Kendeng dan Orang-Orang Gendeng

Kendeng dan Orang-Orang Gendeng
Foto: Tirto

Pagi itu, burung-burung bernyanyi
Bernada melankoli
Pohon-pohon tempatnya menghidupi
Seketika mati
Tumbang di tangan tirani

Para pemilik modal datang
Janjikan lapangan pekerjaan
Dengan tumbal berupa alam
Mengeksploitasi tanpa nurani
Dengan sistem kapitalis
yang bengis!

Orang-orang gendeng itu,
melanggengkan penindasan
‘Lestarikan alam bukan coloteh belaka,’
begitulah kata Bang Iwan

‘Tanamkan bibit-bibit perlawan!’
Widji Thukul dalam kuburnya berbisik

Meski mereka berlindung di balik pagar aparat
Jangan takut untuk berhenti berbuat
Baris-berbaris satukan tekad

Tuhan menganugerahi alam
Untuk dijaga dan dilestakan
Bukan cuma menyuburkan perut
buncit Si Kapital

Sebelum alam mulai marah
Dari jamahan orang-orang serakah

Kendeng tetap melawan!

Mempertanyakan Keadilan

Setiap Kamis, suara orasi terdengar
Mempertanyakan nasib keadilan
Para pahlawan kemanusiaan
yang gugur tanpa kejelasan
Menolak lupa dalam ingatan

Mereka yang mengorbankan nyawa
Mereka mewariskan bara asa
Kepada generasi para pemuda
Berjuang dengan idealisme
Berperang memenangkan kebenaran

Barangkali hidup hanya sekali
Buatlah hidup menjadi lebih berarti

Mereka memang sudah mati
Namun pengabdiannya untuk negeri
Akan tetap abadi

Dalam perjuangan yang berlanjut kita tapaki

Kembang Merah

Aku petik kembang merah
Dari taman sejarah
Yang merekah
Kuhirup dalam-dalam,
sedalam kekejian
Cerita dari zaman ke zaman

Sedari kecil aku didik untuk menjauhi
Diberi vaksinasi agar alergi
Pada kembang merah
Yang tak punya salah
Didakwa paksa bersalah

Aku tak takut
Dalam hasutan kemelut
Yang dicap sundal
Pada kembang merah

Karena bebauan penderitaan
Rakyat kecil yang terhisap
Lingkaran kejam para tuan pemodal
Ada pada kembang merah
Yang kini terjuntai ke tanah
Dibiarkan layu
bagi orang yang enggan tahu-menahu

    Muhammad Fatwa Fauzian

    Mahasiswa IAIN Kudus, Jurusan Pemikiran Politik Islam
    Muhammad Fatwa Fauzian

    Latest posts by Muhammad Fatwa Fauzian (see all)