Kecenderungan Perilaku Politik Pemilih Nasional Temuan SMRC 2021

Kecenderungan Perilaku Politik Pemilih Nasional Temuan SMRC 2021
©SMRC

Nalar Politik – Bagaimana kecenderungan preferensi pemilih terhadap calon-calon presiden setidaknya jika pemilihan diadakan sekarang? Bagaimana tren dukungan pemilih terhadap partai politik? Faktor apa yang memengaruhi pemilih?

Sejauh mana pengaruh partai politik terhadap preferensi pemilih pada calon presiden?

Dalam menentukan calon presiden, mana yang lebih penting di mata pemilih: arah dukungan partai atau kualitas personal capres? Bagaimana efek capres yang diusung oleh suatu partai terhadap elektabilitas partai bersangkutan?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melakukan survei nasional tentang kecenderungan perilaku politik pemilih dan, secara khusus, melakukan survei eksperimental tentang efek partai, calon wakil, dan kualitas personal calon presiden terhadap pilihan atas calon presiden dan partai politik.

“Selama ini ada sejumlah studi yang menunjukkan bahwa kualitas calon presiden lebih penting daripada ikatan dengan partai politik dalam menentukan pilihan atas calon presiden maupun atas partai politik. Tapi ada juga indikasi bahwa pemilih partai akan tetap memilih calon presiden yang partai calonkan meskipun calon presiden tersebut buruk kualitasnya dan karena itu tak diinginkan untuk menjadi presiden. Ini karena party identification yang sangat kuat,” jelas SMRC dalam rilis surveinya via webinar, Selasa, 28 Desember 2021.

Untuk memastikan proposisi mana yang lebih meyakinkan dalam konteks pemilih nasional Indonesia, SMRC mengaplikasikan sebuah desain survei eksperimental, yang menunjukkan hubungan kausal antara partai dan kualitas calon presiden dengan pilihan terhadap partai maupun presiden.

“Survei eksperimental yang kami lakukan pada kesempatan ini adalah untuk menguji secara lebih ketat hubungan-hubungan kausal tersebut.”

Pilihan kepada Partai

Jika pemilu diadakan sekarang, temuan SMRC menunjukkan PDIP mendapat dukungan terbesar 25,2 persen. Golkar menyusul dengan perolehan 11,2 persen, Gerindra 10,8 persen, PKB 8,4 persen, Demokrat 6,2 persen, dan PKS 5,1 persen. NasDem, PAN, dan PPP belum aman untuk kembali lolos ke Senayan (masih kurang dari ambang batas 4 persen).

Baca juga:

“Kecenderungan dukungan pada partai-partai ini secara umum stabil sejak Pemilu 2019.”

Mengapa PDIP cenderung mendapat suara paling banyak daripada partai-partai lain, bahkan sejak menjelang Pemilu 2014? Apakah karena PDIP punya tokoh yang pemilih sukai, yakni Jokowi dan sekarang Ganjar Pranowo?

Menjawab itu, SMRC mengemukakan terlebih dahulu temuan tentang kecenderungan elektabilitas bakal calon presiden.

Pilihan kepada Bakal Calon Presiden

Dalam format pertanyaan semiterbuka dengan daftar 43 nama, Prabowo Subianto mendapat dukungan 19,7 persen, seimbang dengan Ganjar Pranowo yang meraih 19,2 persen. Urutan berikutnya adalah Anies Baswedan 13,4 persen, AHY 3,7 persen, Sandiaga Uno 3,5 persen, Ridwan Kamil 3,3 persen, Ahok 3 persen, dan nama-nama lain di bawah 3 persen. Yang belum tahu 13,5 persen.

“Dari Maret 2020 ke Desember 2021, dukungan kepada Ganjar Pranowo dalam simulasi semiterbuka meningkat dari 6,9 persen, sementara dukungan kepada Prabowo tidak banyak berubah dari 19,5 persen. Anies naik dari 10,1 persen, Sandiaga Uno cenderung melemah dari 7,3 persen, sedangkan dukungan untuk Ridwan Kamil dan AHY tidak banyak berubah (perubahan di bawah 1 persen).”

Dalam simulasi pilihan tertutup terhadap 15 nama, Prabowo dan Ganjar juga mendapat dukungan yang kurang lebih sama, yakni masing-masing 22,7 persen dan 22,5 persen. Anies menyusul dengan perolehan 15,2 persen, AHY 5 persen, Ridwan Kamil 4,3 persen, Sandiaga Uno 4,2 persen, dan nama-nama lain di bawah 3 persen. Yang belum tahu 14,7 persen.

“Dari Oktober 2020 ke Desember 2021, dukungan kepada Ganjar dan Anies sama-sama naik dalam simulasi 15 nama, masing-masing dari 11,7 persen dan 10 persen. Sementara itu, dukungan kepada Prabowo tidak banyak berubah dari 22,2 persen, pada AHY sedikit menguat dari 3,8 persen, sedangkan untuk Sandiaga Uno dan Ridwan Kamil melemah.”

Karena yang bisa mencalonkan presiden hanya partai atau koalisi partai, maka penting bagi SMRC untuk mencermati elektabilitas pimpinan atau tokoh-tokoh inti partai politik yang punya kursi di DPR.

Halaman selanjutnya >>>