Kebingungan Liberal

Kebingungan Liberal
Foto: ist.

Nalar WargaSaya sudah malas berdiskusi dengan orang yang selalu menyalahkan Pak Harto. Tidak ragu lagi, dia memang bersalah, kesalahannya maha besar, tetapi lalu mau apa?

Bagi saya, masalah politik terbesar kita hari ini adalah kebingungan setelah Pak Harto tiada.

Yang saya maksud “setelah Pak Harto” adalah kebebasan. Hingga hari ini, kita selalu berdebat, kadang untuk perkara yang kurang perlu, mengenai bagaimana membatasi kebebasan. Saking asyiknya berdebat, kita lupa mempertanyakan ini: lalu kalau sudah bebas, mau apa?

Dalam perdebatan tersebut, kaum liberal tampil ke muka. Seperti biasa, mereka meminta negara tidak ikut campur masalah pribadi warga negara.

Permintaan ini terdengar wajar dan masuk akal. Tetapi, bukankah dengan sedikit pikiran jernih saja kita bisa menemukan problem serius di dalamnya?

Dengan meminta negara tidak campur tangan masalah pribadi warga negara, secara langsung kaum liberal telah memberi jalan bagi dua kekuatan sekaligus: neoliberalisme dan islamisme.

Argumen liberal mengenai kebebasan membuat agresi pasar bebas semakin tak terkendali pada satu sisi dan juga memungkinkan penetrasi kaum islamis garis keras semakin tak terbendung pada sisi yang lain.

Sementara dua kekuatan yang merusak tersebut berkembang, liberalisme sendiri tidak mempunyai akar kuat di negeri ini. Liberalisme dan budaya politik Indonesia seperti dua orang asing yang saling mengintai, tetapi tidak pernah saling berbicara. Di antara keduanya terdapat curiga.

Sekali lagi, kebebasan adalah pokok, tetapi lalu mau apa?

*Amin Mudzakkir

___________________

Artikel Terkait: