Kegilaan Kreatif Padepokan Puisi Amato Assagaf

Kegilaan Kreatif Padepokan Puisi Amato Assagaf
©PaPuA

Kegilaan kreatif dijalankan dengan imajinasi kreatif yang bersandar pada akal budi untuk mencapai kearifan intuitif.

Ada satu pertanyaan yang tidak pernah aku jawab dengan lengkap, “Apa itu Padepokan Puisi Amato Assagaf?” Bukan karena menghindari penjelasan, tapi karena aku tidak pernah punya pretensi untuk membangun sebuah komunitas yang sekali jadi. Padepokan, dalam lebih dan kurangnya, harus pula sebuah proses.

Dalam hal ini, seperti namanya, Padepokan harus menjadi puisi. Bukan teka-teki yang selesai sekali telah terpecahkan, tapi kehadiran yang senantiasa membutuhkan tafsiran. Dalam hal ini, seluruh bagian Padepokan seharusnya ikut dalam proses memberi jawaban terhadap pertanyaan di atas.

Aku mendirikannya dengan beberapa dasar yang tetap, tapi juga aku letakkan di dalam kerangka yang selalu mungkin untuk berada dalam proses menjadi tanpa henti. Dengan demikian, setiap bagian, setiap orang dan setiap peristiwa dalam dan terkait Padepokan selalu mungkin untuk membentuk komunitas ini.

Salah satu dasar tetap dari Padepokan yang sudah diketahui oleh mereka yang pernah berada di dalamnya dalam lima tahun ini adalah kegilaan kreatif yang tanpa batas. Aku biasa menyebutkannya dalam berbagai konteks berbeda dengan kata dan istilah yang juga berbeda-beda, tapi dalam satu pengertian yang sama, kegilaan kreatif.

Kegilaan kreatif dijalankan dengan imajinasi kreatif yang bersandar pada akal budi untuk mencapai kearifan intuitif. Kami memanfaatkan pencapaian artistik dan intelektual dari dunia Barat, khususnya Eropa, sebagai titik berangkat. Karena kami percaya, dalam cara yang sekira unik, bahwa secara artistik dan intelektual, apa yang disebut Barat, terutama Eropa, adalah Timur in disguise.

Maksudnya, dikotomi Barat-Timur dalam kerangka pikir Padepokan adalah ilusi yang kami seriusi sebagai candaan. Kami seriusi karena, secara artistik dan intelektual, apa yang disebut Barat dan Timur itu memang ada, tapi ia juga menjadi bahan candaan kami karena sifatnya yang ilusif bagi realitas pergumulan dan saling pengaruh antara satu dengan yang lain.

Kami selalu takjub pada keseriusan orang-orang yang menjelaskan perlunya kita meninggalkan Barat dengan metode eksplanatif yang sungguh sangat Barat. Orang-orang yang mengecam Barat dengan kritisisme dan, bahkan, kosakata yang sungguh sangat Barat. Tak heran, bagi kami di Padepokan, keseriusan semacam itu kerap menjadi candaan.

Pada satu tahun terakhir ini, melanjutkan gairah pribadiku mempelajari Esoterisisme Barat, bersama beberapa anak Padepokan, aku menggiatkan proyek pencarian spiritualitas Nusantara bagi sebuah Indonesia yang lebih utuh. Dan, tanpa rasa ragu, aku selalu mengingatkan mereka bahwa kita akan melakukan itu pertama-tama dengan metode dan perangkat yang telah disediakan bagi kita oleh pencapaian artistik dan intelektual dari dunia Barat, terutama Eropa.

Maka kami tidak menganggap itu sebagai kontradiksi, tapi lebih sebagai sebentuk dialektika. Jika Barat menjadi Barat karena Timur a.k.a Barat sebagai Timur in disguise, maka spiritualitas Nusantara yang kita anggap sebagai Timur akan menjadi medan konseptual bagi sesuatu yang bisa kita andaikan universal.

Itu sekadar cerita. Lebih dari cerita, aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku tidak pernah merasa keliru dengan segala ajaran yang telah aku sebarkan di Padepokan. Tapi, pada saat yang sama, aku juga ingin bilang bahwa, setelah lima tahun, tak ada yang paling terasa gagal dipahami oleh mereka yang telah bersamaku di dalam Padepokan seperti dasar itu, kegilaan kreatif.

Baca juga:

Dalam konteks ini, aku khawatir bahwa, lewat Padepokan, aku hanya mampu menciptakan orang-orang yang sinis terhadap realitas yang memang tidak bersahabat dengan elan kegilaan kreatif itu. Aku khawatir bahwa aku hanya menambah lebih banyak lagi anggota kelas menengah ngehe di republik ini.

Kelas orang-orang yang tidak lagi bisa membedakan antara bersikap kritis dengan semata nyinyir. Orang-orang yang fasih mengucapkan berbagai jargon artistik dan intelektual untuk menutupi ketidakmampuan mereka berbuat sesuatu berdasarkan kegilaan kreatif itu. Atau aku mungkin keliru.

Mungkin aku hanya fajar yang tak sabar menunggu mereka bangun. Tapi jika memang benar begitu, aku tetap saja tak salah untuk terus memutar roda proses penjadian Padepokan. Memungkinkannya untuk berubah ketika memang itu benar dibutuhkan. “Aku adalah dinamit,” kata Nietzsche. Aku juga.

Dan, sebagai dinamit, pada saatnya nanti aku akan meledak. Aku hanya tak ingin, ketika aku meledak, mereka yang bersamaku di dalam Padepokan hanya akan menjadi korban paling sial dari ledakan itu. Lima tahun adalah proses yang sudah cukup panjang jika dimaksudkan untuk membuat evaluasi awal atas kemungkinan buruk dari ledakan itu.

Mereka harus tahu bahwa merasa dekat denganku tidak sama dengan menjadi anak Padepokan. Mereka harus tahu bahwa aku dan “Amato Assagaf” di dalam nama Padepokan, pada saatnya nanti, harus dibedakan. Yang satu adalah manusia dengan daging dan darah, yang lain adalah puisi untuk mengingatkan mereka, juga aku, bahwa ada yang harus terus bergerak dalam sebuah proses yang tak jarang begitu menyakitkan.

Proses belajar dalam laku pencarian akan kearifan intuitif dengan perangkat imajinasi kreatif – kegilaan itu – berdasarkan penghormatan atas akal budi yang menjadikan kita manusia dalam arti yang paling harfiah dari kata itu. Dan kita tak bisa belajar jadi gila dengan menunda kegilaan itu dalam keseharian kita. Itu bukan hanya mustahil, tapi juga konyol.

Karena itu, anak Padepokan yang sesungguhnya tidak hanya memahami kegilaan itu, mereka mengalaminya.

    Amato Assagaf