Kenapa Harus Ada Kehidupan Jika Akhirnya Datangkan Penderitaan?

Kenapa Harus Ada Kehidupan Jika Akhirnya Datangkan Penderitaan?
©Kompasiana

Pertanyaan seperti ini tidak akan muncul begitu saja di pikiran kita, melainkan ada sesuatu yang melatarbelakangi pertanyaan kenapa harus ada kehidupan jika akhirnya datangkan penderitaan? seperti itu terlintas.

Mungkin ketika hidup kita merasa nyaman, segala kebutuhan terpenuhi, segala yang diinginkan tercapai, setiap masalah bisa terselesaikan dengan mudah, tidak aka nada pertanyaan seperti itu. Namun sebaliknya, ketika apa yang kita cita-citakan tidak bisa tercapai, kemudian berbagai masalah menumpuk tidak bisa terselesaikan, pertanyaan seperti ini mungkin mulai merasuk ke tubuh kita.

Perlu kita pahami bersama bahwa kita sebagai manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna di antara makhluk-makhluk lainnya. Contoh sederhananya adalah binatang. Walaupun terdapat beberapa kesamaan kita dengan binatang dalam hal-hal tertentu, namun ada satu hal yang membedakan kita dengan binatang, yaitu akal.

Manusia dibekali akal oleh Tuhan, untuk mengelola jagat raya dan seisinya. Dengan akal, manusia bisa membedakan benar dan salah, hak dan batil, bersih dan kotor, bagus dan jelek, dan banyak sekali fungsi-fungsi sejenisnya.

Akal yang akan menuntun kita kepada jalan kebahagian, tapi akal juga bisa membawa kita menuju jalan penderitaan. Tergantung bagaimana atau seberapa jauh manusia mengfungsikan akal tersebut. Ketika kita bisa mengfungsian akal dengan baik dan benar, maka apa yang kita perbuat pasti tidak terlepas dari sesuatu yang baik.

Apa yang kita perbuat bukan semena-mena karena nafsu semata, melainkan sudah melalui proses berpikir panjang yang matang. Sehingga apa yang kita perbuat tidak merugikan orang lain maupun diri kita sendiri, melainkan keuntungan yang kita peroleh.

Perlu adanya pertimbangan di setiap kita melangkah. Karena bagaimanapun juga, secuil apa pun yang kita perbuat pasti akan berefek pada diri sendiri maupun orang lain.

Bagaimana Cara Menggunakan Akal?

Jawabannya adalah dengan belajar. Karena dengan belajar, kita bisa menggunakan akal kita secara optimal. Sehingga pengetahuan-pengetahuan yang kita peroleh melalui akal bisa termanifestasikan ke dalam setiap gerakan kita.

Berusaha sekuat mungkin dalam mendapatkan pengetahuan dan penggunaan akal. Karena bagaimanapun, manusia hidup di bumi dituntut oleh Tuhan untuk senantiasa berusaha dan berusaha, bukan untuk keberhasilan. Adapun keberhasilan, itu hanyalah bonus dari apa yang sudah kita usahakan.

Ketika sudah berusaha sekuat tenaga, namun apa yang kita cita-citakan belum tersampaikan, maka itu bukanlah sebuah penderitaan, melainkan cobaan. Kita dituntut hanya untuk berusaha dan berusaha. Ketika kita sudah berusaha, ya sudah, semua kita pasrahkan kepada Tuhan, selaku yang menciptakan kita semua.

Selama manusia masih bernyawa pasti akan selalu diberikan cobaan. Makin baik manusia dalam menjalankan proses kehidupan, maka cobaan yang diperoleh juga makin meningkat. Karena segala cobaan yang diberikan kepada setiap individu manusia akan membentuk karakter manusia-manusia yang kuat dalam menghadapi realitas kehidupan.

Dari sini kita sedikit mulai memahami bahwa semua tergntung pada diri kita masing-masing dalam menjalankan kehidupan. Jika kita sudah merasa berusaha, kemudian selalu mengeluh, maka cobaan sekecil apa pun akan menjadi peneritaan.

Namun ketika kita selalu berusaha dan bersabar dalam menghadapi segala cobaan, maka kita akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Semua kembali kepada diri kita masing-masing!

Baca juga:
    Muchammad Mugiono
    Latest posts by Muchammad Mugiono (see all)