Keperawanan, Seksualitas, dan Diskriminasi Perempuan

Menurut catatan tahunan Komnas Perempuan (2016), kasus pemerkosaan makin meningkat. Kasus kekerasan seksual naik menjadi peringkat kedua dari keseluruhan kasus kekerasan terhadap perempuan. Bentuk kekerasan seksual tertinggi pada ranah personal adalah pemerkosaan, yakni sebanyak 2.399 kasus. Pelakunya didominasi oleh kaum laki-laki.

Maraknya kasus perkosaan, pelecehan seksual, dll sering kali menjadikan perempuan yang berpakaian minim dan seksi sebagai penyebab. Padahal, terlepas dari pada itu, ada juga perempuan yang berpakaian sopan, berkerudung, bahkan perempuan bercadar pun juga menjadi korban pemerkosaan atau pelecehan seksual.

Sejatinya, hasrat seksual itu muncul bukan karena terbuka dan tertutupnya bagian-bagian tubuh. Tetapi lebih terhadap mindset atau pikiran dari “pelaku” dan “korban” (Rif’atuz Zuhro, 2017).

Diskriminasi terhadap perempuan itu terjadi di ruang privat (domestik), sampai pada ruang sosial (publik). Budaya itu cenderung menempatkan posisi sosial kaum laki-laki lebih tinggi dari kaum perempuan.

Sehingga, masyarakat cenderung mewajarkan adanya perilaku pelecehan terhadap perempuan dalam bentuk sekecil apa pun. Misalnya, dengan menggoda atau bersiul kepada perempuan di jalan.

Rif’atuz Zuhro (2017) menjelaskan ketika perempuan hanya sebagai objek untuk menyalurkan hasrat seksualitas, maka secara tidak langsung sudah membunuh hak hidup bagi perempuan. Sebab yang namanya hidup dia mempunyai hak untuk memilih kehidupan yang lebih baik, bukan hanya sebagai barang yang bisa laki-laki nikmati. Sebab masih banyak cara yang lebih humanis untuk sama-sama saling memanusiakan manusia.

Fakta lain yang sering kita temukan mengenai proses diskriminasi terhadap perempuan ada pada rumah tangga. Bahkan hal ini mendapat dukungan dari pendekatan agama.

Neng Dara Affiah dalam bukunya Islam, Kepemimpinan Perempuan dan Seksualitas menjelaskan bahwa tafsir agama cenderung menempatkan perempuan pada ranah domestik; melekatkannya sebagai penjaga “gawang” kebahagiaan dalam rumah tangga yang mewujud dalam bentuk memelihara anak, mendampingi suami, dan “tanah garapan” yang bisa “dicangkul” kapan pun dan di mana pun.

Baca juga:

Islam, misalnya, ayat yang sering orang kemukakan adalah: Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah terdahulu. (QS. Al-Ahzab: 73).

Ayat itu maknai oleh para agamawan konservatif yang merupakan arus besar dari kalangan Islam sebagai perintah untuk perempuan berdiam di rumah; dan jika pun harus keluar, maka hanya dalam kondisi darurat atau ada kebutuhan yang agama benarkan; seperti akan melaksanakan salat. Itu pun dengan syarat dapat memelihara kesucian dan kehormatannya (Tafsir al-Qurtubi, dalam Nasarudin Umar, Jurnal Demokrasi dan HAM, 2002).

Demikian pula dengan ajaran Katolik. Tafsir yang sering mengemuka untuk menempatkan perempuan (istri) di rumah adalah dengan mengibaratkan perempuan sebagai “pelengkap” suami (laki-laki). Dalam (Efesus 5:22):

Istri harus tunduk kepada suami, karena suami adalah kepala istri, seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dan dalam (1 Korintus 11:7-9): Adam yang pertama jadi barulah Hawa, lagi pula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh dalam dosa.

Padahal, kalau mau kita kritisi, rumah tangga yang berawal dengan perkawinan yang dalam tafsir agama adalah untuk menciptakan ketenteraman dan kedamaian di antara dua anak manusia; laki-laki dan perempuan. Sehingga harus ada sama rasa, dan keseimbangan sehingga tidak mesti ada perlakuan tidak setara di dalamnya.

Akhirnya kita lihat di berbagai negara-negara, misalkan di Eropa, perempuan sangat kencang melakukan gerakan seperti kesetaraan gender, gerakan feminisme. Tentu gerakan-gerakan ini muncul dan kemudian berkembang berdasarkan realitas bahwa perempuan sering mengalami pendiskriminasian, pengucilkan, penindasan, dan lain sebagainya. Sehingga melawan adalah bentuk paling konkret untuk meretas proses pendiskriminasian ini.

Nardi Maruapey
Latest posts by Nardi Maruapey (see all)