Kematian Itu Berwarna Biru

Kematian Itu Berwarna Biru
Ilustrasi

Kematian itu berwarna biru.
Jatuh satu-satu dari biografi tanpa alas kaki dan
ucapan selamat ulang tahun bernilai 138 kilobyte.
Setelah tukak lambung dan mimpi buruk,
manic depressive, kebebalan sosialisme,
dan tas kertas daur ulang The Body Shop.
Setelah hipotensi, John Galt dan Steve Jobs,
cita-cita yang jadi usang di usia 40an dan
meditasi vipassana di kamar 202 hotel bintang tiga
dengan Sigi yang tak pernah beranjak dewasa.
Setelah gula darah di bawah 100,
dua bungkus rokok American Blend,
teh madu, waham skizofrenik dan
video porno dengan artis toket gede
di layar 11 inci laptop second hand.
Setelah semuanya, aku duduk.
Dan meja itu masih tetap kosong,
tidak memberi meski sekadar ungkapan terakhir,
kenangan ketika usia kita baptis dengan pertaruhan.
Entah darah entah nausea.

Kematian itu berwarna biru.
Duka yang tersisa dari pesta perjamuan terakhir,
ungkapan kasih sayang beraroma Etienne Aigner.
Cermin yang kau berikan sejenak sebelum orgasme,
teori evolusi, bobos, Jason Mraz dengan Geek in the Pink
dan aku yang lupa pakai kondom.
But that’s okay, baby. Hidup terlalu ramai
untuk dipikirkan dalam kerangka dosa dan pahala
atau, katakanlah, tiga belas kaki di bawah permukaan tanah.
Sementara aku lebih suka membayangkan kremasi dan
kehidupan kembali; gagasan yang lebih sederhana dari
dongeng surga dan neraka.
Generasiku tidak dibentuk dengan romantisme, kekasihku.
32 tahun Orde Baru, Metalica lalu Nirvana
dan aku justru berakhir dengan Lomba Cipta Lagu Remaja,
Dhenok Wahyudi, dan reformasi yang memberi Jokowi
juga turunan nabi dengan pentung dan makian.
Jadi bayangkanlah betapa membosankan usia yang mesti aku daki.
Tuhan yang itu-itu saja, agama tanpa estetika,
ekstasi anti kapitalisme dalam pidato politik
yang terdengar seperti desah masturbasi.

Kematian itu berwarna biru.
Api Phoenix di ruang belakang samsara,
kearifan 129 karakter tanpa spasi dalam status facebook.
Sekarat setelah empat butir lansoprazol
dan depresi yang membanting nurani,
menghabiskan waktu di antara muntah darah dan Caligula.
Karena itu, tidak ada yang terlihat manis
bahkan sekadar sebagai hiasan pada
beratnya upacara menjadi manusia;
Edvard Munch melukiskannya
sebagai kegilaan yang menjerit.
Sementara di jembatan yang sama aku meniti usia
dengan kegilaan yang diam-diam berubah bentuk
menjadi poci Goenawan Mohamad.
Lama waktu dalam jumlah retak
yang memberikan bingkai jendela atau,
jika mungkin, semacam koleksi biografis
yang membuka tabir bahwa
di luar hati —di dalam teologi Abrahamik—tuhan
tidak lebih dari sutradara Hollywood papan bawah.
Padahal aku hanya ingin membaca Knut Hamsun
dan memahami hidup dengan rasa lapar
dalam prosa Norwegia akhir abad 19.

Kematian itu berwarna biru.
Kekasih yang memberi hidup dengan vagina basah,
asap ganja, dan kapitalisme tua di layar Bloomberg.
Vertigo di halaman 97 Love in the Time of Cholera,
ketika cinta, passi, dan penyakit adalah mati
yang membawa kita ke banyak ruang,
jangka hidup yang berulang-ulang,
rahim demi rahim,
pagi di dalam puisi romantik Eropa,
perjalanan Herman Hesse dengan spiritualitas Lady Gaga,
dua puluh enam abad tubuh dalam berlimpah-limpah dukkha.
Keriuhan yang sama,
mara di tengkuk Gautama,
menolak kematian atas nama cinta
dan dering telepon
dan bau sperma kering
dan Theory of Everything
dan Matinya Pedagang Keliling
bersama kenangan di awal tahun 90an,
Cikini Raya 73, Teater Luwes,
Arief Wijayanto, Sri Ismarida,
Teguh Sugiarto, Hanna Bahagiana
dan sebotol vodka di kantong celana.
Resah itu tidak meninggalkan apa-apa,
padahal aku hanya ingin onani
sambil membayangkan Ayu Utami
dengan blazer dan boots dan bibir yang beranjak tua.
Tapi mungkin mati tidak juga sesepi itu,
tidak dilahirkan waktu fajar, tidak menabungku
segobang segobang.

