Keluh Seorang Anak pada Ibunya

Keluh Seorang Anak pada Ibunya
Ilustrasi: timorexpress.fajar.co.id

Ibu, matahari sudah berganti menjadi petromak
Bulan keluar hanya separuh wajah
Mata anak-mu sudah mulai berat mengangkat kelopaknya
Sebab, mempelajari buku-buku yang direkomendasi
Membuatku pening dan mual
Tapi, masih saja aku tak mengerti tentang cerita negeri ini!

Ibu, aku ragu bahkan tak mengerti
Maukah kau menceritakan keasliannya?
Secara jujur tanpa manipulasi?
Aku percaya, sebagai ibu, kau menginginkan anakmu menjadi orang yang tak rugi
Maka, mulai sekarang, ceritalah tentang negeri ini
Walau hanya sebagai pengantar tidurku di malam hari

Mungkin dapat dimulai dari pertanyaanku tentang Betawi
Bukankah asal-muasalnya dari bantaran kali?
Lalu, mengapa sekarang orang-orangnya pada lupa diri?

Miris hati ini melihat dari mata sendiri
Lapangan menjadi jalanan
Ladang menjadi bangunan
Kuburan menjadi perumahan
Semua ada di Betawi

Lebih terasa sayatan hati ini ketika mendengar cerita media-media corong elit penguasa di tempat perantauan studi Tentang laut yang direklamasi, sungai yang dinetralisasi, dan waduk yang direstorasi
Tapi, tetap saja hampir setiap 6 bulan sekali membanjiri bagian kota negeri

Ini sebuah persoalan bukan kepasrahan
Ini sebuah kejahatan yang harus dipenjarakan bukan kebiasaan yang harus disiarkan

Ibu, bagaimanapun aku tak mengerti tentang cerita negeri ini
Maka, ceritakanlah keasliannya, secara jujur tanpa manipulasi

___________________

*Klik di sini untuk membaca sajak-sajak lainnya.

Latest posts by B.M. Mulyanto (see all)