Kenapa Penentuan Cawapres Alot, Koalisi Prabowo Buntu, dan PAN Bimbang?

Kenapa Penentuan Cawapres Alot, Koalisi Prabowo Buntu, dan PAN Bimbang
Dialog Jurnal Pagi Berita Satu bersama Saidiman Ahmad, Peneliti SMRC | YouTube

Nalar Politik – Upaya penentuan calon wakil presiden, baik di kubu petahana Joko Widodo maupun di kubu penantang Prabowo Subianto, terlihat begitu alot. Terutama di tubuh oposisi, upaya itu seolah akan menjurus ke arah deadlock. Partai-partai pengusung terkesan mengalami jalan buntu dalam menentukan cawapres.

Hal lain yang juga sangat mencolok akhir-akhir ini adalah posisi Partai Amanat Nasional (PAN). Di satu sisi, PAN melalui Amien Rais tampil getol mengkritik pemerintahan Jokowi sembari terkesan mendukung Prabowo. Di sisi lain, secara kultural, tokoh-tokoh PAN (orang Muhammadiyah) justru sangat dekat dengan pemerintahan.

Hanya saja, dalam keputusan politiknya secara utuh, PAN masih tampak bimbang untuk menentukan arah koalisi. Belum jelas apakah akan mengikuti laku Amien Rais yang berjarak dengan Jokowi ataukah tokoh-tokoh PAN lainnya seperti Din Syamsudin, Malik Fadjar, Muhadjir Effendy, dan Syafii Maarif yang dekat dengan petahana.

Dalam Dialog Jurnal Pagi Berita Satu, Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad berkesempatan membahas perkara ini. Terkait penentuan cawapres, meski terlihat begitu alot, Saidiman memastikan bahwa upaya itu tidak akan mengalami deadlock atau jalan buntu.

“Kita punya semacam kultur politik, keputusan koalisi atau keputusan penetapan capres dan cawapres dari masing-masing koalisi itu biasanya di hari-hari akhir. Karena memang pertimbangannya sangat banyak. Ada berbagai macam kekuatan politik yang bertarung di sana. Jadi, saya kira, kalau deadlock, mungkin tidak,” terang Saidiman.

Dalam hal ini di kubu Prabowo, kesan akan deadlock itu lantaran terpengaruh dari kuasa Partai Demokrat yang jauh lebih besar dari partai-partai lainnya. Partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini terbilang partai pendukung yang baru, tetapi punya daya tawar kuat dalam menentukan cawapres bagi Prabowo.

“Daya tawarnya tentu saja dari berbagai macam apsek. Aspek pertama adalah Partai Demokrat lebih memiliki suara lebih banyak daripada partai-partai yang lain, 10,18 persen. Kemudian yang kedua, dalam berbagai macam survei, nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) lebih di atas dibanding yang lain.”

Meski demikian, deadlock dalam menentukan keputusan di kubu Prabowo tidak akan terjadi. Keputusan itu, bagi Saidiman, hanya perkara waktu saja.

“Tidak akan deadlock. Mereka pada akhirnya akan punya keputusan.”

Cawapres Ideal

Dalam menentukan cawapres ideal bagi masing-masing kubu, Saidiman punya saran berdasar hasil survei SMRC. Menurutnya, partai-partai politik pengusung, baik pengusung Jokowi maupun Prabowo, sudah harus mampu berpikir jernih.

“Mereka harus paham, yang mereka hadapi hari ini adalah warga dengan kesadaran kritis. Mereka berhadapan dengan kelompok warga yang sudah mampu mempertimbangkan secara rasional setiap pilihan politik yang akan diambilnya.”

Ada juga memang efek dari tokoh-tokoh yang diusung oleh koalisi partai terhadap perolehan suara, tetapi aspirasi dari arus bawah, tegas Saidiman, tidak boleh diabaikan. Bagaimanapun, arus bawah masih jauh lebih besar pengaruhnya ke perolehan suara, maka itu tetap harus diperhatikan.

