Kenapa Regional Arab Akan Membaik?

Kenapa Regional Arab Akan Membaik?
Foto: YÜKLE.MOBİ

Nalar WargaTanda-tanda perbaikan dan kebangkitan negara-negara di regional Arab tercium baunya. Walaupun masih penuh dengan ancaman dan hambatan. Saya akan menjelaskan alasan saya berpendapat seperti itu dalam ulasan ini.

Jika Anda belum membaca ulasan sebelumnya, lebih baik dibaca dulu Kenapa Arab Begitu Kacau? Pada dasarnya, ulasan ini merupakan kelanjutan dari ulasan tersebut.

Dari sejarah Timur Tengah kontemporer, ada 2 perang besar di Timur Tengah yang mengubah struktur kekuasaan di dunia Arab, yaitu Perang Teluk I dan Perang Teluk II. Perang Teluk I dilakukan Presiden Amerika Serikat George Bush untuk menghukum Irak yang menyerang Kuwait.

Perang Teluk II dilancarkan oleh anaknya, yang juga Presiden Amerika Serikat George Bush Jr. Kali ini menyerang Irak untuk menghabisi pemimpin Irak Saddam Hussein yang menjengkelkan Amerika. Alasannya yang dipakai adalah Saddam membuat senjata pemusnah manusia, yang pada dasarnya bohong.

Perang Teluk II dilakukan setelah peristiwa teror 911, yang berlanjut dengan penyerangan Amerika ke Afghanistan untuk menggulingkan Taliban. Pada saat itu, dunia dikejutkan ada ancaman baru, yaitu Terorisme Islamis Radikal. Osama bin Laden merupakan poster boy dari ancaman ini.

Para perancang Perang Teluk punya ideologi yang solid waktu itu, yang dinamakan konservatif baru (neocon). Neocon punya pandangan untuk membuat order dunia baru di bawah kepemimpinan Amerika setelah runtuhnya Uni Soviet. Untuk itu, beberapa yang menjadi penghalan seperti Saddam harus disingkirkan.

Tetapi bagaimana dengan ancaman terorisme islamis radikal? Bukankah beberapa puluh tahun regional Arab sukar dirasuki oleh gerakan islamis radikal justru dengan adanya negara-negara regional Arab sekuler yang berbasis sosialisme Partai Baath seperti Irak dan Suriah?

Ini jadi bahan pemikiran neocon juga.

Kekhawatiran ini diredakan oleh pandangan seorang sejarawan Islam asal Inggris, Bernard Lewis. Dia berpendapat, Islam sudah mengalami kemunduran, dan kemunduran terorisme islamis adalah simpton yang jelas. Berkat pandangan Lewis, Bush yakin diri, mari serang Saddam Hussein.

Ok. Sekarang kita tahu Lewis keliru. Justru dengan vakumnya kekuatan di Irak, ISIS muncul secara kuat di sana. Dan apakah Amerika bisa membereskannya? Tidak juga. Karena presiden demi presiden berganti. Ada yang tidak mau pusing soal itu. Makanya beberapa tahun ISIS jadi penyakit di Irak.

Lihat juga: Palestina Tidak Butuh Khilafah

Saya juga dulunya pikir Amerika melakukan kesalahan besar menyerang Irak. Kenapa harus menumbangkan rezim-rezim sekuler, walaupun memang diktator, hanya untuk kemudian menyebabkan power-vacuum dan merebaknya islamis radikal?

Kebijakan Bush dilanjutkan oleh Presiden Obama.

Mau neocon atau neolib, sama saja. Mereka getol banget menumbangkan rezim-rezim sekuler di Timur Tengah. Pada waktu Obama, state secretary Hillary Clinton nafsu banget menumbangkan Presiden Libia, Muammar Qaddafi. Padahal sebenarnya pengaruh Qaddafi kecil di Timur Tengah, kenapa ditumbangkan?

Pandangan Obama kelihatannya ada ciri SJW (Social Justice Warrior). Dia punya pandangan tatanan dunia ideal, walaupun beda dengan tatanan dunia Bush. Dia berpikir kalau rakyat dibebaskan dari diktator akan langsung menjadi negara demokrasi yang lucu-lucu, happy-happy. Hehe, gak gitu, bos.

