Kenapa Menulis Harus Belajar?

Penulis catatan itu sudah menulis selama empat dekade, sejak berstatus mahasiswa di Jogja. Tetapi pengalaman saja ternyata tidak mampu mengubahnya sebagai penulis hebat. Masih banyak “masalah” dalam pembukaan tulisannya.

Dari pembukaan tulisan itu, dapatkah Anda menduga subjek apakah yang ia bahas? Tentu Anda tidak salah jika mengira tulisan itu membahas “seminar dan workshop” jurnalistik di UGM. Tetapi Anda keliru, sebab itu adalah obituari tentang Jakob Oetama (yang ditulis “Jacob”).

Dalam dua paragraf pendek itu, penulis tiga kali menyebut “seminar dan workshop”; ia bisa mengganti penyebutan ini dengan cara lain. Dengan sembrono ia menulis “keynot speakernya”; ia mestinya bisa menyajikan informasi yang benar, baik dalam ejaan (keynote speaker) maupun gramatika (misalnya, “pemberi pidato pembukaan”, atau “keynote speaker adalah…”). Nama-nama yang harusnya tercetak miring (surat kabar dan lagu kebangsaan) dicetak normal.

Buat apa juga penulis menyajikan informasi tentang pemandu kor lagu kebangsaan (di pembukaan pula), bahkan menyebutnya “yang langsing dan cantik”? Apa relevansi informasi yang berkonotasi seksis itu dengan pokok yang sedang ia bahas?

Contoh kecil itu menunjukkan bahwa seorang penulis, meskipun sudah menulis selama empat puluh tahun, tetap bisa melakukan keganjilan-keganjilan elementer yang mencolok, yang tak kunjung ia sadari.

Ia percaya pada hal yang telah terbukti tidak bisa kita percaya: bahwa keterampilan menulis otomatis meningkat hanya dengan membiasakan diri menulis, terus menulis, tanpa mempelajari aspek-aspek teknisnya. Ia tidak mau meneladani para peserta seminar Robert McKee atau para penulis yang mengikuti pengajaran Laksana.

Saatnya Belajar

Bagi LBWF, sekarang ini tiada tempat bagi kaum amatir atau orang-orang yang hanya mengandalkan bakat alam, tetapi berambisi mencapai prestasi tinggi di suatu bidang.

Hal itu berlaku untuk semua bidang keahlian. Ini berlaku untuk sepak bola (Messi dan Ronaldo tidak akan sehebat itu jika hanya mengandalkan bakat alam; mereka benar-benar tekun belajar di sekolah-sekolah bola), catur (Magnus Carlsen dan Kasparov tidak mungkin sehebat itu tanpa belajar secara akademis dan sistematis), akting, musik, melukis, dan lain-lain—dan tentu saja juga menulis.

Baca juga:

Jadi, mulai hari ini, kita akan mendalami soal-soal di seputar urusan itu. Kita terutama akan mempelajari bagaimana cara menulis yang efektif, yang meminimalkan kemungkinan tulisan kita tersalahpahami atau diterima secara tidak selengkap yang kita inginkan.

Kita juga akan mempelajari syarat atau perangkat-perangkat apa yang harus kita miliki untuk menghasilkan tulisan yang sesuai keinginan. Nanti akan terlihat bahwa perangkat-perangkat ini bukan hanya mencakup bahasa dan hal-hal teknis di sekitarnya, tetapi juga meliputi segi-segi strategi penyajian berikut komponen-komponen yang relevan; menyangkut teknik menyusun paragraf, mengatur irama tulisan, membuat judul, memilih diksi, dan lain-lain.

Pelatihan ini dapat berlaku untuk semua jenis tulisan nonfiksi, termasuk kolom surat kabar, artikel yang disebut “ilmiah populer”, juga teks akademis seperti skripsi, bahkan juga rilis pers (yang seolah merupakan bentuk sederhana dalam urusan humas, tetapi kita lihat masih banyak yang tersajikan secara buruk atau tidak jelas).

Maka mulai sekarang, saran LBWF, cobalah Anda membaca tulisan apa saja dengan lebih cermat dan dengan semangat mengamati (kolom di media, teks di grup WA, status orang di Facebook, pengumuman di instansi pemerintah, buku pelajaran sekolah). Lalu timbanglah: apakah teks-teks itu jelas, tidak ambigu, dan sejauh mana Anda memahaminya?

Minta juga pendapat teman tentang teks yang sama. Siapa tahu Anda mulai mendapatkan hal-hal yang relevan dengan pelatihan menulis ini. Siapa tahu Anda nanti, setelah membaca dan mengikuti semua saran yang ada secara tuntas, bisa membuat perbandingan yang berguna.

Tetapi perlu Anda ingat: yang tersaji di sini adalah tools, bukan rules; peralatan, bukan peraturan menulis.

LATIHAN
  1. Pilihlah 3 tulisan yang menurut Anda bagus, dan 3 tulisan yang menurut Anda buruk; bisa berupa berita dan artikel di media online atau bab buku.
  2. Bisakah Anda mencatat segi-segi yang membuat tulisan-tulisan itu baik atau buruk?
  3. Berjalan kakilah beberapa menit, lalu minum minuman kesukaan Anda—dan jangan lupa mendengarkan musik yang baik.

*Ringkasan Materi 1 Kelas Menulis Nonfiksi Kreatif LBWF

Maman Suratman
Latest posts by Maman Suratman (see all)