“Kalau suatu partai plinplan, misalnya sampai detik-detik akhir tidak bisa memutuskan mendukung calon yang mana, itu akan membuat publik di bawah menjadi ragu. Maka partai harus hati-hati, karena kesadaran warga semakin baik.”

Lantas sosok cawapres seperti apa yang paling pas untuk masing-masing kubu? Apakah dari tokoh militer, birokrat, atau agamawan?

“Survei SMRC menemukan, faktor sosiologis dan demografis, yang biasanya secara tradisional kita percaya penting dalam pilpres, itu semakin tidak relevan. Yang relevan pada warga kita sekarang ini adalah figur yang dinilai positif, punya kualitas personal yang baik.”

Meski banyak anggapan bahwa sebaiknya cawapres itu dari kalangan agamawan saja, dalam hal ini dari komunitas Islam sebagai mayoritas, tetapi Saidiman menyangkalnya.

“Itu bisa. Tetapi kita punya pengalaman tidak demikian. Mulai dari pemilu 2004, kalangan agama yang muncul saat itu, Amien Rais, Hamzah Haz, kita tahu, mereka berada di urutan terakhir dalam pemilu saat itu.”

Pun begitu di tahun 2009. Jusuf Kalla yang mewakili kalangan santri dan Wiranto dari militer juga berakhir di posisi buncit. Fakta ini semakin menunjukkan bahwa aspek sosiologis dan demografis sama sekali tidak terlalu kelihatan pengaruhnya dalam pemilu.

“Penjelasannya sederhana. Kalau religiositas diukur, apakah ia berpengaruh dalam pilpres atau tidak, kenapa itu tidak berpengaruh? Karena masing-masing calon sebetulnya sama-sama Islam. Apakah faktor Jawa dan luar Jawa berpengaruh? Masing-masing calon adalah orang Jawa.”

Posisi PAN

PAN, bagaimanapun, masih tetap menarik untuk diajak bergabung. Dilihat dari basis massa, walau partai ini bercorak nasionalis bukan religius, tetapi basis massanya adalah massa Islam. PAN berbasis massa Muhammadiyah sebagai salah satu kelompok mayoritas di negeri ini.

“Secara kultural, di sana PAN posisinya,” kata Saidiman.

Bicara posisi PAN berdasar aspek kultural ini, maka posisinya cenderung sebagai pendukung Jokowi. Fakta pun memperlihatkan, banyak tokoh Muhammadiyah berada di koalisi Jokowi. Sebutlah Din Syamsudin, utusan khusus presiden untuk dialog agaragama; Malik Fadjar, anggota Wantimpres dari jalur profesional; serta Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan di Kabinet Kerja.

“Jadi, secara kultural, orang-orang yang dilihat oleh massa Muhammadiyah ini sebagai figur itu ada di sana (di kubu Jokowi), di samping Syafii Maarif yang juga kelihatan dekat dengan Jokowi.”

Sekali lagi, lanjut Saidiman, basis massa PAN sebetulnya punya kedekatan dengan figur-figur yang ada di dalam pemerintahan Jokowi. Setidaknya dekat dengan Jokowi secara personal.

“Ya, walaupun sebetulnya tokoh lain dari Muhammadiyah seperti Amien Rais sangat dekat dengan Prabowo. Jadi sebetulnya terbelah. Secara umum, besar kemungkinan secara kulural PAN dengan koalisi petahana.”

Meski PAN hari ini tampil 2 kaki, tetapi fenomena itu, menurut Saidiman, adalah sebatas tradisi politik belaka.

“Kita tidak bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin saja sikap yang ditunjukkan Amien Rais itu hanya ingin menaikkan daya tawar PAN saja.”

*Tonton video dialog selengkapnya di sini:

Tentang penentuan cawapres yang alot bersama Saidiman Ahmad

_____________

Baca juga:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi