Kemenangan Kotak Kosong di Pilwakot Makassar 2018

Kemenangan Kotak Kosong di Pilwakot Makassar 2018
Ilustrasi: ASUMSI

Nalar Politik – Fenomena Kotak Kosong di Makassar cukup menyita perhatian publik. Kemenangannya atas calon tunggal Pilwakot Makassar 2018, Munafri Arifuddin-Andi Rahmatika Dewi (Appi-Cicu), versi hitung cepat sejumlah lembaga survei, benar-benar mengejukan berbagai pihak.

“Kotak Kosong Makassar fenomenal. Pertama sepanjang sejarah demokrasi Indonesia. Rakyat Makassar punya prinsip dalam memilih pemimpinnya. #SaveKolomKosongMakassar,” kicau Kartika Ika Sari.

Bahkan hasil tersebut disyukuri sendiri oleh mantan calon Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto. Menurutnya, kemenangan ini akan mencetak sejarah di Indonesia.

“Saya pikir ini pertama kalinya di kota besar, rakyat bisa menang dengan people power,” kata Danny.

Ia pun mengimbau warga pendukungnya agar tidak euforia secara berlebihan.

“Tidak usah pawai. Jaga ketertiban dan jaga perasaan orang lain. Ini akan resmi kalau sudah ditetapkan oleh KPU. Prosesnya masih ada 10 hari untuk meng-crosscheck real count,” tambahnya.

Ditegaskan kembali bahwa kemenangan Kotak Kosong ini adalah kemenangan rakyat.

“Tidak ada yang kalah di sini. Kita semua menang. Karena Kotak Kosong tak ada yang punya. Ia milik rakyat. Ia adalah penjelmaan dari perjuangan rakyat,” pungkasnya.

Save Kotak Kosong

Beragam pertanyaan terkait juga bermunculan. Terlebih lantaran adanya indikasi manipulasi data Pilwakot, dan juga tidak diakuinya kemenangan si Kotak Kosong atas pasangan Appi-Cicu.

Hasil hitung cepat oleh KPU Makassar, misalnya, berbeda secara signifikan dengan hasil perhitungan di sejumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS). Dan hasil ini sudah dikantongi oleh sejumlah warga dengan bukti berupa dokumentasi foto.

“Hitung cepat Celebes Research Center (CRC) menyatakan Kotak Kosong unggul atas calon tunggal dengan perolehan 53,47 persen. Sementara, pasangan Appi-Cicu hanya memperoleh 46,53 persen suara. Itu pun hanya unggul di dua kecamatan, yakni Tamalate dan Manggala,” kicau Anisa Deasty Malela.

Belum lagi soal pelarangan media untuk meliput. Beredar pula kabar pelarangan warga untuk menyaksikan langsung proses demokrasi tersebut secara terbuka.

Maka kenapa seruan ‘Save Kotak Kosong Makassar’ jadi topik memanas di linimasa Twitter. Itu adalah respons warganet atas kondisi Pemilihan Wali Kota Makassar 2018, sekaligus menjadi kekhawatiran besar.

___________________

Artikel Terkait: