Kematian Tak Wajar dan Hegemoni Media Sosial

Kematian Tak Wajar dan Hegemoni Media Sosial
©Cercle Magazine

Kematian Tak Wajar dan Hegemoni Media Sosial

Nahas hidup dan kehidupan manusia di bumi manusia di era postmodern ini menjadi semacam diskursus yang menarik untuk dikaji, dianalisis, dan diberi catatan-catatan konklusi sebagai bahan refleksi dan kontemplasi manusia, baik itu menyoal tentang kehidupan maupun kematian.

Menyorot sisi kehidupan sebagai topik diskursus sama halnya mengkaji tentang kematian. Melihat kematian dengan perspektif kehidupan, begitupun sebaliknya; melihat kematian dengan perspektif kehidupan.

Karena pada akhirnya kehidupan dan kematian sejatinya adalah sepasang kekasih yang berikhtiar untuk pulang. Pulang kepada yang azali. Kepulangan dengan perayaan perpisahan yang paling menyakitkan. Lebih sakit daripada perpisahan karena putus cinta saat lagi sayang-sayangnya.

Dari sini kehidupan hanya akan menjadi sirkulasi perpisahan demi perpisahan yang bermuara pada kepulangan. Kepulangan menjadi akumulasi puncak dari segala perpisahan.

Kematian adalah perhentian permanen dan tidak dapat dikembalikan merupakan salah satu di antara sekian banyak defenisi sekaligus hipotesis dari segala proses hidup dan kehidupan di bumi manusia. Sedangkan sebagai satu kesatuan proses kehidupan di bumi manusia, kematian dapat dimaknai melalui kerangka kesadaran.

Ketika kesadaran berhenti, organisme hidup termasuk manusia dapat dikatakan telah mati. Hal ini senada dengan sebuah adagium klasik yang diperkenalkan Rene Descartes (1596 – 1650) “Dubito ergo cogito, Cogito ergo sum” yang artinya aku berpikir maka aku ada. Hal ini mau menegaskan bahwa eksitensi (keberadaan) manusia dibuktikan dengan kemandirian berpikir. Kalau tidak berpikir maka manusia tidak ada atau mungkin saja mati. Tak ada jiwa dalam tubuh yang bernyawa.

Perihal kematian, sejauh ini tidak ada defenisi tunggal tentang kematian dan tidak banyak konsensus yang menyoroti tentang bagaimana mendefenisikan kematian. Segala budaya melihat kematian sebagai sebuah proses daripada sebuah peristiwa tunggal. Kematian tidak dilihat dengan kacamata parsial karena hanya akan berpapasan dengan ketidakmungkinan-ketidakmungkinan yang nyata. Bahkan mungkin akan menemui ketiadaan. Kematian itu sendiri.

Baca juga:

Lantas bagaimana dengan kematian tidak wajar?

Kematian yang ditelisik dari segi paradigma menghadapi kematian, kematian tidak wajar merupakan jenis kematian yang disebabkan karena paham keliru soal mati. Paham ini dianut kelompok manusia yang sesungguhnya telah mengakses pengetahuan yang benar soal kematian, namun tidak begitu memadai untuk tertanam, tumbuh subur dan membentuk kenyakinan yang menyelamatkan.

Manusia-manusia kesepian dan kegalauan ini yang pada akhirnya memilih kompensasi prematur (semisal; bunuh diri) untuk mengakhiri hidup dan kehidupan. Mati yang benar-benar tidak wajar sebagai manusia, sebaik-baiknya manusia.

Kematian tidak wajar bagi paham ini dianggap sebagai “rehat” dari segala problematika dan prahara kehidupan. Seumpama kekasih yang ingin pulang menemui kekasihnya yang lain, kendati harus memeluk keabadian. Hilang kapasitas akal sebagai manusia. Emosional melanggeng kepulangan, nyawa hilang dalam sekali hentakan ketakutan.

Hegemoni Media Sosial

Hampir setiap hari media sosial menjadi ruang paling ramai dikunjungi manusia. Ruang mengekspresikan suasana kebatinan setelah menjalani parade kehidupan dunia nyata dengan segala aktivitas yang terlihat sarat ekonomis dan terbilang monoton.

Katanya dunia maya jauh lebih seksi ketimbang dunia nyata. Ribuan diksi berhamburan. Ada yang memberi ucapan selamat, ada yang menebar ujaran kebencian. Ada pula gosip yang dibeber bibir dengan bangga. Seakan telanjang hal-hal privatif kalau etalasenya media sosial.

Ribuan manusia asing berkenalan selalu signifikan dengan jutaan manusia akrab yang seketika menjadi asing. Bahkan seorang pedagog harus bertarung dengan kawanan demagog hanya untuk mempertegas identitas, entitas, dan juga integritas yang menjadi prinsip-prinsip ideologi. Apalagi ini tahun politik, segalanya halal kalau itu stimulan kepentingan.

Aktivitas sosial ternyata tak lebih dari antrean jutaan user yang menunggu kepulangan. Hampir tiap hari ucapan turut berbelasungkawa riuh menyapa rumah-rumah telinga di setiap postingan tentang kepulangan. Emotikon yang memberi makna empati nyaris memenuhi kolom tanggapan. Lebih hebat dari baliho yang memuat wajah para politisi yang dipajang megah di ruas-ruas jalan. Apalagi di masa-masa kritis menuju konstestasi.

Halaman selanjutnya >>>
Kristofoforus Arakian
Latest posts by Kristofoforus Arakian (see all)