Kelak Jika Boleh Kusebutmu Mariam

Kelak Jika Boleh Kusebutmu Mariam
©Donna

Kelak jika boleh kusebutmu Mariam…..

Pagi-pagi sekali, sekali-sekali ia jelma jadi wanita tua rupawan dengan bibir-bibirnya yang tak sempat jadi ranum lagi. Apalagi berharap dengan kemolekan tubuhnya, toh rambut juga barisan giginya telah terlalu sering menua di hadapan sirih pinang*.

Siapa yang tahu kehidupannya atau siapa yang hafal alur hidupnya sejak pagi hinggap larut malam atau malam hingga pagi?

Hanya saja, pagi ini saya begitu paham bahwa ia telah jelma jadi tua dan begitu tua untuk sesama usianya. Orang-orang di kampung halamanku sering kali menertawai setiap kali kakinya nyaring menjerit atau jika tubuhnya mulai menampakkan diri di jalanan kompleks kampung kami. Dan semasa kecil dulu aku juga selalu tak bisa diam pada mulutku atau tak bisa kedip menutup mata. Toh suasana kampung begitu ramai berhamburan tawa dan kata-kata yang saat ini aku tahu artinya sebagai cibiran.

Kelak jika boleh kusebutmu Mariam….

Jalan kampungku masih belum tersentuh aspal. Tinggal kepingan-kepingan rabat yang terlalu tua hancur lebur disentuh air-air sewaktu musim hujan.

Detusoko*, sebuah daerah terpencil dengan ribuan kenangan dan kisahnya yang rapi di-diary-kan dalam ingatanku. Kampung kecil dengan segala kedamaian alam dan sangat jauh dari kebisingan ibu kota tempat segala asa berdiri dan juga tempat sagala mimpi mulai berjalan.

“Selamat jalan”, suatu sore hari terasa begitu lama dan manja. Ribuan pohon yang tercecer di antara gunung-gemunung. Dan bukit kian rindang dan ranum memberi senyum rekahan senja yang belum juga tampak dalam segala ketampakannya yang jadi tampan bisa jadi karena terlalu familiar jika gunakan manis dan begitu cantik.

Sayangya semesta tak dapat dipahami oleh seisi bumi yang lepas bebas tertawa sambil bisik-membisik kebiasaan para ibu dan gadis-gadis di kampung. Kalian ingat ungkapan ini, “di mana satu dua orang perempuan berkumpul atas nama mereka, di situ barang pasti gosip jadi idaman topik terhitz dan terlaris.” Kalau-kalau dalam topik semua berita, saya bayangkan topik itu jadi headlines dalam kolom pertama surat kabar apa pun.

Kelak jika boleh kusebutmu Mariam……

Rindu, itu nama seorang tua yang sering jadi tawa-an di lorong-lorong perkampungan. Sepanjang jalan hari-harinya adalah menghitung luka kenangan yang tak mampu kita pahami dalam ingatannya.

Ibu dan Ayahku selalu sering menyinggahi ia dalam rumahku sebisa mungkin memberi kenyamanan baginya dan memberi segelas kopi sering juga aku lihat ayah dan ibuku selalu meladeni segala permintaannya. Waktu kecil, ketika ia lewat, sudah pasti aku dan teman-teman seusiaku akan lari terbirit-biring bersembunyi di balik punggung kedua orang tua kami masing-masing. Jika tidak, kamar akan menjadi tempat favorit permainan petak umpet dari ia (Rindu).

Rindu, itu nama seorang tua yang bisa jadi kelak Jika Boleh Kusebutmu Mariam…

Sekitar belasan tahun memasuki dua puluhan tahun kini, aku masih di usia 21, hari ini masih 21, kemarin masih 20, sekarang saja 21, esok mungkin masih jadi 21, lusa mungkin 22, atau minggu depan sudah beranjak 25, bulan depan bisa jadi kehilangan usia waras, dan tahun depan bisa jadi aku telah gila.

Lalu bagaimana usianya? Kalian akan tahu usianya abadi. Bisa jadi kemarin ia tua, hari ini ia kehilangan kewarasannya. Masih hari ini kita menertawainya, esok ia masih juga ditertawai, lusa kalian meninggal dan ia abadi.

Kelak jika boleh kusebutmu Mariam…..

Rindu, sebuah nama seorang tua yang terlelap sendiri. Rumahnya adalah pagi, siang, petang, sore, senja, dan malam. Selimutnya adalah debu dan abu jalanan, bantal peluknya adalah hujan, dingin, dan kepanasan.

Lalu makanannya? Makanannya adalah apa saja yang ia cari dari kepingan-kepingan air matanya. Ia sering kali menangis-mengais dari serpihan tawa-menertawainya-atau tertawakan saja. Ia masih saja abadi.

Kalian ingat Mariam. Mariam, ia begitu abadi. Sering pula ia ditertawai, tidak lupa juga dicibirkan.

Rindu, seorang tua dengan kepingan hidupnya adalah jalanan. Mengorek dari lubang-lubang liang keserakahan dan keegoan manusia. Mengais dari setiap slogan-slogan dan poster-poster besar di sudut-sudut rumah. Berbicara dan tertawa sendiri bisa jadi ia jadi bodoh dengan kebodohan manusia yang turut gila bersamanya.

Siapa yang tidak gila di dunia ini? Siapa saja tak bisa mengelak kita semua adalah gila. Semuanya adalah gila. Gila, benar-benar semua kita adalah gila. Gila sejalan dengan kegilaan kita. Jangan ragu jadi gila toh siapa saja tidak bisa menghilang apalagi berlari dari gila-kegilaan-menggila-bergila atau cukup sampai pada syukuri gila itu.

Rindu, sebuah nama seorang tua. Izinkan aku untuk memanggilmu Mariam

Kelak jika boleh kusebutmu Mariam……

Itulah sebuah doa dari puisi-puisi suci ayat-ayat hidupmu.

Keterangan:

*Nata (bahasa Lio yang berarti Makan sirih pinang. Sirih pinang merupakan makanan khas ibu-ibu di kampung-kampung.

*Detusoko (sebuah desa di kecamatan Detusoko Barat-Kabupaten Ende-Flores-Nusa Tenggara Timur) jarang fari Detusoko ke Ende kurang lebih 33 KM.

Chan Setu
Latest posts by Chan Setu (see all)