Kematian Dayem

Kematian Dayem
©Wordpress

Gelagat Dayem pagi itu tampak berbeda dari biasanya. Ia tampak gelisah menepuk-nepuk telapak kakinya yang tak pernah mengenal sandal.

Lalu lalang orang di halaman rumahku makin ramai saja. Tak hanya bangku-bangku seng yang harus segera ditata, gebyok dengan nuansa warna hijau turut diturunkan oleh orang-orang dengan baju berwarna senada dari mobil bak terbuka. Sebuah spanduk dengan tulisan “Bakti Sosial dalam Rangka Harlah Partai Umat” yang dicetak dengan huruf tebal dan warna yang mencolok untuk menjadi latar belakang panggung telah lebih dulu bertahta.

Mas Waskito, abangku satu-satunya yang tak lain adalah tangan kanan sang petinggi partai masih sibuk dengan buku catatan dan pulpen di tangannya. Ia dan beberapa kader muda lainnya duduk mengitari sebuah meja yang tepat berada di depan panggung utama. Kelelahan yang ditampakkan oleh raut wajah mereka begitu kentara.

Tugas yang dibebankan oleh Pak Rahman, sang petinggi Partai Umat kepada Mas Was dan kader-kader partai lainnya sebenarnya mudah saja. Mereka hanya perlu membuat daftar siapa saja yang berhak menerima bantuan itu dan memastikan acaranya berjalan tanpa kendala serta sebuah tugas rahasia. Ya, sebuah tugas rahasia; memastikan suara orang Cikopeng di pemilu yang akan datang masuk ke kantong Partai Umat seluruhnya.

“Bu Carwen sudah, Paman Supangat juga sudah, siapa lagi ya yang sekiranya berhak mendapat bantuan dan belum tertulis?” Mas Was melepas sejenak kacamata yang dikenakannya.

“Dayem sudah kau tulis, Was?” tanya seseorang yang sedari tadi diam mengamati dari sisi kiri meja.

“Ah kau betul, Ed. Wong gemblung yang tinggal di pinggir huma itu hampir saja terlewat. Nanti kau jemput dia untuk datang ke sini ya, Ed.” Dengan segera Mas Was menuliskan nama Dayem di buku catatan bersampul hijau muda.

“Mas, ibu kira Dayem tak perlu diundang untuk datang. Kalau memang sekiranya dia berhak mendapat bantuan, taruh saja bantuan itu di brug seperti biasa,” kata Ibuku menyela. Ibu datang membawa nampan berisi beberapa gelas kopi dan sepiring mataroda.

Ucapan Ibu itu membuatku tersenyum dan membawa ingatanku kepada sebuah peristiwa. Saat itu Mas Was masih seorang bocah yang duduk di tingkat akhir sekolah dasar, sedangkan aku masih duduk di kelas dua di jenjang yang sama. Saat itu, pagi sekali Dayem sudah datang ke rumah kami yang masih berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah.

Dayem memang biasa datang ke rumah kami untuk menonton TV bersama. Ia akan duduk bersimpuh di tanah tanpa banyak bersuara. Awalnya, aku dan Mas Was memang sedikit takut kepada Dayem yang sering disebut sebagai wong gemblung oleh kebanyakan warga desa. Tapi Ibu terus meyakinkan kami untuk bisa menerima Dayem yang sehari-hari tinggal berdua saja dengan adiknya di sebuah gubuk reot di pinggir huma.

Gelagat Dayem pagi itu tampak berbeda dari biasanya. Ia tampak gelisah menepuk-nepuk telapak kakinya yang tak pernah mengenal sandal. Ia menghiraukan acara TV yang biasanya ia tatap dengan penuh antusias dan mulut yang sedikit terbuka. Barulah setelah Bapak berangkat patroli ke hutan, ia beringsut dari duduknya dan mendekati Ibu yang sedang membereskan bekas sarapan Bapak di meja.

