Kepada Lutta Nipewayu, Alosongang Nipewamba – Tammatemo Naung Setang

Kepada Lutta Nipewayu, Alosongang Nipewamba – Tammatemo Naung Setang
Ilustrasi

Kepada ‘Lutta Nipewayu’: sebagaimana manusia memanusiakan manusia, aku pun akan memperlakukanmu layaknya sebuah tema: men-temakan tema.

Beginilah kira-kira. Tema sekadar akan jadi “tokoh” jika tak diberi karakter yang melekat padanya. Karena itu, karakter yang dilekatkan untuknya itulah membuat tema jadi hidup.

____________

Untuk Tema,

Tiga hari terakhir ini, aku menduga kau akan sedikit bingung bahkan lelah. Pasalnya, kau jadi topik pembicaraan di beberapa grup media sosial. Bukan tanpa sebab, itu bermula saat Ikatan Pelajar Mahasiswa Majene Yogyakarta (IPMMY) menamaimu dengan Lutta Nipewayu, Alosongang Nipewamba – Tammatemo Naung Setang.

Karakter yang diberikan IPMMY padamu itu mendapat beberapa tanggapan. Ada yang menganggap bahwa karakter yang dilekatkan itu merupakan hal yang tidak pantas, tidak mendidik, tidak berisi harapan baik, bahkan ada yang mengatakan kalau dirimu asal-asalan atau omong kosong.

Endhi Dhi, salah satu netizen berkomentar dalam kiriman Fecebook: “ … Temanya terkesan sembrono sekali, berkonotasi negatif (ekstrem dan radikal), gak mendidik. Membuat tema unik boleh keren, tapi da’ sapau-paummu nert…..”

Armin Mansur kemudian hadir membenarkan komentar Endhi Dhi. Katanya, “…. tema itu adalah sampel capaian. Jadi apa salahnya kalau temanya kedengaran mendidik…”

Sekilas, setelah membaca komentar-komentar tersebut, aku jadi dihantui rasa bersalah padamu, Tema. Sebagai bagian dari IPMMY, aku membayangkan bagaimana bisa organisasi daerah ini telah memberimu kehidupan menjadi tema yang tidak terdidik, asal-asalan, dan menjadi bahan olokan beberapa orang.

Sejahat itukah IPMMY? Aku menduga, kau pun telah menaruh curiga pada kami. Tapi tunggu dulu, mungkin beberapa penjelasan berikut ini bisa memberimu pertimbangan sebelum menentukan kepercayaanmu atas penilaian dan tuduhan yang dilayangkan pada kami.

Bagaimanakah kau si Tema sebagai tokoh? Lalu bagaimana seharusnya manusia memberi penokohan kepadamu? Apakah IPMMY telah menodai kesucianmu sebagai sebuah tema?

Untuk pertanyaan pertama, aku berpendapat bahwa kau sebagai tokoh dilahirkan dalam keadaan yang tidak-tidak. Tidak perempuan, tidak juga laki-laki; tidak jahat, tidak juga baik; tidak kanan, tidak juga kiri. Artinya, kau sebagai tokoh tidak memiliki identitas ataupun daya apa-apa sampai manusia meniupkan karakter penokohan ke dalam dirimu.

Hal ini menandakan bahwa manusialah yang punya otoritas terhadap keseluruhan dirimu. Akan jadi seperti apa kau nantinya, itu tergantung pada siapa yang menokohkanmu. Karena itu, jawaban pertanyaan kedua menjadi penting untuk  segera dirampungkan.

Saya kira telah ada kesepahaman, baik dari IPMMY (yang memberimu karakter penokohan) maupun beberapa netizen (yang memberi tanggapan terhadap karakter penokohan yang diberikan untukmu) bahwa kau si Tema harusnya menggambarkan harapan, keinginan, ataupun tekad yang positif.

