Kepemimpinan Muhammad dalam Filosofi Piagam Madinah

Kepemimpinan Muhammad dalam Filosofi Piagam Madinah
©Islami

Ada korelasi antara karakteristik kepemimpinan Muhammad dengan konsep filsafat demokrasi yang sudah diterapkan oleh para pendahulu.

Nilai dasar demokrasi serta kebijakan pemerintah di Indonesia kini sedang gencar-gencarnya dipertanyakan kejelasannya.

Jika ditarik secara historis, konsep demokrasi serta kebijaksanaan seorang pemimpin pertama kali sudah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jauh sebelum terbentuknya negara-negara demokrasi seperti Indonesia, Norwegia, Islandia, dan masih banyak lainnya.

Penerapan Nabi Muhammad terhadap umat pada kala itu dinamakan Piagam Madinah. Dari situ bisa kita analogikan bahwa Nabi juga seorang filsuf dan pemikir yang cemerlang untuk kemaslahatan umat.

Piagam Madinah ditulis pertama kali ditulis pada tahun 622 masehi. Secara historis, Piagam Madinah dibuat untuk menyelesaikan pertikaian suku-suku di Madinah. Bahkan, Piagam Madinah diklaim sebagai konstitusi tertulis pertama kali di dunia.

Lewat perjanjian ini, Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan kebijaksanaan serta prinsip konstitualisme yang demokrasi dalam menyelesaikan pertentangan antarsuku atau kabilah di Madinah. Dengan lahirnya piagam ini pula Nabi Muhammad dapat kita nobatkan sebagai pemikir atau filsuf sejati dalam menemukan kerangka konsep demokrasi.

Sebelum jauh kita memperdalami pemikiran dan keberfilsafatan Nabi dalam sistem demokrasi serta kebijaksanaan, alangkah baiknya kita pahami dulu apa itu demokrasi. Secara etimologis, “Demokrasi” berasal dari bahasa Yunani. Terdiri dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan cratein/cratos yang berarti pemerintah. Sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat atau sering dikenal dengan pemerintahan dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat.

Kembali pada Piagam Madinah. Secara substansial, terdiri dari 47 pasal. Sebanyak 23 pasal membicarakan hubungan antara umat Islam, yaitu antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin. Sementara 24 pasal lainnya membicarakan hubungan antara umat Islam dengan umat-umat lainnya, termasuk umat Yahudi.

Dengan begitu, Nabi Muhammad SAW berhasil membuka pintu perdamaian dari pertikaian beberapa kabilah atau suku. Tanpa adanya pertumpahan darah. Tanpa adanya pemaksaan dalam penyelesaian yang diprakarsai Piagam Madinah.

Baca juga:

Karena kecemerlangan Nabi Muhammad SAW, Marshal GS Hodgson dalam karyanya The Venture of Islam menuliskan bahwa Muhammad telah menciptakan pemerintahan lokal yang baru yang didirikan atas dasar pandangan kenabiannya. Namun, segera setelah itu, pemerintahan tersebut mencapai dimensi internasional yang berjangkauan jauh.

Dengan cepat ia telah menjadi kekuatan yang bersaing di Arab. Bukan hanya dengan kaum Quraiys, melainkan juga dengan kekaisaran Byzantium dan kekaisaran Sassaniyah. Peperangan-peperangan telah menciptakan kekaisaran Arab.

Ini merupakan prestasi-prestasi yang hebat sekali. Dalam Filsafat Jawa, Nabi SAW juga sudah mencerminkan prinsip ing ngarso sun tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

Dengan demikian, karakter kepemimpinan Muhammad SAW yang menggunakan kiat persuasif, approach, diplomasi, dialog konsensus, dan rekonsolidasi tersebut sudah membuktikan betapa kepekaan sosial serta ketajaman pemikiran beliau tak ada tandingannya. Dalam hal ini, penulis mencoba memberikan korelasi karakteristik kepemimpinan Muhammad SAW dengan konsep filsafat demokrasi yang sudah diterapkan oleh para pendahulu.

Jadi, dapat disimpulkan bahwasanya Nabi Muhammad SAW bukan hanya seorang Rasul yang membawa risalah kenabian, menyampaikan wahyu dari Tuhan, dan penyempurna akhlak terhadap umat. Tetapi Nabi Muhammad juga seorang filsuf atau pemikir yang tak bisa dimungkiri lagi atas keberhasilan beliau dalam mengonsep konstitusi sebuah negara demokrasi pertama kali di dunia.

Dengan ini pula, kita dapat sedikit membuka mata atas dogma mentah yang mengatakan bahwa filsafat itu kebanyakan menyebabkan kesesatan atau kesalahan berpikir. Terbukti bahwasanya jika Nabi Muhammad SAW sendiri sudah berfilsafat dalam memimpin kemaslahatan umat di Madinah kala itu.

    Moh. Ainu Rizqi

    Mahasiswa | Twitter: @ainurizqi342
    Moh. Ainu Rizqi

    Latest posts by Moh. Ainu Rizqi (see all)