Kelaskaran Wanita dalam Perang Kemerdekaan di Kota Bandung

Kelaskaran Wanita dalam Perang Kemerdekaan di Kota Bandung
©Historia

Kelaskaran Wanita dalam Perang Kemerdekaan di Kota Bandung Dilihat dari Teori Deterministik

Filsafat sejarah merupakan elemen dasar untuk bisa membangun kesadaran dunia sejarah. Posisinya menjadi sangat penting bagi kajian sejarah, bukan hanya karena sama-sama sebagai cabang dari ilmu pengetahuan humaniora, tetapi juga karena ia mengajarkan cara berpikir kritis dan mendalam tentang dunia masa lalu.

Dalam definisi lain, filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran, dengan sedalam-dalamnya.[1]

Teori serta aliran pemikiran sejarah pun sangat variatif dan memiliki argumentasi dan tingkat rasional yang berbeda sehingga menghasilkan berbagai pandangan. Salah satunya ialah teori filsafat sejarah deterministik.

Deterministik adalah suatu paham yang menyatakan tidak ada sesuatu yang terjadi yang berdasarkan kebebasan berkehendak atau kebebasan memilih atau kebetulan, segala sesuatu yang terjadi itu berdasarkan pada sebab atau penyebabnya.[2]

Dalam fenomena sejarah, banyak peristiwa yang dapat dianalisis menggunakan teori deterministik. Sebagai contoh misalnya, lahirnya kelaskaran wanita dalam perang kemerdekaan yang terjadi di Kota Bandung bukanlah tanpa sebab. Hal tersebut muncul sebab dari kondisi kemerdekaan bangsa yang masih dalam keadaan terancam begitu juga wilayah Kota Bandung. Sehingga kaum wanita ini berinisiatif untuk membentuk kelaskaran wanita, yaitu Laskar Wanita Indonesia.

Hasil dan Pembahasan

Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, masyarakat menyambut dengan berbagai macam rasa kegembiraan. Namun, kondisi Indonesia setelah itu tentu masih belum sepenuhnya aman, karena kekuasaan dan kedudukan Jepang yang masih berada di wilayah Indonesia.

Seperti, ketika barisan-barisan pemuda yang ingin menyebarkan berita proklamasi melalui pamflet, mereka mendapati rintangan yaitu mobil dari kempetai (polisi rahasia) Jepang membututinya dan memunguti proklamasi tersebut.

Baca juga:

Meskipun demikian, sebagaimana giatnya pun kempetai Jepang membayang-bayangi serta menghalang-halangi penyebaran berita itu, usaha mereka tidak berhasil. Justru penyebaran yang dilakukan lebih banyak terjadi hingga meluas hingga ke seluruh Indonesia melalui kantor berita Domei Jakarta.[3]

Di Kota Bandung, setelah menerima berita proklamasi kemerdekaan dari kantor Domei Jakarta, kondisinya pun masih dalam bayang-bayang kekuasaan Jepang dan dengan kedatangan tentara Inggris yang diboncengi Belanda yang ingin menempati sekaligus menguasai wilayah Kota Bandung.

Melihat kondisi yang demikian, menjadi sebab dari terbentuknya berbagai badan serta laskar perjuangan guna mempertahankan wilayah Kota Bandung dari penjajah yang ingin menguasai kembali wilayah tersebut. Atas inisiatif dari seorang tokoh wanita Indonesia, lahir pula sebuah laskar perjuangan wanita yang ikut serta dalam berjuang bahu-membahu bersama yang lainnya, yaitu Laskar Wanita Indonesia (LASWI).

LASWI dibentuk pada 12 Oktober 1945 di Bandung, dipimpin oleh Ny. Sumarsih Yati Arudji Kartawinata dan bermarkas di gedung Mardihardja, Jl. Pangeran Sumedang 91, Bandung. Kegiatan-kegiatan LASWI meliputi bidang sosial, intel dan pertempuran.

