Kembalikan Nyawa Kakekku!

Kembalikan Nyawa Kakekku!
Foto: Liputan6

Kakekku berpangkat letnan dua. Dia berjuang merebut Timor Timur[1] ketika negara kesatuan kita tercinta ini sedang berkecamuk dan tercerai-berai berkat perginya tentara-tentara pejuang dan sahabat-sahabat kesayangan kita ke surga.

Beliau adalah seorang keturunan bangsawan, dan konon memiliki insting yang sangat tajam. Bahkan oleh atasannya diberikan janji agar menjadi jenderal. Namun karena kakekku memang sejatinya punya ilmu, dia tahu, itu cuma iming-iming belaka.

Tapi kakek tetap membela tanah air, karena cintanya melebihi anak dan istrinya. Dan atasannya itu hanya memanfaatkannya, agar pangkatnya terus naik atas jasa bawahannya.

Saat berperang, kakek kencang berlari, menembus daun-daunan tajam di hutan, dan bertiarap mendadak saat ada suara gemerisik di arah tenggara yang agak jauh. Dia ditugaskan khusus, karena punya bakat dalam diam-diam menerkam.

Bergerilyalah dia seorang diri layaknya singa hitam bermata merah, membawa dua revolver cold 45 yang diletakkan di pinggang kanan dan kiri dengan secukupnya peluru di saku paha, dan menenteng satu senapan laras panjang di kedua tangan.

Dibekali juga dengan keris dapur[2] Nagasasra yang bahannya dari batu meteor dan ditempa oleh empu[3] paling sakti di Jawa Timur. Agar kakekku dijaga oleh jin di dalam keris itu. Dan kakek sudah tidak peduli mau dia menjadi syirik atau tidak, asal Timor Timur menjadi bagian dari Indonesia, maka ia ikhlas masuk neraka. Atasannya juga memberikan belasan granat dan bubuk mesiu di tas ranselnya. Untuk keadaan genting katanya.

Mata kakekku yang lebih tajam dari mata Musashi[4] mencurigai akan adanya lawan di balik pohon waru tua yang batangnya hanya bisa dipeluk oleh raksasa. Maka kakek merayap layaknya kobra dengan perlahan, bahkan siput pun menang jika diajak berlomba. Dan saat sudah dekat, kakekku yang sejak kecil pandai Tapak Suci[5] itu melompat, melesat, dan menodongkan senapannya sampai suara halilintar dari senapan itu mengguncang jantung-jantung musuh yang tertembak.

Namun di sana, ada kawanan musuh di tempat lain datang. Peluru demi peluru melesat seperti hujan, mengenai kaki kiri kakekku. Dan dia baru mengingat istrinya, Sunarsih, yang ia temui sedang merawat bunga mawar saat bersepeda hendak membeli rokok.

Apalagi anak-anaknya. Ada Muhammad Ali, anak tertua yang juga sudah menjadi tentara angkatan darat. Ali bisa masuk tentara berkat orang-orang dalam angkatan darat segan dengan Kakek Ahmad Untung yang sering bergerilya sendirian, membunuh banyak musuh, dan tetap hidup.

Dan adik-adik Muhammad Ali, ada yang menjadi tuan tanah, bernama Agus Budianto. Dia dihormati karena keturunan keraton dengan gelar yang sudah tidak berlaku. Juga Dewi Nur Indah, sudah menikah dengan tentara angkatan laut dan dikaruniai anak perempuan bernama Camelia. Masih balita, dan kakekku suka sekali menggendongnya.

Kemudian kakekku menggelepar menuju pohon waru tua itu untuk dijadikan tameng. Ledakan-ledakan desau peluru membuat ketakutannya makin juga tak tertahankan. Karena bunyi peluru melesat ke udara, apalagi timah panas yang terlontar dengan berputar itu mengenai ke badan, maka sensasinya sangat berbeda dari yang bisa disuguhkan oleh film-film dengan tema peperangan.

Ototmu akan terkoyak dan robek bersama putaran peluru yang dilepaskan. Juga telingamu bisa berdenging puluhan menit bila belum kebal. Dan saat lawan mendekat, kakekku membuang senapannya dan memberikan bendera putih. Tanda menyerah.

Senanglah lawan mendapatkan tanda itu. Dan mereka dengan wajah garang menodongkan senapan. Kakekku dipukul, ditendang-tendang, diludahi, dihina-hina. Pada akhirnya, kakekku mendapat bisikan leluhur dalam keris Nagasasra itu yang sedang murka: “Gertaklah mereka, Ahmad Untung! Aku akan membalaskan dendammu!”

Maka kakek mengikuti nasihat leluhur yang ada di dalam keris meski dia meringis kesakitan. “Hah! Berani kalian hanya dengan orang tua yang sudah melempar senjatanya. Sini, tembak aku! Tepat di dadaku!” Dan ada tentara muda, yang menembakkan besi panas sampai menembus dada kakekku.

Di punggung kakekku ada ransel berisi mesiu dan banyak granat. Maka ledakan itu menghamburkan tubuh banyak pejuang. Musuh-musuh yang menyiksanya juga meninggal semua. Dan sayang sekali, perjuangan kakekku ini sia-sia karena ada referendum[6] untuk Timor Leste. Jadilah mereka merdeka.

Siapa yang bisa mengembalikan nyawa kakekku? Donor darah kau? Darahmu tidak sebanding dengan segala apa yang kakekku korbankan untuk Indonesia!Kembalikan kakekku! Hidupkan lagi kakekku! Aku adalah Camelia. Aku ingin digendong kakekku lagi!


[1] Sekarang Timur Leste.

[2] Dapur itu bentuk.

[3] Empu itu pembuat keris.

[4] Samurai jagoan asal Jepang.

[5] Jenis ilmu bela diri.

[6] https://tirto.id/sejarah-kronologi-timor-timur-lepas-dari-ri-yang-diungkit-prabowo-dcJi

    Arham Wiratama

    Lahir di Jombang, 1 Agustus 1997 | Penulis "Deru Desir Semilir" (Intelegensia Media, 2016) dan "Segara Duka" (J-Maestro, 2018) | Belajar biola dan gitar di Spirit of Musik Jombang
    Arham Wiratama

    Latest posts by Arham Wiratama (see all)