Sekalipun Endhi, misalnya, menekankan bahwa kau tidaklah mendidik, tetapi IPMMY tetap melihat sebaliknya: kau hidup sebagai tema yang mendidik. Lalu, apa yang membuat penilaian mendidik/tidak mendidik terhadap kau itu jadi berbeda?

Aku curiga, ukuran mendidik dan tidak mendidik yang digunakan oleh Endhi Dhi dan Armin Mansur adalah pemakaian term dalam tema tersebut. Seolah-olah mereka men-judge bahwa “term” dilahirkan telah membawa nilai sendiri-sendiri (baik atau tidak baik) yang bersifat mutlak dan menafikan konteks penggunaannya.

Misalnya, kata “malas” (lutta), “bohong” (alosongang), “mati” (mate), “setan” (setang), semua mutlak dilahirkan untuk golongan kata yang “tidak baik”. Sedangkan kata “rajin”, “jujur”, ”hidup”, ”malaikat”, mutlak dilahirkan untuk golongan kata yang “baik”.

Penilaian dan pengkotak-kotakan kata inilah, menurut saya, adalah tindakan sembrono. Bukan apa-apa ya, takutnya pemakaian kata “takbir” semakin dinilai baik semua orang walaupun diikuti oleh seruan untuk merusak sendi-sendi kemanusiaan. Atau bisa jadi karena penilaian mutlak kita terhadap kata “rajin” itu baik, maka semua penggunaannya pasti mendidik. Entah itu pemakaiannya dalam konteks “rajin mencuri”, “rajin membunuh”, dan “rajin-rajin” lainnya.

Jadi, yakinlah, Tema, kami gunakan kata lutta, losong, tammatemo’, setang pada dirimu itu tidak lantas menjadikanmu sebagai sebuah tema yang tak mendidik. Aku akan bercerita pada konteks seperti apa kami menghidupimu dengan kata-kata tersebut.

Sebenarnya, proses kelahiranmu didasari oleh dorongan yang sama dengan kebanyakan orang melahirkan tema, yakni sebagai upaya reflektif berbenah diri menjadi lebih baik. Kami ingin menjadi Ikatan yang lebih rajin dan jujur lagi dalam segala hal baik yang dapat memajukan Ikatan kami ke depannya ini.

Mungkin bedanya, dalam tema kebanyakan selain dirimu, kami berpandangan bahwa untuk benar-benar ingin berbenah, maka langkah yang paling awal seharusnya diambil adalah berani mengakui kekurangan, bukannya langsung terfokus pada akan jadi lebih baik seperti apa nantinya. Karena pada kekurangan itulah tempatnya sebuah pengupayaan kebaikan. Begitu, bukan?

Saya tidak mengatakan bahwa pemakaian tema yang menggunakan titik fokus “hasil” adalah keliru. Tapi, sependek pengalaman saya, tema yang dilahirkan seperti itu cenderung terlalu membuai hingga biasanya lupa pada upaya awal pembenahan—mengidentifikasi hal-hal yang tidak baik selama ini. Seolah-olah tidak ada masalah dalam organisasi yang melatarbelakangi semangat pembuatanmu.

Tahukah kau, Tema, kalimat lutta nipewayu, alosongang nipewamba – tammatemo’ naung setang adalah semangat berbenah yang luar biasa? Kami menyadari bahwa lutta dan alosongan adalah hal yang kontra-produktif dalam konteks Ikatan kami. Makanya, kalimat tammatemo’ naung setang adalah semangat menggebu-gebu kami untuk menyumpahi setan (lutta, alosongang) agar mati dalam Ikatan kami.

Tidakkah kau melihat, Tema, begitu mulianya kau bagi Ikatan kami? Apakah kau lalu akan memutuskan percaya pada tuduhan mereka yang mengatakan bahwa kau dilahirkan sebagai tema yang tidak mendidik? Entahlah. Tapi aku penasaran dengan jawabanmu tentang itu.

*Tulisan ini sepenuhnya kuniatkan agar dirimu tidak baperan mendengar beberapa tanggapan tak berdasar dalam penciptaanmu.

    Riandy Aryani