Kembali Bercermin: Refleksi Parlemen, Proyeksi Pemuda

Kembali Bercermin: Refleksi Parlemen, Proyeksi Pemuda
Ilustrasi: Poskota

Ibarat rumah yang nyaris roboh, mungkin itulah gambaran yang sesuai dengan kondisi parlemen bangsa Indonesia pada saat ini.

Di dalam setiap negara, terdapat beberapa bentuk pemerintahan yang digunakan oleh setiap pemerintah negara untuk mencapai tujuan dan mewujudkan cita-cita rakyatnya. Salah satunya adalah Indonesia yang menganut sistem demokrasi dan untuk menjalankan roda pemerintahan.

Sistem ini terdiri dari badan legislatif, yudikatif, dan eksekutif. Salah satu badan yang bertugas sebagai penampung dan menindaklanjuti aspirasi rakyat dari badan legislatif adalah DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) atau parlemen.

Akan tetapi, badan yang diamanahi untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan rakyat ini mulai menyimpang dari tugas-tugasnya. Seperti contohnya yang sekarang marak diberitakan adalah banyaknya anggota dewan yang melakukan pencurian terhadap uang rakyat dan negara atau lebih kita kenal dengan sebutan “korupsi”.

Ibarat rumah yang nyaris roboh, mungkin itulah gambaran yang sesuai dengan kondisi parlemen bangsa Indonesia pada saat ini. Korupsi dan bentuk penyelewengan jabatan lainnya telah menjadi santapan masyarakat Indonesia setiap hari. Sehingga, menjadikan parlemen sebagai wadah penampung aspirasi dan perwakilan rakyat seperti DPR mulai kehilangan kepercayaan dari rakyat itu sendiri.

Hal itu dapat dilihat dari jumlah Golput yang cukup tinggi dalam Pemilihan Legislatif 2014, sebanyak 24,9 persen (detikcom). Masyarakat lebih memilih acuh tak acuh. Sebab, mereka menilai, walaupun mereka ikut memilih atau tidak, ujung-ujungnya pasti akan ada yang korupsi.

Seakan-akan korupsi telah menjadi budaya para anggota dewan di dalam badan-badan parlemen. Sehingga, muncullah pandangan bahwa politik itu penuh dengan trik dan kebohongan untuk mencapai kekuasaan. Agar dapat berbuat semaunya seperti hidup mewah, korupsi, pelesir ke luar negeri, dan lain-lain. Politik dianggap terlalu najis dan kotor.

Tidak mungkin kita pasrah pada keadaan, membiarkan parlemen terus-menerus digerogoti oleh penyakit seperti itu. Jika keadaan ini terus berlanjut, maka masyarakat akan bingung menyampaikan kepada siapa aspirasinya dapat disampaikan.

Jika kita biarkan, masa depan negeri ini akan suram. Rakyat akan semakin melarat. Cita-cita bangsa Indonesia, yaitu terciptanya masyarakat yang adil dan makmur, akan semakin jauh. Kesejahteraan rakyat akan menjadi angan-angan saja. Sama halnya kita telah mengkhianati jasa-jasa pahlawan yang telah mendahului kita.

Oleh karena itu, di sinilah peran pemuda untuk merekonstruksi sistem perpolitikan yang ada di negeri ini. Sudah saatnya pemuda melakukan regenerasi politik sebagai Agent of Change, Social Control, dan Iron Stock.

Tetapi, pada kenyataannya, kaum muda yang diharapkan dapat mempelopori gerakan perubahan, kini bersifat apatis terhadap hal-hal yang berbau politik. Sebagai contoh yang terjadi di lingkungan kampus. Tidak ada lagi diskusi yang membahas kinerja parlemen. Tidak ada lagi diskusi tentang keadaan masyarakat Indonesia. Bahkan ketika ditanya dan disuruh melafalkan teks proklamasi saja mereka lupa.

Padahal, dulu di setiap sudut kampus itu penuh dengan mahasiswa-mahasiswa yang doyan berdiskusi. Tidak hanya sibuk memegang gadget, sehingga lupa bahwa ada orang lain di dekatnya.

Sungguh tragis apa yang telah terjadi dengan para pemuda di Indonesia saat ini. Mereka lebih sibuk menghias diri dengan brand terbaru. Sibuk mengurusi nilai IPK. Sibuk bermesraan dengan pacarnya.

Fenomena-fenomena yang terjadi tidak lepas dari apa yang dicontohkan oleh para anggota dewan sebagai panutan kaum muda. Kehidupan mewah yang diperlihatkan menjadi gaya hidup di kalangan pemuda menyebabkan dekadensi moral terus-menerus. Sehingga muncullah juga istilah pemuda zaman now dan pemuda tempo doeloe.

Kaum muda seakan lupa dengan perannya. Sedangkan anggota dewan lupa dengan tugasnya. Maka jadilah kita negeri yang penuh dengan orang amnesia. Kalaupun ada kaum muda yang membahas tentang pergerakan nasional, mereka pasti dicap masyarakat sebagai tukang aksi, rusuh, demo, pemberontak, dan sebagainya.

Sehingga jangan heran bahwa negara kita mulai kekurangan pemuda-pemuda yang mewarisi semangat perjuangan dari para pahlawan. Kita tidak peduli serta kurang berminat terhadap hal-hal yang berbau politik. Jadi, bagaimana caranya terjadi yang namanya regenerasi politik untuk memperbaiki parlemen?

Padahal, yang berperan besar dalam perjuangan dan partisipasi dalam berpolitik adalah para kaum muda. Dimulai dari peristiwa sumpah pemuda untuk mendobrak sifat lokalisme bangsa kita dulu, seperti Jong Sumatera Bond, Jong Java, Jong Celebes, dan lain-lain.

Kemudian peristiwa lahirnya Pancasila. Peristiwa Rengasdengklok untuk mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera membacakan proklamasi kemerdekaan. Peristiwa runtuhnya pemerintahan orde lama dan orde baru. Peristiwa reformasi. Semua yang mempelopori peristiwa-peristiwa itu adalah para pemuda-mahasiswa yang sadar bahwa politik adalah sebuah seni untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Berdasarkan cerminan di atas, maka menjadi wajib bagi kita semua baik itu dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk menyadarkan dan mendorong para pemuda untuk lebih memahami peran kepemudaannya. Dengan cara apa? Memberikan mereka pengertian dan pemahaman yang baik tentang pentingnya peran mereka sebagai generasi penerus. Sehingga mampu memberi sumbangsih ide kepemerintahan untuk menjalankan dan memperbaiki parlemen. Agar fenomena-fenomena yang merugikan negara mampu dikikis secara perlahan.

Contoh sederhananya ialah diperlukannya kurikulum terhadap parlemen untuk mengajari pemuda mengatur roda pemerintahan. Sehingga terciptalah negara yang dicita-citakan dengan sistem yang sehat dari berbagai penyakit.

#LombaEsaiPolitik

*Firdausi Muhammad Akhmad, Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Peserta Lomba (see all)