Kelamin; Satu di Samping Etalase, Lainnya Diprotes

Kelamin; Satu di Samping Etalase, Lainnya Diprotes
©Amazon

Satu atau lebih penampilan kelamin terpajang. Misalnya apa? Boneka berkelamin anu berdiri di samping etalase sebuah mal di salah satu pusat kota di negeri ini. Tetapi, si perjaka tidak tertarik dengan kelamin non-manusia.

Suatu keberuntungan, boneka berkelamin tersebut terbalut busana. Harap maklumlah, bukan boneka India! Hanya boneka tanpa merek apa-apa. Kapan mulai muncul boneka pajangan tersebut di mal? Tanya pada rumput yang bergoyang.

Yang jelas, sekalipun tidak berbalut kain selembar apa pun pada boneka pajangan, terdapat alasan. Pertama, boneka pajangan tanpa busana tidak membuat kita “terangsang”, kecuali penge- mal tertarik pada sampel busana yang menempel di boneka pajangan. Kedua, sejauh ini, belum ada pihak yang menyatakan jika boneka pajangan di mal memiliki hak-hak asasi sebagaimana HAM pada manusia.

Dalam persepsi umum, berbicara tentang kelamin, berarti terikut alat kelamin. Satu paket kenormalan melekat pada sebuah tubuh seksual secara biologis.

Berapa banyak mal atau pusat perbelanjaan berskala besar yang menyediakan boneka pajangan yang berkelamin di negeri ini? Belum ada data statistik yang menyebutkannya.

Bagi anak rebahan, mungkin malas nge-mal. Tetapi, orang-orang yang doyan nge-mal ada istilah “cuci mata”; biar tidak penat melanda, rasa letih pun menyusut. Hiburan menjadi salah satu dorongan kawula muda dan orang dewasa. Berkurang atau bertambah jumlah pengunjung mal tidak memengaruhi keberadaan boneka berkelamin.

Di masa pandemi saja diharapkan jangan terlalu lama pembatasan mobilitas. Pinta sekian banyak penge-mal perlahan-lahan terkabul saat terjadi pelonggaran kunjungan.

Senang rasanya mereka bisa bersua dengan teman-teman sebayanya tatkala bisa melihat apa gerangan di mal. Khusus boneka pajangan yang berkelamin bukanlah sebagai objek tontonan, melainkan eksistensi kolektif dari mal atau pusat perbelanjaan.

Baca juga:

Boleh kita kata, hampir tidak jenuh para penge-mal hadir setiap saat di mal hanya untuk menikmati waktu senggang atau hari libur. Tentu saja, tidak semua ramai mengunjungi ruang belanja atau etalase yang dilengkapi boneka pajangan berkelamin.

Berbeda dengan kasus di salah satu daerah. Gegara menghina alat kelamin perempuan oleh seorang pria, akhirnya emak-emak melakukan protes hingga turun unjuk rasa di jalan. Peristiwa itu masih jarang terjadi untuk ukuran daerah. Berbicaralah emak-emak tentang pergerakan politik seks! Bersuaralah emak-emak, “Kelaminku, kehormatanku!”

Dugaan penghinaan alat alat kelamin yang memicu perlawanan sosial kaum emak-emak begitu sensitif berawal dari pria berinisial EC ketika satu rekaman video menampakkan jualan gorengan pisang di depan sejumlah pria.

Tidak lama berselang, tiba-tiba arah pembicaraan antara EC dengan kaum pria lain yang berada di lokasi jualan pisang menyinggung alat kelamin tertentu dengan nada yang membuat tersinggung kaum emak-emak. Kekesalan melimpah-ruah dari kaum emak-emak lantaran hinaan tersebut.

Berdasarkan hasil konfirmasi dari pihak berwewenang, Kasat Reskrim Polres Bulukumba, Iptu Muhammad Yusuf, mengatakan: “Iya masalah itu, masalah perasaan perempuan kan, kesal, tidak enak.”

Perasaan perempuan siapa yang tidak tersinggung dan kesal jika terjadi kata-kata vulgar yang menghina? Kasus tersebut memerlukan penjelasan secara terbuka pada publik. Ruang komunikasi tetap kita harapkan bisa berlangsung untuk menengahi kesenjangan atau ketidaksetaraan gender, termasuk ‘bentuk ujaran-citra’ yang pantas demi martabat kemanusiaan. (detik, 17/12/2021)

Upaya mediasi kita lakukan untuk membangun tatanan sosial yang hidup dan saling merawat perbedaan maupun kehidupan yang selaras. Kata-kata terselipkan dalam tatanan kelamin dan bisa jadi pria dengan videonya menandakan tingkat kesejahteraannya.

Selama seseorang dan kelompok individu berada dalam tanda kesejahteraan yang memadai dengan ketenangan yang teruji, maka pertentangan antar-relasi sosial bisa kita hindari dari sejak permulaan interaksi kehidupan bersama.

Halaman selanjutnya >>>
    Ermansyah R. Hindi