Kejahatan dan Falsafah Dou Gai Ekowai

Karena itu, ekowai mesti memperhatikan juga yang lain yang karena konsekuensi dari bekerja bisa berhasil atau gagal dan merugikan diri sendiri dan yang lain.

Kejahatan dan Falsafah Dou Gai Ekowai

Salah satu kasus yang masih hangat diperbincangkan saat ini adalah mutilasi 4 warga sipil oleh 10 orang, 6 TNI dan 4 warga sipil. Kejadian sadis ini terjadi di Timika pada Senin, 22 Agustus 2022. Kasus ini memberikan laporan buruk bahwa negeri ini akrab dengan kejahatan.

Sangat ironis bahwa kejahatan luar biasa (extraordinary crime) difasilitasi dan dieksekusi oleh mereka yang mestinya melindungi dan memberikan keamanan untuk negara, untuk warga negara. Pengawal negara seyogianya menjalankan amanatnya seturut fungsinya yakni mengayomi, melindungi masyarakat dari berbagai kejahatan.

Hemat saya, deretan kejahatan di negara kita diakibatkan oleh kecurigaan di antara sesama warga negara. Kecurigaan yang tak teratur berujung pada kejahatan yang paling mengerikan.

Kita tentu bertanya, dari mana sumber munculnya rasa kecurigaan mendalam di antara sesama warga negara? Mungkin saja akar masalahnya ialah kurang adanya kepercayaan di antara sesama manusia. Kurangnya trust melahirkan kecurigaan. Dampaknya ialah saling membunuh dan memarginalkan satu sama lain.

Dari perspektif falsafah suku Mee, pertanyaan yang diajukan ialah, bagaimana penjaga keamanan negara melihat (dou), memikirkan (gai), dan bekerja (ekowai) untuk negara? Mereka mesti melihat dengan mata kritisme dan cinta kasih.

Melihat menjadi bagian dari pengalaman perjumpaan untuk bisa mengetahui keadaan yang lain. Jika yang lain itu dalam koridor dou (melihat) dipandang sebagai yang lemah (warga sipil yang tidak memiliki kekuasaan), maka mesti mendapatkan perlindungan hukum dan perlakuan penuh perhatian yang egaliter.

Sesudah melihat, yang dibutuhkan ialah pertimbangan logis. Alat negara membutuhkan gai, memikirkan secara radikal apakah amanat yang saya jalankan ini sesuai mekanisme yang berlaku atau menyeleweng; dan sudah sejauh mana kehadiran saya berdampak positif bagi orang lain.

Baca juga:

Apakah saya akan memusnahkan atau melindungi yang lain jika saya melihat dan berpikir tentang mereka sebagai penghalang atau musuh? Apakah saya memperjuangkan kepentingan pribadi dalam usaha menjalankan kewajiban dan tugas pokok militer?

Secara radikal, penulis melihat bahwa ‘kerinduan’ untuk memusnahkan yang lain diakibatkan karena minimnya pengetahuan. Kekurangan ini sangat memengaruhi seseorang dalam bertindak, khususnya dalam tiga aspek penting ini, melihat (dou), berpikir (berpikir), dan cara kita bekerja (ekowai).

Pengetahuan yang minim turut memproduksi kejahatan. Karena itu, bisa jadi kita tidak melihat, berpikir, dan bekerja sesuai harapan keadilan sosial. Akibat yang lebih fatal, kita melihat yang lain sebagai obyek yang harus diperlakukan secara brutal dan disingkirkan. Ada baiknya jika kita memodali diri dengan sebanyak mungkin pengetahuan dan belajar dari kearifan pandangan hidup budaya yang mengutamakan harmoni.

Akhirnya, dari keterangan falsafah suku Mee, dapat dikatakan bahwa berbagai peristiwa tragis muncul karena hidup tidak dituntun oleh kekuatan dou, gai, dan ekowai yang sungguh-sungguh memperhatikan peradaban bersama untuk saling memandang satu sama lain sebagai saudara, berpikir dengan kritis dan berani, serta bekerja penuh pengorbanan untuk keadilan sosial dan kebaikan bersama.

Sebastianus Iyai
Latest posts by Sebastianus Iyai (see all)