Kenapa Menulis Harus Belajar?

Kenapa Menulis Harus Belajar?
©Freewrite

Kenapa menulis harus belajar? Inilah pertanyaan pertama yang saya hadapi saat mengikuti Kelas Menulis Nonfiksi Kreatif LBWF (Laksana-Basyaib Writing Firm) 2020 silam.

Sebelum mengulasnya lebih jauh, perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini akan berangkai. Sesuai materi yang saya dapatkan dari LBWF—15 materi dalam sebulan, satu per satu akan saya tampilkan ringkasannya di situs web ini. Tujuannya, tentu saja, agar publik luas bisa mengonsumsinya secara gratis (tidak berbayar seperti saya) dan bisa jadi bekal bagi yang ingin menindaklanjutinya dalam kerja-kerja penulisan.

Menulis Bukan Kemampuan Inheren

Kemampuan menulis bukanlah kemampuan inheren manusia. Kita tidak bisa memperlakukannya sama dengan kemampuan bicara yang, tanpa mempelajarinya terlebih dahulu, akan secara otomatis dapat kita terapkan.

Kemampuan bicara merupakan sifat dasar atau fitrah manusia, setara dengan kemampuan atau kebutuhannya untuk makan-minum, tidur, dan lain sebagainya. Menulis tidak termasuk dalam sifat dasar ini, dan karenanya menjadi alasan kenapa menulis harus kita pelajari.

Menulis, meski dalam banyak hal fungsinya sama dengan bicara, yaitu untuk berkomunikasi agar manusia memahami maksud masing-masing, adalah perkara yang berbeda. Manusia baru memperoleh kemampuan dalam menulis kurang dari lima ribu tahun—baru “kemarin sore” jika kita ukur dari usia homo sapien.

Sebagai pembuktian, LBWF menampilkan temuan para arkeolog bahwa bahasa tertulis tertua yang manusia kenal, dan berupa rangkaian kalimat, adalah tulisan-tulisan Enhudanna, putri seorang raja komunitas Ur di Sumeria, di selatan Mesopotamia, yang sekarang wilayah Irak dan Kuwait. Para peneliti menemukan teks karya putri raja yang terbuang ini berupa empat puluh dua syair puji-pujian kepada para dewa dan tiga puisi doa, tertulis kira-kira 4.200 tahun silam.

Kenyataannya, teks Enhudanna bukanlah naskah tertulis tertua dan bukan berupa syair atau cerita. Naskah tertulis pertama, dari masa beberapa puluh tahun sebelum teks Enhudanna, yang orang temukan di wilayah Sumeria juga, berupa angka-angka; semacam catatan akuntansi tentang tanah-tanah milik kerajaan, tentang jumlah total aset dan berapa biaya sewa masing-masing.

Maksud pencatatan itu untuk memastikan berapa pemasukan untuk kas kerajaan setiap bulan atau setiap tahun. Pencatatan juga bermaksud agar tidak terjadi “kebocoran” atau korupsi oleh aparat kerajaan di semua tingkat. Raja ingin tahu semua hartanya secara jelas dan utuh.

Temuan-temuan arkeologis itulah yang makin menegaskan bahwa menulis bukanlah kemampuan inheren manusia. Karena itu, setiap orang, jika ingin punya kemampuan menulis, perlu mempelajari segala sesuatu di seputar urusan ini.

Waktu Menulis

Kapankah sebaiknya manusia mulai belajar menulis, dan sampai kapan?

LBWF memberi saran: kegiatan belajar sebaiknya bermula sejak usia sedini mungkin, sampai waktu tak terbatas. Setiap orang, bahkan yang merasa sudah mahir menulis pun, hendaknya terus belajar selama hidup.

Namun ia melihat, kebanyakan orang rupanya tidak menyadari keharusan belajar sepanjang hayat ini. Bukan hanya oleh mereka yang jarang menulis atau yang ingin menjadi penulis, tetapi juga oleh kebanyakan penulis yang sudah “jadi”, yang sudah terbiasa menulis. Atau bahkan oleh para penulis yang sudah sangat terkenal, yang karya-karyanya sering terbit di media massa.

Mungkin para penulis terkenal itu, di awal karier kepenulisan mereka, menyadari bahwa menulis sangat berbeda dari bicara. Mereka tahu menulis adalah keterampilan yang harus mereka pelajari—dan mereka memang mempelajarinya.

Tetapi setelah merasa berhasil dan menjadi penulis terkenal, mereka lupa bahwa suatu keterampilan yang hanya bisa kita kuasai dengan belajar haruslah kita pelajari terus-menerus. Mereka lupa untuk bersikap rendah-hati; untuk tidak meremehkan keharusan belajar tanpa henti, hanya karena merasa publik luas telah menerima karya-karya mereka selama ini.

***

Untuk memulainya, hal paling mendasar yang perlu kita pahami: tindakan menulis adalah kehendak orang untuk menyampaikan ide atau pikiran kepada orang lain agar orang itu memahami maksud persis si penulis.

Dalam proses itu, terentang banyak jarak—fisik atau geografis, budaya dan pengalaman sosial antara si penulis dan sasaran pembaca, atau perbedaan tingkat pengetahuan di antara mereka. Itu sebabnya, bahkan dalam komunikasi tertulis, antara dua sahabat atau antara seorang bawahan dan atasan pun sering terjadi kesalahpahaman; sebab keduanya berada di dua tempat berbeda; masing-masing berada dalam suasana mental dan fisik yang sangat mungkin berbeda.

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by Maman Suratman (see all)