Kematian itu berwarna biru.
Jejak yang mengapung di keluasan semesta,
keangkuhan yang kita jumlahkan di dalam statistik demografis.
Manusia, dalam bahasa, merenungkan hidup di batas
gerak dan waktu dan ruang dan selepas itu
adalah absurditas yang memecahkan kepala.
Kitab suci menyebutnya sebagai batas pertaruhan,
Kristus mengecapnya dengan lambung yang terluka,
gastritis akut setelah jamuan roti dan anggur.
Aku merayakannya dengan Sigi yang tak pernah dewasa,
diam, telanjang dan mengangkang
dengan senyum seperti cinta di dalam novel Lolita.
Ah, ya, ya, ya, ya, Santa Maria, Santa Maria,
Santa Maria, Mater dei,
ora pronobis peccatoribus,
nunc et in hora mortis nostrae.
Dosa telah membuat kematian menjadi begitu sentimentil.
Padahal hidup, meski tidak sekering Hukum Kedua Newton,
adalah dosa yang digandakan oleh birahi.

Kematian itu berwarna biru.
Anak-anak dari masa lalu yang menghilang
tidak di kedalaman laut tak juga di keluasan langit.
Yang datang seakan kembali pulang
setelah berbilang zaman tersimpan dalam kutukan
para nabi penyembah tuhan yang melayang-layang.
Rindu yang tak segan disergap kesenyapan,
kekasih di seberang jalan, perawan perempuan
penjelmaan perjalanan yang penghabisan.
Aku dicekam kelam terpuruk dalam tanya,
siapakah dia yang tiba saat nama tak lagi berwajah?
Apakah sejarah? Ataukah genetika?
Kamadeva di unggun Smaradahana?
Ataukah semata lingga?
Mundur dari batas abstraksi ketika aku pertama kali
menghirup bau dunia, mengalami daging dalam nafsu
makan dan bersenggama.
Berdiam di dalam tarian moha,
mengumpulkan segala kamma,
lalu tua di tengah generasi hoax, selfie, dan meme.

Kematian itu berwarna biru.
Lamban dan kering dan menggerutu,
pucat dan gemetar seperti ragu, seperti ibu
mengambil dariku yang bukan milikku.
Meninggalkan aku dalam waktu, berwarna kelabu,
membeku seperti batu, seperti bapakku
seminggu sebelum berlalu, menjadi rindu.
Aku ingin kembali ke tempat itu, tujuh puluh tujuh
persen kapilavastu, sisanya basah embun subuh,
tanah berdebu, tuhan pencemburu dan manusia rapuh
dalam dongeng orang-orang Yahudi yang menjadi suci
di kamp konsentrasi pertengahan abad ke dua puluh.
Aku selalu berharap, pada saat itu, saat langkahku
meninggalkan tanah dan tubuhku membilang anatta
seperti tubuh-tubuh dalam lukisan Rothko dan Malevich,
ada yang akan merapalkan mantra dari keranjang Sutta,
menyelesaikan cerita, mengumumkan parinibbana.
Tapi aku masih di sini, bersama tuhan yang mati
dibunuh puisi, bersama hidup yang ringkih diburu birahi,
bersama Stanislavsky, Miyabi dan teori ekonomi.

Kematian itu berwarna biru.
Lurus, ringkas, tapi bukan untukku.

Amato Assagaf
Amato Assagaf 3 Articles
Orang Manado. Pernah kuliah di IKJ. Sekarang jadi pengasuh Padepokan Puisi Amato Assagaf. Karya (buku): "Merenungkan Libertarianisme" & "Buku Aktingnya Didi Petet".