Kekaburan Wilayah Politik

Kekaburan Wilayah Politik
Ilustrasi: brittanyconstable.com

Wilayah politik saat ini sudah terlihat jelas kekaburannya. Kita sebagai pembaca juga merasakan hal tersebut.

Kadang kita menemukan teman kita yang bersikeras membawa ideologi politiknya secara tak sadar. Yang parah justru seseorang yang mengeluarkan ideologi politiknya secara terang-terangan tanpa memikirkan dampaknya dalam jangka panjang.

Socrates dan Rakyat Athena

Kekaburan wilayah politik sudah dimulai sejak Socrates terkena dakwa dan disidang oleh rakyat Athena, Yunani. Menariknya, Socrates menyadari bahwa kebijaksanaan itu adalah sia-sia dalam politik.

Namun, semangat Socrates masih hidup dalam menyiarkan betapa petingnya kebijaksanaannya itu. Alhasil, dia disidang karena telah menodai kaum pemuda dengan doktrin kebijaksanaannya.

Ada dua hal yang berlawanan di saat era demokrasi Socrates. Itu merupakan kebebasan berpendapat dan kehidupan politik.

Ini yang menurut penulis menjadi kekaburan di dalam wilayah politik. Dan ini adalah hal yang sangat ambigu. Ketika kita menyebarkan apa yang kita yakini itu benar, seperti filsafat, sampai mana batasan kita dalam menyuarakannya?

Ada juga analogi Socrates tentang kekaburan ini. Di dalam School of Life, sangat menggambarkan analogi ini. Analoginya terdiri dari dua orang untuk dipilih dalam memimpin mereka (para calon pemilih) nantinya.

Dua orang tersebut ialah seorang dokter, dan seorang pemilik toko manisan. Mereka menyuarakan diri mereka masing-masing. Yang tentunya akan berat sebelah, dan dimenangkan oleh si pemilik toko manisan tersebut.

Dia sudah tahu bagaimana mencari pelanggan dan juga menarik mereka sebagai pemilihnya. Yang mungkin lebih parahnya lagi ketika si pemilik toko ini akan menjelek-jelekkan si dokter tersebut bahwa apa yang dokter lakukan akan selalu sakit awalnya. Padahal itu demi kebaikan calon pemilih itu sendiri.

Jika kita mengaitkan hal ini dengan realitas kekinian, kita akan menemukan beberapa hal yang sama. Misalnya, para partai politik akan sibuk seperti pemilik toko tersebut agar bagaimana orang percaya dengan daya tarik yang dimiliki parpol tersebut.

Bahkan, yang lebih menariknya lagi, ada yang menyuarakan diri mereka sendiri tanpa dukungan partai politik apa pun. Apakah memang sebaiknya tidak ada partai, dan yang ada hanya beberapa calon pemimpin?

Apakah Tulisan Juga Termasuk Wilayah Pengaburan?

Pertanyaan ini juga menarik bagi penulis. Kita sebagai pembaca tentunya mengalami kekuatan politik ini, apalagi dengan adanya ujaran kebencian di beranda akun sosial media kita.

Menurut Paul Ricoeur, salah seorang pakar hermeneutika, di dalam bukunya teori interpretasi, dia menggambarkan mengapa tulisan itu begitu kabur.

Pertama, tulisan akan menghilangkan bahasa praktis seperti suara dan gerak gerik badan. Ini menjadi kekaburan yang sangat terlihat di media sosial saat ini.

Sebagian orang bisa marah hanya dengan tulisan yang dibagikan. Menurut Michael Foucault sendiri, itu merupakan bagian dari wacana, tapi wacana bukanlah sesuatu yang real.

Lihat juga: Partai Politik dan Kecenderungan Oligarki dalam Birokrasi

Bagi Michael Foucault, di dunia ini yang berlangsung hanyalah interpretasi. Wacana akan berbeda dari fakta. Itulah sebabnya mengapa Michael Foucault sangat terkenal dengan ilmu wacananya. Karena di dalam wacana, ada kekuasaan tertentu yang sedang berlangsung.

Kedua, tulisan tidak memiliki lawan bicara. Ini berarti ketika kita menulis dan dilihat oleh semua orang. Apa yang kita tulis itu sudah masuk ruang publik.

Berbeda pada saat kita berdialog. Saat kita berbicara, lawan bicara kita sudah jelas sehingga pesannya mudah sampai. Namun, dalam dunia tulisan, kita harus berhati-hati.

Tulisan tak memiliki lawan bicara. Ini biasanya dipakai oleh media massa yang sering digunakan oleh kepentingan partai tertentu. Mereka (media massa) memberitakan apa yang seharusnya real, akan tetapi karena sifat tulisan yang mengaburkan lawan bicaranya, mereka yang bias akan menyalahgunakannya.

Feminisme

Gerakan kaum wanita tentunya sangat jarang dibahas di media-media sosial. Namun, kalau kita mengkaji gerakan wanita ini akan lebih jelas memperlihatkan kekaburan wilayah politik.

Misalnya, suara wanita akan berhenti di wilayah privat. Wilayah privat yang dimaksud di sini adalah seperti keluarga. Inilah alasannya mengapa kebanyakan suara wanita terhenti di wilayah privat sehingga kerap kali kekerasan wanita jarang terdeteksi. Feminisme tentunya akan menyuarakan suara wanita agar terlepas dari wilayah privat ini.

Di dalam dunia politik, ini akan terlihat jelas gambaran besar dari contoh gerakan feminisme. Di Athena dulu sezaman Socrates, dikotomi privat dan publik terlihat jelas, apalagi pada saat pemilihan umum. Pada saat pemilu mereka wajib memilih, tapi tidak ada kaitannya dengan privat.

Nah, dengan adanya suara feminisme, privat dan publik menjadi kabur dalam wilayah politik. Bisa dikatakan privat sudah terpublikkan. Namun, inilah yang makin jelas, kebebasan individu semakin dijaga di dalam wilayah politik walaupun itu mungkin mengaburkan kedua wilayah tersebut, privat dan publik.

Dari ketiga indikasi di atas, telah memperlihatkan bahwa wilayah politik makin kabur di era ini, baik itu dimulai dengan kebijaksanaan ala Socrates maupun ide Paul Ricoeur tentang tulisan, dan juga gerakan Feminisme yang sangat radikal dalam menjelaskan perbedaan wilayah publik dan privat. Di era yang bebas ini, marilah kita bernalar dalam politik!

___________________

Artikel Terkait: