Kegagalan Pendidikan Kita

Kegagalan Pendidikan Kita
©Viva

Konstruksi dunia pendidikan di Indonesia sekali lagi tidak mampu menjadi representasi bagi perkembangan basis intelektual di dunia. Tuntutan pendidikan kita yang masih saja mengadopsi pola-pola kolonial, bahkan tidak jarang bertendensi atau masih terkontaminasi pada kultur imperialisme.

Misalnya pada masa kolonial yang hanya boleh menempuh pendidikan yang memadai hanyalah anak-anak penjajah, para konglomerat atau hanya keturunan raja (priyayi) yang mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan yang memadai dengan fasilitas yang baik. Sedangkan untuk pribumi yang berada pada kasta rendah tidak diberikan kesempatan untuk merasakan pendidikan.

Saat ini hal itu masih sangat terasa. Warga pinggiran kota yang termarjinalkan oleh sistem, mengharuskan mereka untuk tidak dapat menempuh pendidikan karena terbentur oleh biaya pendidikan yang kian hari makin mahal. Di pedesaan misalnya, walaupun pemerintah mengratiskan biaya pendidikan di pelosok-pelosok desa, akan tetapi tidak dapat dimungkiri bahwa fasilitas pendidikan yang ada di pelosok desa masih sangat terbatas.

Belum lagi faktor pendukung seperti jaringan Internet yang mengharuskan setiap pelajar untuk tidak gaptek, lebih update disebabkan perkembangan yang setiap detiknya selalu berubah. Tentu jika patokan pendidikan hanya berpacu pada buku saja tanpa diimbangi dengan perkembangan teknologi, maka dapat dipastikan model pendidikan kita tertinggal jauh ke belakang.

Kegagalan lainnya adalah tentang tuntutan. Seorang pelajar dituntut menempuh pendidikan karena bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, yang seharusnya esensi dari pendidikan adalah memperkaya intelektual.

Sehingga tidak jarang begitu banyak pelajar di Indonesia yang pemahaman intelektualnya patut dipertanyakan karena esensi pendidikan tidak menjadi poin utama yang harus diraih ketika menempuh pendidikan. Belum lagi soal praktel gratifikasi, pelajar/mahasiswa yang terlalu berpikir instan/praktis, sehingga menyelesaikan akademiknya dengan cara-cara yang instan.

Kegagalan lainnya adalah pada penerapan kurikulum. Setiap kali pergantian kabinet (Kementerian Pendidikan) selalu mengganti kurikulum yang ada. Pemahaman siswa/mahasiswa terhadap kurikulum yang sementara berjalan belum begitu dimengerti atau dipahami, mereka dituntut untuk beradaptasi pada kurikulum baru yang dibuat oleh Menteri Pendidikan.

Secara semiotik, pendidikan seharusnya mampu menjadi semacam perubahan yang merekonstruksi peradaban bangsa menuju kemajuan peradaban umat manusia. Akan tetapi sering kali penerapan konsep pendidikan tidak berjalan lurus dengan rancangan konsep yang seharusnya.

Baca juga:

Esensi pendidikan tidak dapat dirasakan. Forum-forum dialektika sering kali dilarang. Hal-hal inilah yang sepatutnya menjadi bahan evalusi kita bersama.

Perlu adanya upaya menelanjangi pola pendidikan kita secara komprehensif dan sistematis, agar kita mampu melihat sebuah kesalahan dan memperbaiki kesalahan tersebut untuk kemajuan pendidikan kita.

    Febrianto Arifin
    Latest posts by Febrianto Arifin (see all)