Kebenaran Tidak Butuh Pembelaan

Kebenaran Tidak Butuh Pembelaan
©Photovoices

Nalar Warga – Banyak orang mengira suara mayoritas/mainstream sebagai kebenaran. Sementara itu, ada saran sing waras ngalah. Yang terjadi kemudian justru suara-suara sumbang yang keras teriakan dianggap kebenaran. Sebab yang benar-benar paham malu untuk bersuara dan takut dianggap sesat.

Dalam sejarah, sering kali dan banyak hal dianggap benar karena bisa survive (pemenang konflik) dengan alasan direstui oleh tuhan. Padahal hal-hal yang dianggap benar itu ditegaskan (enforcement) melalui cara-cara kekerasan.

Banyak orang tidak menyadari bahwa sering kali pemenang konflik kekerasan yang kemudian menuliskan versi cerita sejarahnya. Sementara itu, konflik-konflik politik banyak diwarnai dengan keterlibatan keagamaan.

Inilah mengapa ajaran keagamaan sering terdistorsi dan membawa pada konflik tak berkesudahan, sebab dianggap sebagai petunjuk. Tekanan intimidatif berupa penilaian “sesat” sangat kuat di tengah masyarakat dan tidak disadari oleh kebanyakan orang.

Kebanyakan orang menganggap mereka berhak menilai dan menghakimi sesamanya. Paham yang keliru cenderung dipaksakan dengan cara-cara intimidatif dan kekerasan. Orang-orang menganggapnya sebagai benar karena patuh pada ajaran dan sebagai bukti ketaatan.

Yang perlu disadari adalah bahwa kebenaran tidak butuh pembelaan. Kebenaran selalu mampu membuktikan sendiri bahwa adalah benar adanya. Ia hanya perlu disampaikan dalam bentuk penjelasan dan akan dipahami oleh masing-masing orang. Pemahaman datang dari diri sendiri.

Dalam spiritualitas dikatakan, “murid siap, maka guru akan datang.” Petuah bijak itu lahir dari pengalaman bahwa orang hanya akan dapat mencerna pengertian saat siap mendengarkan.

*JawiDwipa

Baca juga:
    Warganet