Kegagalan Revolusi Proletar dan Kritik Gramsci terhadap Determinisme Ekonomi

Kegagalan Revolusi Proletar dan Kritik Gramsci terhadap Determinisme Ekonomi
©Soldat

Kegagalan Revolusi Proletar dan Kritik Gramsci terhadap Determinisme Ekonomi

Karl Marx lahir di Trier, Prusia (Jerman), 5 Mei 1818, dan meninggal 14 Maret 1883 di London, Inggris. Dia belajar hukum di Bonn dan Berlin, tetapi akhirnya menulis disertasi dalam bidang filsafat untuk mendapatkan ijazah doktor dari Universitas Jena tahun 1941.

Di kantor surat kabar Rheinische Zeitung di Koln pada Oktober 1842, Marx bertemu dengan Friedrich Engels (1820-1895) untuk pertama kalinya. Kesempatan pertama ini tidak meninggalkan kesan apa pun.

Kontak mereka baru terjalin ketika Engels mengirimkan jurnal ekonomi-politik yang berjudul Umrisse zu einer Kritik der Nationalökonomie (Ringkasan Kritik atas Ekonomi-Politik), ke jurnal buruh emigran Deutsch-Französische Jahrbücher, yang Marx adalah salah satu redakturnya.

Selanjutnya, Marx mengenang risalah ini dalam pengantar Contribution to the Critique of Political-Economy (1859) sebagai sebuah ringkasan brilian kritik atas kategori-kategori ekonomi. Sejak saat itu, keduanya menetapkan pembagian kerja tidak resmi. Marx berkonsentrasi pada studi ekonomi-politik, sedangkan Engels berkonsentrasi pada studi filsafat dan sains.

Ramalan Marx tentang Revolusi Proletar

Salah satu gagasannya yang paling terkenal adalah teorinya tentang revolusi proletar yang tidak terhindarkan di negara-negara industri. Menurutnya, kapitalisme akan menuju kehancuran dan akan digantikan oleh sosialisme. Namun, sejarah telah menunjukkan bahwa ramalan ini tidak sepenuhnya benar.

Kenyataannya, kelas menengah tumbuh pesat dan menjadi lebih makmur di negara-negara industri Barat, dan tidak terjepit dalam kemiskinan seperti yang Marx perkirakan. Selain itu, revolusi yang diharapkan di negara-negara kapitalis Barat tidak pernah benar-benar terjadi.

Sebaliknya, revolusi malah terjadi di negara Dunia Ketiga yang sedang berkembang seperti China, Kuba, dan Vietnam.

Di bangsa-bangsa Eropa sendiri seperti Polandia, Jerman Timur, Cekoslovakia dan beberapa negara lain yang berada di ”Blok Timur”, rezim komunis ditegakkan dengan pola yang sama dengan Rusia.

Baca juga:

Kelemahan yang paling terlihat dalam teori ini adalah determinisme ekonomi, yang memilih proletar industri menjadi kekuatan satu-satunya yang bisa melancarkan revolusi sebagai akibat hukum besi “ekonomi”.

Teori Dasar Marxisme

Pemahaman yang lebih mendalam tentang Marxisme memerlukan pengenalan terhadap elemen-elemen dasarnya, yang mencakup konsep substruktur dan suprastruktur. Marx membagi masyarakat menjadi dua bagian utama: substruktur dan suprastruktur.

Substruktur dalam pemikiran Marx adalah fondasi material masyarakat. Ini terdiri dari dua komponen utama:

  • Kekuatan Produksi

Ini mencakup semua elemen teknis dan alat produksi yang digunakan dalam produksi barang dan jasa. Contohnya termasuk mesin, pabrik, tanah, dan sumber daya alam.

  • Hubungan Produksi

Ini mengacu pada hubungan sosial yang ada di tempat kerja, termasuk hubungan antara pemilik modal (kapitalis) dan pekerja (proletariat).

Menurut Marx, perubahan dalam teknologi dan hubungan produksi adalah kunci untuk memahami perubahan dalam masyarakat. Ketika teknologi berubah atau hubungan produksi mengalami pergeseran, ini dapat memicu perubahan sosial yang signifikan.

Halaman selanjutnya >>>
Muhammad Ridwan Tri Wibowo