“Bu Kasid, aku lapar,” ucap Dayem dengan suara yang sangat lirih hampir tak terdengar. Ia memang biasa memanggil Ibu dengan nama Mbah Kakung, bukan dengan nama Bapak. Kata Ibu, Mbah Kakung lah yang membangun sebuah gubuk di pinggir huma untuk ditinggali oleh Dayem dan adiknya setelah kematian orang tua mereka. Kedua orang tuanya dan beberapa pencuri kayu lainnya tewas diberondong peluru bedil polisi hutan.

“Oh kau lapar, Dayem? Tapi aku hanya ada sisa sedikit nasi dan buntil daun talas. Kau mau, Dayem?”

“Mau, Bu Kasid,” jawab Dayem seraya menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.

“Ya sudah, kau tunggu di situ dulu, ya. Akan kubungkuskan makanan untukmu dan si Jono.” Ibu lalu membungkus sisa nasi di dalam bakul menggunakan kertas minyak. Dua buah buntil daun talas dengan isian ampas kelapa dan udang rebon berkuah santan encer itu dituangkan ke sebuah plastik tembus pandang.

“Tapi, Bu Kasid…” Dayem tak melanjutkan ucapannya. Ibu memperhatikan air mukanya yang malah menjadi murung, tampak kehilangan selera. Kepalanya menunduk dalam, kedua tangannya memelintir bagian bawah baju lusuh yang dikenakannya.

“Ada apa? Kau mau yang lain? Tempe bacem atau telur ceplok?”

“Aku tidak mau tempe dan telur.”

“Kau tidak mau? Lalu apa?”

“Tolong makanannya ditaruh di brug saja ya, Bu Kasid,” jawab Dayem yang masih menundukkan kepala.

“Kenapa harus ditaruh di brug? Kau bawa saja langsung. Ini sudah siap,” kata Ibu sembari menyodorkan bungkusan hitam berisi nasi dan buntil daun talas.

Emoh, Bu Kasid.” Dayem menggeleng lemah. “Aku malu, aku ini wong gemblung, bukan pengemis,” lanjutnya. Aku dan Mas Was yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya sontak tertawa.

“Lah memangnya wong gemblung masih punya rasa malu?” timpal Mas Was dengan tawa yang makin terbahak. Dayem hanya diam. Kedua tangannya makin sibuk memelintir bagian bawah baju lusuhnya.

“Ya sudah, ya sudah. Aku taruh makanan ini di brug, ya. Nanti cepat-cepat kau ambil, ya.”

Mendengar ucapan Ibu itu, air muka Dayem langsung berubah. Senyum tersungging di wajahnya yang tak kalah lusuh dengan baju yang ia kenakan. Saat mendengar langkah bakiak Ibu yang memasuki rumah selepas menaruh bungkusan makanan tadi di brug, ia langsung bergegas pergi dari tempatnya. Ia meninggalkan rumah kami tanpa basa-basi dan salam.

“Huu dasar orang tidak punya tata krama,” kataku mengejek Dayem yang segera saja hilang dari pandangan mata.

Hush jangan begitu, namanya juga wong gemblung. Hahaha,” timpal Mas Was dengan tawa yang masih belum reda. Sejak saat itu, menaruh bungkusan di brug menjadi rutinitas yang dilakukan Ibu dan banyak orang lain di sekitar tempat tinggalku jika ingin memberikan makanan atau apa saja untuk Dayem dan adiknya.

—-

Acara inti sudah hampir dimulai saat Dayem datang bersama adiknya. Mas Was bilang perlu usaha yang cukup keras untuk membawanya datang. Mas Edi yang diperintahkan oleh Mas Was untuk menjemputnya baru berhasil membujuk setelah mengatakan Bu Kasid ingin bertemu dan berbicara.

“Kenapa Dayem tetap diundang untuk datang? Kan Ibu sudah bilang, taruh saja bantuan itu di brug dan katakan padanya. Ia sendiri yang akan mengambilnya.” Ibu langsung menarik lengan Mas Was begitu melihat kedatangannya dan adiknya.

