Kelereng Hitler

Kelereng Hitler
Foto: Wattpad

sebelum kilau ufuk dilipat malam
kita biasa bermain kelereng, hitler
di lapang lapangan sekolah
pada hari-hari yang teduh

beberapa dari kelerengmu
bercorak hitam jelaga
dengan garis putih bergelombang
dan tampak seperti meriam
yang biasa kau lemparkan

Di Bolshevik, Kepada Siapa Aku Mengaji?

cemara bereozka merayapi punggung bukit
berdaun paling salju, pada beberapa musim

barangkali dia di sana, gadis kecil
berambut merah mawar, elina namanya
yang kedua matanya menatap sampai jauh
ke dalam tangkai rumput yang koyak
diinjak kuda orlov bersurai tebal

setiap malam elina memungut dingin
dipintal menjadi tikar; pembaringan paling intim
mula-mula menggigil, kemudian menguap
tatkala masing-masing tangannya saling mencium

setelah dilahirkan hingga dewasa
elina tampak selalu telanjang:
tidak berbapak, tidak beribu
barangkali jika kau bertemu di sana
berikan baju yang dapat memeluknya
tiap-tiap ia bertanya
“di bolshevik, kepada siapa aku mengaji?”

Hakim Waktu

aku tidak tahu sejak kapan waktu
menjadi hakim paling tidak adil
yang memutuskan tali sepatu
dari langkah kaki anak-anak
barangkali mereka lupa cara
memungut detik, menit dan jam
yang berotasi pada takdir setiap
tubuh yang dipaksa tabah

mereka hilang ingatan tentang
mengeja embun paling pagi
di antara bangku-bangku sekolah
yang sudah mulai keropos
dan tidak lagi diduduki

Pelukis

seorang pelukis di moskwa itu
diam-diam memasukkan istrinya
ke dalam mobil alfa romeo:
untuk dijual ke pameran-pameran

Hutan Bertanya Tuhan

hutan bertanya kepada tuhan
“apa kami sudah dewasa?”
tahun demi tahun bergumam
palu memukul pilu yang pada
kesakitannya dipikul bergantian

“kami purba, tapi mengapa
tidak pernah dewasa?”
dari tahun ke tahun bergumam
setiap helai rambut mereka
tidak sampai menemui uban
hutan dicukur ketika masih muda
dan tuhan menjawab
“mereka tidak bermanusia.”

    Latest posts by Wisnu Maulana Yusuf (see all)