Dalam bidang sosial antara lain pada waktu terjadi banjir besar akibat meluapnya kali Cikapundung (1945) anggota LASWI diperbantukan dan ditugaskan untuk menyediakan makanan pada Palang Merah. Dalam bidang intel antara lain menugaskan Nani Sumarni dan Siti Sabariah yang melakukan penyelidikan di Bandung Utara, di mana mereka pernah ditangkap pada bulan Januari 1946. Dalam pertempuran-pertempuran di Bandung LASWI dipencar dalam delapan regu.[4]

Dalam peristiwa Bandung Lautan Api, LASWI ikut aktif dalam pembumihangusan. Penyelenggaraan dapur perjuangan untuk Sektor Bandung, mencari bahan makanan dan mengirimkannya di garis depan ditugaskan pula pada LASWI.

Markas LASWI pada waktu itu berpindah-pindah, mula-mula di Ciparay, kemudian di Majalaya. Pada Desember 1946 LASWI pindah ke Tasikmalaya dan menggabungkan diri dengan RTP (Resimen Tentara Perjuangan) dan bermarkas di Padayungan.

Kemudian, karena keadaan di Tasikmalaya dirasa masih aman, maka sebagian dari anggota LASWI diperbantukan di Jawatan Sosial untuk mengurus para pengungsi sedangkan sebagian lagi mengerjakan pekerjaan administrasi di Staff RTP.

Baca juga:

Setelah pasukan-pasukan perjuangan dilebur menjadi TNI maka para anggota LASWI yang akan melanjutkan sekolah dikembalikan kepada orang tua mereka, sedangkan sebagian lagi melanjutkan perjuangannya di Inspektorat Wanita dari Biro Perjuangan yang dipimpin oleh Ibu Atikah Natamiganda dan Ibu Eja Setiasih sebagai Penulis, kedudukannya yaitu di Garut.[5]

Kemudian, pada 1947 beberapa anggota LASWI beserta dengan komandannya yaitu Ny. Sumarsih Yati Arudji Kartawinata yang sudah terlebih dahulu mengharuskan hijrah mengikuti TNI ke Yogyakarta, karena hasil dari perundingan Renville, sebagian tidak ikut hijrah dan menetap di Bandung.[6]

Akhir perjuangan LASWI ini, ketika diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar di Den Haag dan kemudian secara resmi Belanda mengakui dan menyerahkan kedaulatan Republik Indonesia di akhir tahun 1949. Maka pada saat itu juga, para anggota LASWI kembali pada keluarganya masing-masing, dan terjun kembali ke dalam masyarakat.[7]

Referensi
  • Disjarahdam VI/Siliwangi. (1979). Siliwangi dari Masa ke Masa: Edisi ke-2. Bandung: Angkasa.
  • Kongres Wanita Indonesia (KOWANI). (1986). Sejarah Setengah Abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia (2 ed.). Jakarta: Balai Pustaka.
  • Malik, A. (1982). Riwayat dan Perjuangan Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 (7 ed.). Jakarta: Widjaya Jakarta.
  • Sulaeman, A. (2021). Mengenal Filsafat Islam (2 ed.). Bandung: Fadillah Press.
  • Thohir, A., & Sahidin, A. (2019). Filsafat Sejarah: Profetik, Spekulatif, dan Kritis. Jakarta: Kencana.
Catatan Kaki

[1] Asep Sulaeman. Mengenal Filsafat Islam. (Bandung: Fadillah Press, 2021), hlm. 5

[2] Ajid Thohir & Ahmad Sahidin. Filsafat Sejarah: Profetik, Spekulatif, dan Kritis. (Jakarta: Kencana, 2019), hlm. 51

[3] Adam Malik. Riwayat dan Perjuangan Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Cetakan ketujuh, (Jakarta: Widjaya Jakarta, 1982), h. 73-75.

[4] KOWANI. Sejarah Setengah Abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 1986), hlm. 100.

[5] Disjarahdam VI/Siliwangi. Siliwangi dari Masa ke Masa: Edisi ke-2. (Bandung: Angkasa, 1979), h. 52

[6] Disjarahdam VI/Siliwangi. Ibid, h. 53.

[7] Sugiarta Sriwibawa. Op.cit, h. 64.

Reinaldy Alfathra Sefurrohman
Latest posts by Reinaldy Alfathra Sefurrohman (see all)