan Lyotard tersebut boleh jadi telah menunjukkan tanda-tandanya saat ini ketika internet hadir membawa arus informasi yang merajalela, memberikan manusia pelbagai informasi dari segala dimensi kehidupan manusia, mulai dari persoalan publik seperti politik, ekonomi, dan hukum sampai pada urusan privat individual seperti gaya hidup dan hobi.

Kehadiran internet memang telah menjadikan dunia hanya sebagai sebuah “kamp pengungsian”, di mana informasi menyebar begitu cepat dalam hitungan detik. Internet hadir di tengah kehidupan manusia sebagai sebuah realitas baru.

Selain internet sebagai realitas baru, kita juga tentunya tidak boleh mengabaikan peran media massa, baik media cetak maupun media digital, yang di dalamnya internet dipakai sebagai salah satu instrumen penting penyebaran berita.

Namun sangat disayangkan bahwa terkadang media massa juga turut ambil bagian dalam penyebaran berita hoaks. Demi keuntungan ekonomis, misalnya, media dengan tahu dan mau memublikasikan fakta palsu demi kepentingan pihak tertentu. Penyampaian pendapat yang tidak etis pun sengaja disebarkan.

Kebenaran tidak lagi menjadi patokan utama. Kenyataan ini perlu menjadi suatu pergumulan baru bagi umat manusia dewasa ini untuk menentukan sikap dan tindakan yang tepat di tengah kungkungan informasi.

Manusia sebetulnya dapat mengamankan dirinya sehingga tidak terombang-ambing oleh segala jenis informasi yang tidak diketahui pasti kebenarannya. Hal ini didasarkan pada esensi manusia itu sendiri sebagai makhluk yang berakal budi. Dengan akal budinya, manusia mampu berpikir kritis menyikapi realitas yang terjadi di sekitarnya, termasuk informasi-informasi yang diperoleh lewat internet.

Baca juga:

Dalam ranah filsafat, kita sekarang memasuki suatu dunia yang ditandai dengan kemajemukan dalam segala aspek, termasuk corak berpikir manusia. Zaman ini dinamakan masa postmodernnisme yang hadir sebagai salah satu bentuk kritik terhadap zaman sebelumnya, yakni zaman modern.

Zaman modern bercirikan pemikiran yang terpaku pada corak, aturan atau dogma tertentu seperti rasionalisme, idealisme, empirisme, sentimentalisme, voluntarisme, dan lain-lain. Aliran tersebut hadir dengan gaya metode berpikir tersendiri dan memutlakkannya sebagai kebenaran yang harus diikuti semua orang.

Sebagai tanggapan atas itu, lahirlah postmodernisme dengan ciri-ciri antidogma. Husserl mengawali kritik terhadap sains modern dalam perspektif filsafat fenomenalogis. Ia menjelaskan tentang pentingnya dunia pra-keilmuan prescientific word yang mensyaratkan pemahaman akan keutuhan kualitas dunia indrawi. Kritik Husserl ini berdasar pada modernisme yang sangat menekankan pengetahuan objektif dan mengabaikan pengetahuan subjektif.

Satu efek penting dari lahirnya postmodernisme adalah kebebasan berpendapat, di mana setiap individu, kelompok atau elemen bebas mengekspresikan diri. Mereka tidak terpaku lagi pada ajaran atau dogma tertentu.

Kebebasan berpendapat lahir beriringan dengan perkembangan teknologi informasi. Teknologi ini merupakan wadah yang paling tepat bagi manusia untuk menyampaikan gagasan. Alhasil, kebebasan berpendapat yang ditunjang dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membawa dampak berupa perluasan informasi yang begitu cepat dalam waktu singkat.

Sekarang problemnya terbalik. Kalau pada zaman modern orang tunduk pada kekuatan baru yang dilahirkan, di era kebebasan ini, yakni teknologi, termasuk di dalamnya teknologi informasi.

Internet dapat dikatakan sebagai anak kandung postmodernisme. Internet hadir sebagai sebuah kritik secara tidak langsung atas tatanan kehidupan dalam masyarakat modern yang bergantung pada metanarasi yang cenderung diabsolutkan. Sementara dalam internet setiap orang bebas mengekspresikan diri, mengemukakan keyakinan-keyakinan pribadinya secara gamblang tanpa tekanan apa pun. Sejatinya merupakan ”reaksioner”.

Di sini jelas terlihat bagaimana media hadir sebagai penentu kebenaran lewat informasi yang belum tentu kebenarannya. Realitas zaman pasca kebenaran ditandai dengan meluas dan merajalelanya arus informasi. Masyarakat global sepertinya terombang-ambing dengan arus ini. Arus ini hadir sebagai penentu langkah hidup umat manusia, penentu kebenaran.

Halaman selanjutnya >>>
Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)