Gerakan Arab Spring yang didukung Obama menumbangkan Presiden Mesir Husni Mubarak. Rakyat dansa-dansi di jalan, euphoria. Gak tahunya, sebagian yang dansa-dansi itu para islamis radikal, yang punya rencana jauh lebih matang daripada kelompok sekuler yang merasa terbebaskan.

Kelompok islamis radikal Ikhwanul Muslimin dengan cepat menguasai arena politik di Mesir. Mereka menang dan terbentuklah pemerintahan berciri Islam di Mesir. Waduh, kena deh, kan?

Pemerintahan ini akhirnya jatuh oleh kudeta militer.

Saya ingat suka menertawakan Obama gara-gara itu. Makanya jangan sok SJW-SJWan deh. Alternatifnya adalah kelompok islamis radikal, yang mimpi untuk bisa menghancurkan New York kedua kalinya. Tetapi belakangan ini saya menyadari, saya salah menganalisis situasi.

Saya salah membuat dikotomi pertentangan di Timur Tengah. Tadinya saya pikir ini antara Nasionalisme Arab vs Islamisme. Latar belakang kesadaran itu saya tulis dalam Kenapa Arab Begitu Kacau?

Tidak ada Nasionalisme Arab secara serius di Timur Tengah. Pan-Arabisme itu hanya ciptaan kaum intelektual Arab awal abad 20. Karena terdorong oleh keinginan lepas dari kekuasaan Turki Ottoman dan Eropa. Dan malah dibantu disolidkan oleh Inggris demi tujuan melawan Ottoman.

Walaupun Nasionalisme Arab/Pan-Arabisme itu bullshit, itu menjadi semacam ide yang tidak ada yang berani terus terang menolak. Sama seperti ideologi Islam, gak ada yang suka terus terang menolak. Akhirnya berpuluh-puluh tahun Arab dirundung oleh semacam kepura-puraan dan terlihat munafik.

Tetapi islamisme itu nyata, didukung oleh ideology seperti Sayyid Qutb, dan gerakan Wahabisme di Saudi. Karena setidaknya setiap Jumat muslim salat berjamaah di masjid, dan selalu ada masjid yang berjibaku mempertahankan islamisme. Ideologi ini sukar mati.

Lihat juga: Megaproyek Arab Saudi – Israel, Sebuah Kamuflase Politik

Karena itulah dunia Arab rentan untuk terjerembab masuk dalam lumpur islamisme radikal. Karena tidak ada ideologi/pemikiran lain yang dikembangkan sebagai saingan. Pan-Arabisme itu nonsense. Sesuatu yang tidak mengakar. Cuma buat lip-service.

Kalau situasi begitu memelas, kenapa saya bilang Arab akan membaik? Karena belakangan ini jelas-jelas terlihat kesadaran untuk mengembangkan “Identitas Nasional”. Nasionalisme yang unik di masing-masing negara bukan dalam bentuk Pan-Arab.

Saya akan coba perlihatkan beberapa dari pertanda tersebut.

Tanda yang paling jelas adalah masalah Gaza. Ternyata yang paling banyak bersuara soal Gaza malah negara-negara Barat. Bagaimana dengan Arab? Sepi. Gak ada unjuk rasa serius seperti yang mereka lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Bahkan di Palestina Tepi Barat, gak ada demo gede-gedean mendukung Hamas.

Pada dasarnya rebut-ribut Gaza di negara-negara Barat juga tersembunyi sebagai unjuk penentangan terhadap kebijakan Presiden Amerika Donald Trump. Jadi tidak melulu soal Gaza, tetapi karena Trump bela Israel, and the enemy of my enemy is my….

Dari dulu, penelitian arkeologi sering dibatasi di Saudi Arabia, karena sentivitas agama. Sekarang terlihat regional Arab malah mulai antusias terhadap peninggalan moyang mereka sebelum Islam, seperti peradaban Nabatean.

