Kehampaan Spiritualitas

Kehampaan Spiritualitas
Ilustrasi: Sampul Buku

Akibat terlalu mengagungkan rasio, penyakit kehampaan spiritualitas mudah menghinggapi manusia modern.

Kemajuan yang begitu pesat pada wilayah ilmu pengetahuan dan rasionalisme tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok manusia dalam aspek nilai-nilai transenden, satu kebutuhan vital yang hanya bisa digali dari sumber ilahiah melalui pengkajian dan pengamalan esoterik. Landasan epistemologis yang paling primordial ini menentukan karakter rohani dari kehidupan manusia.

Teori psikologi trans-personalisme kembali menjadi kajian serius dalam pengembangan dunia spiritualitas yang berfungsi memberikan pencerahan dan makna kehidupan. Dalam kenyataan ontologis, manusia adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman fisik, dan bukan makhluk fisik yang memiliki pengalaman spiritual.

Hal ini menjadikan spiritualitas sebagai aktivitas yang sebenarnya alamiah dalam kehidupan manusia. Namun demikian, kealamiahan itu bukan serta-merta tidak menimbulkan masalah. Pasalnya, penyakit kehampaan spiritual manusia modern menjadi kenyataan yang begitu kering akan kondisi-kondisi alamiah tersebut.

Spiritualitas, menurut Ibn ‘Arabi, adalah pengerahan segenap potensi rohaniyah dalam diri manusia yang harus tunduk pada ketentuan syar’i dalam melihat segala macam bentuk realitas, baik dalam kehidupan empiris maupun dalam dunia meta-empiris. Ibn ‘Arabi memberikan jalan bagi kita tentang bagaimana menyikapi dan mengelola kehidupan material.

Di era modern, sering kali satu bentuk kemajuan teriringi dengan satu bentuk kemunduran. Kemajuan rasionalisme menjadikan spiritualisme menjadi mundur. Padahal, dua hal ini tidak bersifat oposisif, melainkan satu bentuk kriteria yang harus ada dalam segenap kehidupan umat manusia.

Buku ini memiliki arti penting dalam melakukan konektivitas pemikiran spiritual Ibn ‘Arabi dalam mencari jawaban atas kekeringan spiritual di era modern ini yang penuh dengan sifat-sifat materialisme, skeptisisme, dan dogmatisme kaku sebagaimana kaum fundamentalisme lintas iman.

Bukan sesuatu yang wajar jika kita katakan gejolak kemunduran spiritual ini sebagai prestasi kemajuan di era modern. Kenyataannya, kehampaan spiritual manusia modern membuat mereka kehilangan arah, orientasi kehidupan yang sempit, dan pandangan dunia yang terlalu mengedepankan sifat ke-material-an segala sesuatu.

Sebagai jawaban atas problem kekinian yang akut, kita semestinya belajar dan menengok masa lalu guna mencari titik temu atas kehidupan panjang yang bergejolak ini. Sebagai satu alternatif, penulis buku ini menawarkan pemikiran spiritualitas Ibn ‘Arabi dan menjadikannya kontekstual untuk kita hari ini.

Spiritualitas

Sebagai suatu tawaran penting, Ibn ‘Arabi membagi spiritualitas dalam tiga karakteristik. Pertama, spiritualitas sebagai gerakan psikologis yang senantiasa berorientasi ke-Ilahi-an.

Baca juga:

Gerakan ini muncul dari satu keyakinan yang teguh dalam melihat ke-Esa-an Yang Maha Mutlak wujudnya. Dia sebagai sumber, sekaligus sebagai objek inspirasi, bahkan sebagai sentra orientasi. Keyakinan semacam ini haruslah menjadi prinsip dasar dalam beragama.

Gerakan ke-Ilahi-an ini harus bergerak pada dua arah sekaligus, seperti ungkapan Ibn ‘Arabi yang indah:

Mengetahui kemajemukan makhluk dalam kesatuan, dan menyaksikan kesatuan di dalam kemajemukan makhluk, dengan tajjalinya: Yang Maha Esa pada yang banyak, dan yang banyak pada Yang Maha Esa.

Kedua, spiritualitas sebagai gerakan integralistik. Tidak hanya sebatas fenomena psikologis, tetapi juga sebagai perwujudan ketaatan totalitas potensi insaniah kepada syar’i dalam satu tujuan, yakni beribadah kepadanya. Dengan demikian, antara syariat dan hakikat memiliki hubungan integralistik yang tidak bisa terpisahkan seperti dua jiwa yang bersatu di hadapan cinta.

Ketiga, spiritualitas sebagai gerakan nilai. Nilai itu menjadi sikap moral positif, yang mengaktualisasikan penciptaan fitrah manusia sebagai citra Allah dalam bentuk penampilan manusia yang berakhlak dengan akhlak Allah. Bagi Ibn ‘Arabi, pemaknaan spiritualitas akan menyalahi, bahkan akan merusak nilai kemanusiaan jika unsur-unsur potensi batin dalam diri manusia mengabaikan aspek-aspek mendasar dalam perjalanan spiritualitas.

Halaman selanjutnya >>>

Rohmatul Izad
Latest posts by Rohmatul Izad (see all)