Kegiatan Rohis (Rohani Islam) di kampus, seringkali menjadi topik perdebatan di kalangan mahasiswa. Ada yang memuji dan ada pula yang mengkritik. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah peristiwa menunjukkan bahwa kegiatan yang seharusnya bersifat positif ini, justru bisa terjebak dalam paradigma yang destruktif. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mari kita telusuri lebih dalam.
Pertama-tama, kegiatan Rohis di kampus awalnya dimaksudkan untuk memberikan wadah bagi mahasiswa Muslim dalam mengekspresikan keimanannya. Kegiatan ini sering kali mencakup diskusi keagamaan, pengajian, dan berbagai acara spiritual lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, kita mulai melihat munculnya dinamika yang kurang sehat di dalam tubuh organisasi ini.
Salah satu fenomena yang menarik perhatian adalah bagaimana beberapa kegiatan Rohis cenderung mengedepankan eksklusivitas. Kegiatan yang seharusnya inklusif seringkali terkesan menyudutkan kelompok lain, terutama bagi mahasiswa yang non-Muslim atau mereka yang memiliki pandangan berbeda tentang keagamaan. Hal ini bukan hanya menciptakan dikotomi di dalam kampus, tetapi juga merusak konsep toleransi yang seharusnya menjadi landasan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selanjutnya, sering terjadi bahwa dalam upaya untuk memperkuat identitas keagamaan, beberapa anggota Rohis terjebak dalam bentuk ekstremisme. Tindakan ini bisa dimulai dari pengucilan mahasiswa yang tidak sependapat hingga mempromosikan ide-ide yang bersifat radikal. Tragisnya, tindakan ini bukan hanya mencoreng citra Rohis, tetapi juga mengganggu stabilitas sosial di lingkungan kampus. Dalam konteks ini, penting untuk menyoroti bahwa perkara kegagalan dalam mendidik mahasiswa terhadap pemikiran kritis merupakan salah satu akar masalah yang mendasarinya.
Sementara itu, fenomena yang tidak kalah menarik adalah maraknya penggunaan media sosial dalam kegiatan Rohis. Di era digital seperti sekarang ini, informasi dapat menyebar dengan cepat. Sayangnya, banyak konten yang ditayangkan tidak selalu memiliki landasan yang kuat dan malah seringkali mengedepankan informasi yang sensasional. Artinya, informasi yang seharusnya membangun pengetahuan dan kedamaian sering kali justru menjadi bahan bakar untuk konflik. Media sosial seharusnya bisa menjadi alat komunikasi yang positif, tetapi dalam konteks ini, ia berubah menjadi senjata yang menyebar kebencian.
Selain itu, ada pertanyaan mendasar mengenai cara kegiatan Rohis mendefinisikan tujuan mereka. Ketika kegiatan ini lebih fokus pada ritualitas ketimbang substansi spiritual yang lebih mendalam, muncul kekhawatiran bahwa peserta hanya terjebak dalam rutinitas tanpa benar-benar memahami nilai-nilai yang diajarkan. Dalam jangka panjang, ini dapat menyebabkan disorientasi identitas yang serius bagi mahasiswa, mengingat mereka kehilangan pengertian yang lebih besar tentang hidup dan makna dari apa yang mereka lakukan.
Tak hanya itu, dinamika internal dalam organisasi Rohis di kampus juga menjadi sorotan. Kerap kali, ada rivalitas yang tidak sehat antaranggota. Bukan hal yang aneh jika kita mendengar adanya friksi di antara mereka yang memegang posisi pemimpin dan anggota biasa. Rivalitas semacam ini, bila tidak dikelola dengan baik, dapat berujung pada keretakan dalam solidaritas kelompok, merugikan tujuan awal dari pembentukan Rohis itu sendiri.
Dan yang perlu diperhatikan lagi adalah pengaruh luar, baik dari organisasi yang ada di luar kampus maupun dari lingkungan sosial yang lebih luas. Ketika mahasiswa terpapar oleh ideologi-ideologi yang cenderung ekstrem, atau bahkan ketika mereka terlibat dengan individu yang memiliki pemikiran radikal, maka kegiatan Rohis yang seharusnya menjadi sumber pencerahan justru bisa bertransformasi menjadi sarana untuk menyebarkan pemikiran destruktif. Upaya untuk menempatkan kegiatan Rohis pada jalur yang produktif menjadi semakin sukar.
Untuk menggantikan tren destruktif ini, penting bagi pengurus Rohis untuk membangun kembali fondasi kegiatan yang lebih ramah dan inklusif. Penguatan komunikasi antarkelompok dalam kampus tidak hanya akan menghasilkan lingkungan yang lebih kondusif, tetapi juga berpotensi untuk menjembatani perbedaan. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan forum dialog antaretnis dan antaragama, yang tidak hanya menciptakan dialog yang konstruktif tetapi juga memperkaya wawasan mahasiswa tentang multikulturalisme.
Selain itu, pembekalan kapasitas kepada anggota Rohis mengenai pemikiran kritis dan nilai-nilai toleransi menjadi sangat penting. Para pemimpin Rohis harus menyadari bahwa tanggung jawab mereka tak hanya terbatas pada pengajian atau ritual, tetapi juga kepada integrasi sosial di lingkungan kampus. Dengan edukasi yang tepat, kegiatan Rohis diharapkan bisa menjadi sarana untuk membangun karakter yang kuat, cerdas, dan menghargai perbedaan.
Secara keseluruhan, tantangan yang dihadapi oleh kegiatan Rohis di kampus adalah sesuatu yang kompleks. Diperlukan usaha bersama dari berbagai pihak untuk meredefinisi tujuan dan metode dalam berkomunikasi, baik di dalam organisasi itu sendiri maupun dengan masyarakat luas. Hanya dengan cara ini, kita dapat memastikan bahwa kegiatan Rohis bukanlah destruktif, melainkan menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran bagi semua mahasiswa.