Amerika menghancurkan diktator-diktator rezim sekuler regional Arab untuk tujuannya. Tetapi yang tidak diduga adalah, walaupun akhirnya memperkuat islamis radikal, satu impian juga hancur bersama rezim-rezim tersebut, yaitu Pan-Arabisme, karena rezim-rezim itu pendukung kuat Pan-Arab.

Satu-satunya rezim dengan cara pandangan Partai Baath tempo doeloe di Arab saat itu adalah rezim Assad di Suriah. Tapi dia sudah gak relevan. Pantat sendiri saja sudah diselematkan, jangankan bisa menghidupkan Pan-Arab. Sekarang Assad lebih dikenal sebagai antek iran saja.

Dengan hancurnya impian Pan-Arabisme, maka semua jadi mikir, alternatifnya apa? Apa mau jadi islamis seperti ISIS atau Muslim Brotherhood?

Akal sehat mulai muncul. Akal yang dibentuk oleh kenyataan hidup. Bukan oleh angan-angan seperti Pan-Arab. Bahwa untuk bertahan, mereka harus punya identitas diri.

Di sinilah letak harapan regional Timur Tengah itu. Identitas masing-masing akan menguat. Seseorang akan bangga disebut warga Lebanon pewaris Phoenecia, ketimbang warga Arab. Orang Suriah ketimbang Arab.

Masalah yang belum kelar memang akhirnya, batas-batas negara gak selalu pas.

Dengan munculnya identitas masing-masing negara, pengambilan keputusan akan lebih rasional, dan tertuju pada kepentingan negara sendiri. Fokus ada pada bagaimana supaya warga negara hidup lebih sejahtera, bukan soal pertikaian regional yang gak habis-habis.

Lihat juga: Kenapa Wilayah Arab Begitu Kacau?

Jika wilayah regional Timur Tengah tersebut bisa berkembang seperti itu, maka tidak tertutup kemungkinan regional tersebut akan maju seperti Asia Timur. Kalau negara-negara sudah fokus pada diri sendiri, bukan masalah-masalah pertikaian mboten-mboten yang dibawa oleh sejarah, kesejahteraan dan kemajuan akan gampang dicapai.

Komentar saya untuk negara-negara di sana: sebelum minyak kalian habis, mending cepat-cepat selesaikan masalah dan membangun sumber daya manusia dululah. Kalau entar minyak habis, duit pun habis, dan masih gitu-gitu aja, maka bisa jadi banyak negara di sana akan kek bangsa nomaden dulu lagi.

Ide utama dari ulasan inilah adalah: Nasionalisme Arab sudah gak relevan, sudah mati. Itu fakta. Masa depan regional Arab saat ini untuk jangka panjang terletak di munculnya identitas/jati diri masing-masing negara. Gagalnya ini akan menarik region ini ke dalam islamisme.

4-5 tahun silam ketika Arab Spring berkobar, dan islamis meraih kemenangan di negara-negara Arab, banyak yang menduga, habis deh dunia Arab akan dilanda islamisme. Shock pada waktu itulah yang membuat banyak elite-elite Timur Tengah memikirkan ulang lagi prioritas dan identitasnya.

Hari ini, yang masig memimpikan Pan-Arabisme itu Cuma yang sedang mengawang-ngawang. Seperti Presiden Suriah Assad. Padahal dia sendiri sudah jadi persona non-grata di regional Arab. Mimpi tuh yang masih mengidamkan Pan-Arabisme.

Lalu apa efek matinya Pan-Arabisme bagi Israel? Sejak beberapa tahun lalu, jelas Israel sudah mengalihkan strategi survivalnya, dengan menjalin hubungan dengan negara-negara Arab. Masalah utama Israel sekarang cuma rezim mullah Iran yang terobsesi dengan Israel dan islamis radikal.

Salah satu moral of the history di sini, tindakan Amerika yang semena-mena menghabiskan pemerintah sekuler di sana, yang dikritik banyak orang (saya termasuk), ternyata bisa berakibat bagus tanpa diduga, dengan mematikan mimpi Pan-Arabisme yang sebenarnya tidak masuk akal.

*Kultwit @Mentimoen

___________________

Artikel Terkait:
Netizen NP
Pengguna media sosial | Warganet