Kejenuhan Dunia Gerakan Mahasiswa

Kejenuhan Dunia Gerakan Mahasiswa
Aksi GMNI | Titiknol

Kedewasaan berpolitik dan berdemokrasi di tanah air semakin membaik. Hal ini sangat dirasakan ketika suksesnya Pilkada Serentak tahun 2015, 2017, dan 2018. Rakyat Indonesia semakin mampu membaca realitas di balik banyaknya percaturan isu yang dilakukan oleh para elite. Hal ini sangat baik bagi perkembangan Indonesia menuju negara maju.

Pemilu serentak 2019 merupakan fase penting bangsa Indonesia menuju keadaban politik yang lebih tinggi. Namun yang masih jauh lebih penting adalah menakar kesiapan gerakan mahasiswa dalam menyikapi perkembangan tersebut.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Pemilu adalah ajang yang sangat praktis. Mahasiswa sebagai agen perubahan harus menemukan format terbarunya untuk meresponsnya.

Jika dirunut dari fase Orde Lama hingga pasca-Reformasi, tampaknya pergerakan mahasiswa mengalami penurunan kualitas idealisme. Bahkan seakan-akan ada pihak yang menuduh mahasiswa menerapkan standar ganda dalam menyikapi satu isu.

Memang tidak dapat dimungkiri bahwa ada-ada saja mahasiswa yang memiliki pandangan nyentrik tentang suatu kondisi praktis. Di lain sisi ingin terlihat idealis, namun di sisi lain ingin turut menikmati langsung kondisi praktis tersebut.

Fondasi dan ideologi pergerakan seharusnya tidak statis menyikapi realitas ini. Sanksi dan reward mungkin perlu diterapkan bagi mahasiswa yang menolak sejalan dengan ketentuan organisasi. Karena pada umumnya, hampir seluruh organisasi mahasiswa menekankan tentang idealisme dan menolak politik kotor.

Pemilu serentak 2019 ini akan menjadi ajang penting bagi mahasiswa menjaga sikap. Karena diharapkan mahasiswa mampu mencerdaskan rakyat tanpa menggunakan atribut-atribut caleg atau capres tertentu.

Memang sungguh aneh jika ada oknum yang sangat latah berbicara keadilan, sementara bersikap berat sebelah, bahkan condong mendukung capres tertentu. Ganda Sihite yang merupakan Ketua GMNI Universitas Riau menilai ada kegagalan beberapa orang melihat momentum politik praktis saat ini. Di tengah hiruk-pikuk ujaran kebencian, seakan-akan ada sikap ingin mencari panggung dari capres tertentu, padahal seyogianya hal itu tidak perlu terjadi.

GMNI sebagai organisasi progresif revolusioner mengharapkan para kader untuk tetap setia kepada Pancasila. Tetap mengedepankan persatuan. Jikapun ada pilihan-pilihan politik praktis berbeda, hal itu patut dimaklumkan. Sebagaimana prinsip Pemilu adalah jujur adil langsung dan bersih, seharusnya prinsip itu juga melekat di mahasiswa.

Ditambahkan oleh Iman Munandar, yang merupakan mantan Presidium Pusat GMNI. Bahwa ada kejenuhan dunia gerakan mahasiswa saat ini. Sehingga hal praktis cenderung menjadi pilihan para aktivis mahasiswa.

Sebagai contoh, jika mahasiswa membawa independensinya ke dalam politik praktis, otomatis ini mencederai kecerdasan dan netralitas mahasiswa. Sangat disayangkan jika karena pribadi seorang pimpinan organisasi mahasiswa menjual idealisme kepada kepentingan politik lima tahunan.

Ganda Sihite mengharapkan para pimpinan organisasi mahasiswa di Pekanbaru bersikap netral dalam hajatan politik praktis lima tahunan ini. Sebaiknya pimpinan organisasi mahasiswa fokus melakukan penguatan pengkaderan, mempersiapkan distribusi kader, menyikapi isu-isu di kampus dan isu-isu kerakyatan, serta pengembangan kapasitas kepemimpinan kader.

GMNI akan senantiasa memberikan sikap yang netral terhadap setiap hajatan politik praktis. Kami tidak berburu panggung politik praktis, apalagi mencari keuntungan kelompok. Bagaimanapun, GMNI tetap akan mengkritisi pemerintah jika dianggap tidak berhasil melakukan pembangunan.

*Press release GMNI Hukum UNRI