“Bu, kegiatan bakti sosial ini adalah kegiatan yang baik. Pengurus Partai Umat dan aku tak ingin pamer, sungguh. Kegiatan ini adalah sebuah bentuk syiar supaya bisa menginspirasi banyak orang untuk berbuat kebaikan juga. Lagi pula, segala bentuk penyaluran bakti sosial ini kan harus kupertanggungjawabkan kepada umat dan pimpinan.”

Semua orang yang dianggap berhak menerima bakti sosial itu telah berada di atas panggung, termasuk Dayem yang menurut saja digiring Mas Was. Satu per satu dari mereka menerima bingkisan yang dibungkus tas kain berlogo Partai Umat dengan wajah yang sumringah, kecuali ia tentu saja.

Dayem hanya diam. Ia tak langsung menerima bingkisan yang disodorkan, bahkan saat Pak Rahman mengucapkan “Ini ada sedikit bantuan untuk Ibu. Bantuan ini sebagai bentuk kepedulian Partai Umat untuk orang-orang yang membutuhkan. Mohon diterima ya, Bu. Semoga bermanfaat.”

Emoh,” jawab Dayem singkat. Ia bahkan langsung turun dari panggung setelahnya.

“Dayem, tunggu, kau harus terima bantuan ini.” Dengan wajah yang memerah disulut amarah, Mas Was yang sedari tadi berdiri di samping Pak Rahman menyusul turun dari panggung dan mengejarnya segera.

 “Emoh.” Dayem terus melangkah tanpa memedulikan Mas Was yang masih mengejarnya.

“Bantuan ini dari orang-orang yang baik di Partai Umat seperti Pak Rahman untukmu.”

Emoh.”

“Kalau kau tak mau ambil bantuan ini, jangan pernah datang lagi ke rumahku. Aku juga akan melarang Ibu untuk menaruh makanan di brug lagi.” Ancaman Mas Was kali ini cukup ampuh juga tampaknya. Dayem menghentikan langkahnya lalu termangu sejenak.

Tapi tak lama kemudian Dayem kembali melangkah dan terus berjalan pulang ke gubuknya. Mas Was yang tak bisa mencegah kepergiannya berbalik menghadap Pak Rahman yang masih terbengong dengan kejadian barusan. Mas Was membungkuk berulang-ulang, meminta maaf atas kekacauan yang Dayem timbulkan.

Sudah 5 hari Dayem tak pernah datang ke rumah kami untuk menonton TV bersama. Bungkusan makanan yang Ibu taruh di brug pun tak pernah disentuhnya. Hal ini membuat Ibu sangat gelisah. Maka pagi ini, selepas membereskan bekas sarapan Bapak, Ibu bersiap dengan membawa bungkusan makanan di tangannya. Ibu berencana akan ke gubuknya untuk memberikan makanan itu dan memastikannya baik-baik saja.

Ibu belum sempat memakai sandal saat si Jono muncul di ambang pintu rumah. Keringat bercucuran dari dahinya seiring dengan deru nafasnya yang tak beraturan.

“Bu Kasid, Bu Kasid, si Dayem mati diseruduk babi hutan,” kata si Jono dengan nafas yang masih tersengal-sengal.

Innalillahi.” Bungkusan makanan yang di genggaman Ibu luruh begitu saja. Berita kematian Dayem benar-benar seperti petir mangsa kasanga. Si Jono lalu bercerita bahwa mereka sangat kelaparan. Jadi mereka memutuskan untuk ngurindang singkong di huma milik San Istam.

Saat tengah ngurindang singkong itulah seekor babi hutan jantan dengan taring yang melengkung menyeruduk Dayem yang tengah menungging mengais umbi singkong yang tersisa. Tanpa ampun, babi yang mungkin merasa terusik oleh kedatangannya dan Jono lalu menggulung tubuhnya sampai ia jatuh dari tubir bukit ke Kali Cikopeng yang berbatu dan tewas seketika.

    Diniar Nur Fadilah
    Latest posts by Diniar Nur Fadilah (see all)