Kenapa Menulis Harus Belajar?

Guna menghindari akibat buruk dari banyaknya jarak dan peluang kesalahpahaman itu, maka (konsekuensi logis) penulis hendaknya menulis sejelas-jelasnya. Tuntutan kejelasan ini, bagi LBWF, lebih keras daripada dalam komunikasi lisan.

Dalam komunikasi lisan, si penutur atau komunikator ada di depan pendengar/pemirsa. Jika pendengar merasa ada yang tidak jelas, ia bisa langsung bertanya atau meminta penjelasan dari bagian yang tak jelas itu. Si penutur bisa menanggapi saat itu juga.

Dalam komunikasi tulisan tidak bisa begitu; si penulis tidak ada di hadapan pembaca. Jadi, menulis atau menghadirkan tulisan ke publik (media massa, media sosial) atau bahkan sekadar melalui jalur komunikasi personal seperti medium WhatsApp adalah tindakan yang mengandung risiko—risiko tersalahpahami.

***

Tentang perlunya belajar menulis terus-menerus, LBWF memberi contoh yang bagus pada seminar-seminar Robert McKee.

McKee adalah pengajar legendaris Amerika dalam penulisan, khususnya fiksi, termasuk skenario film, drama, novel. Pengajarannya, Story Seminar, terselenggara di puluhan negara. Belakangan ia juga mengajarkan teknik pemasaran dengan cerita. Para pemimpin bisnis di perusahaan-perusahaan seperti Microsoft dan General Electric mengundangnya.

Para kapten bisnis itu, yang telah sukses besar memasarkan produk-produk mereka, masih mau belajar pada McKee. Materi-materi pelajaran beserta masukan dari para peserta kemudian jadi buku Storynomics: Story-Driven Marketing in the Post-Advertising World.

McKee mengadakan seminar penulisan tiga hari atau 30 jam intensif. Beberapa pesertanya telah memenangkan Oscar atau masuk nominasi penghargaan itu untuk kategori skenario terbaik.

Sebaliknya, para penulis skenario yang karya-karyanya sudah jadi film pun ada yang masih mengikuti seminar McKee, seperti juga para penulis yang telah menulis belasan buku. Mereka merasa masih selalu ada yang perlu mereka pelajari dalam bidang yang telah lama mereka tekuni dengan sukses.

Baca juga:

Hal semacam itu, sikap rendah-hati dan semangat untuk terus belajar menulis, LBWF nilai kurang terlihat pada penulis-penulis yang merasa sudah terkenal. Rupanya mereka merasa karya mereka sudah beres belaka, dan tidak ada lagi yang perlu mereka tingkatkan dari segi teknik; mereka hanya perlu meningkatkan kualitas isi tulisan. Padahal kedua hal itu—yang dalam kesastraan disebut “isi dan bentuk”—sering terkait erat, tak selalu mudah kita pisahkan.

Untunglah situasinya mulai sedikit berubah. Dalam kursus menulis AS Laksana, misalnya, ada beberapa dosen dan guru yang ikut dengan antusias. Bahkan ada dua penulis senior, Nezar Patria dan Avianti Armand.

Nezar adalah pemimpin redaksi The Jakarta Post online. Avianti adalah arsitek senior yang mendapat beberapa penghargaan, memenangkan dua kali penghargaan Khatulistiwa untuk dua buku kumpulan puisinya, menerbitkan dua kumpulan cerita pendek, enam buku tentang arsitektur dan desain. Tiga novelis—yang karya-karyanya mendapat penghargaan sebagai karya terbaik atau sudah jadi film—juga ikut: Yusi A Pareanom, Ben Sohib, dan Felix Nesi, selain Ivan Lanin, pengamat tekun bahasa Indonesia.

Semangat para penulis seperti mereka sejalan dengan prinsip LBWF ini: suatu keterampilan yang hanya bisa kita kuasai dengan belajar perlu kita pelajari terus-menerus; dan suatu keterampilan yang dapat kita kuasai dengan mempelajarinya akan bisa kita kuasai.

Sebaliknya, tanpa terus-menerus mengasah kemampuan dengan teknik dan strategi terbaru, sepanjang apa pun pengalaman seseorang dalam menulis, karyanya tidak akan berkembang.

Sebagai contoh, baca pembukaan tulisan yang termuat di pewarta-indonesia.com ini:

Tahun 1980-an, UGM menyelengggarakan seminar dan workshop jurnalistik mahasiswa. Karena saya rajin menulis di koran Kedaulatan Rakyat, saya diminta mewakili mahasiswa MIPA untuk menjadi peserta seminar dan workshop di Gedung Pertemuan universitas itu.

Seminar dan workshop dibuka Menpora Abdul Ghafur. Keynot speakernya Jacob Oetama, pemimpin redaksi harian Kompas. Yang memimpin lagu Indonesia Raya, Titin Ayu Asih Suwandi, mahasiswa FE, yang langsing dan cantik.

Halaman selanjutnya >>>
Maman Suratman
Latest posts by Maman Suratman (see all)