Kehidupan Sosial yang Terkalahkan

Kehidupan Sosial yang Terkalahkan
©Liputan6

Setiap perkembangan peradaban manusia tentunya memiliki konsekuensinya masing-masing. Konsekuensi tersebut di lain sisi terjadi perkembangan, di sisi lainnya terjadi kemerosotan atau terkikisnya nilai yang berakar pada masyarakat.

Keadaan ini merupakan sebuah siklus kehidupan, di mana kehadiran sesuatu hal menggeser hal lainnya karena manusianya meninggalkan keadaan lama dan berimigrasi kepada keadaan yang lebih jauh dari sebelumnya.

Itu dapat kita lihat pada perkembangan teknologi yang begitu masif. Dulu kita benar-benar merasakan bagaimana kehidupan manusia sangat bergantung kepada alam, alat-alat tradisional, hewan seperti kerbau untuk membajak sawah, dan sebagainya.

Saat panen tiba, biasanya dilakukan gotong royong untuk membantu agar pekerjaannya lebih mudah dan cepat diselesaikan.

Bagi masyarakat yang merasakan kehidupan yang setiap malamnya bergelut dengan lampu minyak tanah pastinya merasakan betul bagaimana perkembangan hadir. Begitu pun dengan para pelajar yang belajar masih menggunakan mesin tik, membuat spanduk dengan menggunanak kertas minyak dan sebagainya.

Kini hal demikian telah ditinggalkan dan semua keadaan tersebut telah ditinggalkan serta mengikuti kemajuan teknologi. Kemajuan tersebut tentunya menjadi sebuah keberkahan bagi peradaban manusia. Namun di balik itu, tercipta budaya yang menginginkan keadaan yang serba instan.

Akibatnya tercipta keadaan yang serba terburu-buru tanpa menikmati semua proses kehidupan yang ada. Di balik terbantunya kehidupan manusia dengan perkembangan teknologi, di saat itu pula tercipta kehidupan sosial masyarakat yang tidak lagi autentik.

Kehidupan autentik yang dimaksud ialah bagaimana kehidupan sosial yang benar-benar real terjadi di lingkungan masyarakat, interaksi antar masyarakat sosial terjadi. Justru sebaliknya, kehidupan sosial bukan lagi berada di dunia nyata, melainkan sudah berpindah kepada kehidupan media sosial.

Baca juga:

Artinya manusia lebih empati di dunia maya dibandingkan realitas; manusia lebih menunjukkan siapa dia sebenarnya di dunia maya dibandingkan di realitas. Hal demikian justru akan menghasilkan kehidupan yang serba terburu-buru dan tidak memiliki makna.

Inilah yang diungkapkan oleh F Budi Hardiman seorang Dosen Filsafat bahwa manusia yang dulunya disebut sebagai homo sapiens, kini berubah menjadi homo digitalis. Semua kegiatan sosial manusia beralih kepada kehidupan digital.

Olehnya itu Fahruddin Faiz mengatakan bahwa akibat dari keadaan tersebut, terjadi keresahan pada setiap individu akan kehidupan saat ini. Munculnya ketidakpastian hidup menjadi salah satu aspek terjadinya kemerosotan kehidupan sosial masyarakat.

Menurut Fahruddin Faiz, keadaan masyarakat kita saat ini lebih mementingkan tindakan daripada makna tindakan. Contoh seorang yang berkomunikasi, ia akan menganggap bahwa komunikasi yang dilakukan sudah benar dan tepat, namun ia tidak memikirkan bagaimana makna komunikasi tersebut.

Kita kadang terburu-buru dengan sesuatu hal. Akibat dari keterburu-buruan tersebut, kita hanya mementingkan tindakan yang dilakukan tanpa melihat makna dan bagaimana kehidupan sosial menerimanya.

Kehidupan sosial kita akhirnya terkalahkan dengan egoisme individu yang lebih mementingkan kulit luar dibandingkan dengan isinya. Bayangkan saja orang akan merasa hadir pada seseorang yang mengalami kedukaan atau kesedihan dengan membuat komentar atau instastory di media sosialnya, dibandingkan dengan mengucapkan secara langsung.

Karena paradigma yang terbangun ialah ketika seseorang sudah memunculkan dirinya pada kehidupan maya, maka ia sudah dianggap peduli dan respons terhadap saudaranya. Begitu pun dengan membagikan informasi yang terburu-buru, akan timbul kebanggaan jika informasi tersebut disebarkan dan kita menjadi orang pertama yang menyebar informasi tersebut.

Halaman selanjutnya >>>
    Asman