Kehamilan di Luar Nikah dan Pentingnya Kesehatan Reproduksi pada Remaja

Kehamilan di Luar Nikah dan Pentingnya Kesehatan Reproduksi pada Remaja
©Orami

Remaja merupakan masa di mana ada peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Berdasarkan UU No. 35 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 25 Tahun 2014, batas usia remaja antara 10 sampai 24 tahun dan belum menikah.

Masa remaja adalah masa di mana sang anak mencari jati dirinya dan mulai mengenal lawan jenis. Secara biologis juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan bila laki-laki mulai tumbuh kumis, jakun, rambut di sekitar kemaluan, mimpi basah, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan perempuan, juga mulai tumbuh seperti payu dara, panggul, menstruasi, dan mimpi basah.

Di usia remaja seperti ini sangatlah penting untuk mengedukasi para remaja akan pentingnya kesehatan reproduksi agar mereka senantiasa menjalankan pola hidup sehat. Kesehatan reproduksi pada remaja merupakan suatu kondisi sehat, baik secara fisik maupun psikis.

Di usia remaja seperti ini juga sangat penting untuk memperhatikan pergaulan antar-lawan jenis. Salah pergaulan akan menjerumuskan langkah hidup remaja pada kebiasaan yang tidak baik, seperti kasus yang sering terjadi pada remaja akibat pergaulan bebas ialah kehamilan di luar nikah, minum minuman keras, mabuk, judi, melakukan pelecehan seksual, suka berbohong, bolos sekolah, pakai narkoba atau sabu, berani melawan orang tua atau guru.

Masih banyak lagi penyimpangan sosial yang dilakukan pada usia remaja akibat pergaualan bebas. Hal semacam ini sudah semestinya dicegah sejak dini agar jalan hidup mereka tetap berada di jalan yang benar.

Marilah sekarang kita analisis salah satu kasus di atas. Di sini saya mengambil kasus kehamilan di luar nikah yang sering terjadi pada usia remaja.

Bila kita membaca berita koran atau menonton TV atau YouTube, kita akan melihat adanya kasus kehamilan di luar nikah yang dialami oleh remaja usia SMP-SMA, entah itu dilakukan sesama teman kelas, kakak kelas, adik kelas, anggota keluarga atau tetangga, yang jelas kasus semacam itu sering kita lihat. Akibatnya, si korban sering mengalami trauma berat dan menjadi terganggu mentalnya.

Belum lagi mendapatkan tekanan dari keluarga, tekanan psikologis, putus sekolah, dikucilkan masyarakat, perasaan malu, dan biasanya menjadi mudah marah atau mengampuk. Artinya, emosinya tidak terkendali. Kadang kala ada yang berbuat aborsi agar tidak ketahuan aibnya.

Baca juga:

Perlu kita perhatikan bahwa kehamilan di usia yang masih dini itu sangat berisiko, baik untuk bayi ataupun ibu bayi, karena secara biologis tubuh belum siap dibuahi dan akhirnya sering terjadi kematian ibu dan bayi. Secara fisisk, si perempuan belum siap mengandung dan ini bisa berakibat fatal nantinya.

Secara psikologis mungkin juga belum siap menjadi ayah atau ibu. Maka kesehatan reproduksi sangat penting untuk kita perhatikan. Seringnya tidak mempertimbangkan dampak kehamilan dini berakibat sangat tragis akhirnya. Kini perempuanlah yang menjadi korbannya.

Peran gender juga sangat penting di situ di mana antara laki-laki dan perempuan saling bekerja sama bukan malah saling menjatuhkan. Sebagai laki-laki jantan sudah semestinya dia bertanggung jawab atas kehamilan yang dialami oleh pasangannya, bukan malah meninggalkan dan tidak bertanggung jawab.

Sering kali kita menyaksikan itu apabila si laki-laki mengahamili ceweknya biasanya tidak mau bertanggung jawab. Pelarian dari tanggung jawab adalah suatu perbuatan yang tercela. Berani berbuat sudah sepatutnya berani bertanggung jawab.

Mengedukasi kesehatan reproduksi pada remaja sangatlah penting agar mereka menjaga diri dari hal-hal yang tidak dinginkan. Menjalankan pola hidup sehat sudah menjadi sebuah keharusan.

LSM dan aktivis perempuan saya kira juga sudah sering mengampayekan untuk hidup sehat dan reproduksi sehat. Sebagai orang tua juga sangat penting untuk menjaga putra-putrinya agar tidak salah pergaulan dan terjadi hal-hal yang menyimpang.

Sejak dini orang tua harus mengarahkan anak-anaknya ke kegiatan yang positif, misalnya dikursuskan musik, main sepak bola, main piano, les mata pelajaran, dan lain sebagainya. Dukungan postif dari orang tua tersebut tentu dengan sendirinya akan membentuk karakter si anak. Selain itu, orang tua juga perlu memberikan contoh yang baik sebab seorang anak akan meniru dan mencontoh orang tuanya.

Baca juga: