Kernet

Kernet
Foto: twimg.com

Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya Sukardi memutuskan untuk menerima pekerjaan kernet yang ditawarkan oleh sahabat karibnya, Kahar. Ia telah mempertimbangkan dengan matang segala sesuatu yang bakal terjadi kepadanya. Termasuk persoalan salat yang barangkali akan sering ia tinggalkan. Sukardi akan bekerja sebagai kernet menggantikan kernet sebelumnya yang telah berhenti.

Sebagaimana biasanya seorang kernet, ia akan bertugas membantu dan menemani Kahar. Ia adalah sopir truk di pabrik “Berkah” yang mengelola belacan khas Madura milik Pesantren Dâr al-‘Ilm wa al-‘Amal di Kabupaten Pamekasan. Dalam praktiknya, Kahar bertugas mengantarkan belacan-belacan itu kepada toko-toko belacan sesuai dengan jatah pesanan. Diantar ke berbagai daerah, seperti Lamongan, Nganjuk, Klaten, Yogyakarta, Magelang, Pemalang, Kebumen, Kudus, Indramayu, Bekasi, dan Jakarta. Bahkan tak jarang ia mengantarkannya sampai keluar daerah Jawa, seperti Jambi, Kendari, dan Singkawang.

Seperti yang diprediksikan sebelumnya, ketika aktif bekerja sebagai kernet yang siang dan malamnya banyak dihabiskan di atas jalan, kehidupan Sukardi sudah jauh berubah dari sebelumnya, khususnya dalam hal peribadatan, yaitu salat fardu yang sering kali ia tinggalkan. Padahal, sebelum itu, ia sangat aktif dalam melaksanakan salat yang lima waktu, bahkan salat tahajud.

Selain faktor lingkungan, baik situasi maupun kondisi yang kurang memungkinkan untuk melaksanakannya, juga karena faktor malas saat lelah mengintainya untuk segera beristirahat. Sehingga kalau dulu ia melaksanakan salat bergantung kepada waktu yang telah ditentukan, tetapi sekarang ia bergantung kepada situasi dan kondisi. Apabila situasi dan kondisinya memungkinkan, maka ia akan melaksanakan salat itu. Semisal, beristirahat lama di sebuah gubuk, warung, pom bensin, musala, masjid, atau ketika berada di atas kapal.

Sukardi yang biasanya disuguhi oleh gemuruh ombak di lautan lepas dengan canda-tawa kawan-kawannya yang bersahut-sahutan semasih bekerja menambang pasir di kampung halamannya, kini hanya berteman Kahar dengan lagu-lagu yang kadang membuai dan hingar-bingar suara motor, mobil, pabrik-pabrik besar, serta macet yang menjemukan.

Kalau pagi dan sore hari, ia biasa memuaskan matanya pada ranumnya pepohonan dan rerumputan di ladang-ladang dan perbukitan di samping rumahnya. Sekarang, ia diterbelalakkan oleh sinar lampu-lampu yang berjejer menghiasi jalanan di kota-kota besar dan para pengemis, anak-anak jalanan yang semakin hari semakin memprihatinkan.

Kalau tiap malam, ia biasa menghamburkan senyum rekahnya pada pelukan keluarga besarnya sembari menikmati hidangan film-film legendaris semacam “Kian Santang”. Tapi, sejak ngernet, malam-malamnya selain sering dicandai oleh hembusan angin-angin malam dan jalanan rusak berbalut sepi yang mencemaskan. Juga sering dihantui perasaan kangen sama ibu-bapaknya di rumah. Maklum. Ia baru pertama bekerja hingga keluar kota dan belum terbiasa berpisah lama dengan mereka mengingat waktu libur kerjanya juga tidak menentu. Itu pun cuman sebentar. Kadang dalam satu minggu hanya satu hari, kadang cuma dua hari dalam sebulan.

Di awal-awal kariernya menjadi kernet, kurang lebih tiga minggu berturut-turut, otak dan pikiran Sukardi disesaki dan dijejali oleh perasaan bersalah. Membuat hatinya selalu gelisah. Karena ia sering meninggalkan salat lima waktu dan tahajud yang seharusnya dikerjakan. Ia merasa bersalah kepada Allah, ibu-bapaknya, dan kiai Sobrun yang pernah mewanti-wantinya ketika masih mondok di Pesantren Dâr al-‘Ulûm untuk tidak meninggalkan salat di mana pun ia berada, khususnya yang lima waktu. Sehingga kadang terlintas dalam pikirannya untuk berhenti dari pekerjaan itu dan kembali bekerja sebagai tukang tambang pasir di kampung.

“Anak muda! Apa yang sedang kamu pikirkan?” tepuk tangan lelaki separuh baya kepada pundak Sukardi mengagetkan lamunannya di selasar masjid kota Ciamis, Jawa Barat. Sukardi tidak tahu persis dari mana datangnya lelaki itu dan hendak ke mana ia pergi. Tapi, dari penampilannya, dengan tas gendong dan tongkat kayu di tangan kanannya, ia seakan menampakkan seorang musafir yang sedang melakukan tirakat jalan.

Tanpa pikir panjang, ia langsung menuturkan segala keluh-kesah dan gundah-gulana hidupnya kepada lelaki yang diketahui bernama Marhafi itu. Termasuk dilematisasi hidup yang sedang ia hadapi. Salah satunya adalah keputusannya berhenti menjadi tukang tambang pasir. Karena ia merasa bersalah kepada alam setelah menyaksikan kerusakan laut semakin parah dan memprihatinkan.

Di sisi lain, ketika memutuskan berhenti dari pekerjaan itu dan pindah kepada pekerjaan ngernet, ia terus dihantui perasaan bersalah kepada Allah dan ibu-bapaknya. Karena sering lalai dalam melaksanakan salat yang lima waktu. Padahal ia diizinkan untuk ngernet oleh ibu-bapaknya setelah Sukardi meyakinkan mereka untuk tetap melaksanakan salat fardu itu.

“Anak muda, bagi saya, salat itu tidak lain adalah sebatas wasilah atau sarana, bukan sebuah tujuan. Ia menjadi sarana untuk kita bersyukur dan mendekatkan diri pada Allah. Sehingga dengan begitu, jiwa kita akan senantiasa bersih dan nyaman. Ketika hati kita sudah bersih dan nyaman, maka ia akan memberikan nilai positif dalam menjalani kehidupan ini, seperti melakukan sesuatu yang baik dan meninggalkan keburukan, termasuk perusakan alam.

Persoalannya adalah banyak di antara kita yang masih terjebak dan berdebat dalam ranah wasilah bukan pada tujuannya. Sehingga tidak heran apabila seseorang yang sering melaksanakan salat hanya sebatas menunaikan kewajiban tanpa mendapatkan tujuannya. Salah satunya adalah mendidik jiwa agar menjadi bersih dan nyaman.

Bagaimana banyak kita jumpai kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh para mushallî, baik kejahatan kepada negara dan bangsa, alam, binatang, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, karena salat bukan sebuah tujuan, maka kamu bisa melakukan cara-cara lain untuk bersyukur dan mendekatkan diri pada Allah. Semisal, perbanyak berbuat baik kepada orangtua dan sesama, zikir dalam hati sewaktu kamu berada di perjalanan.

Imam Ibn Hazm ra dalam Mu’jamnya menyatakan bahwa seseorang yang meninggalkan salat fardu dalam keadaan sengaja, tidak wajib baginya mengganti (menggadha)-nya. Sebagai penggantinya, ia harus memperbanyak melakukan kebaikan kepada sesama, atau memperbanyak salat sunnah, atau memperbanyak baca istighfar kepada Allah (Mu’jam Fiqh Ibn Hazm adh-Dhahiri, II, t.th. 567).

Selain itu, dalam al-Qur’an disebutkan bahwa termasuk orang-orang yang tidak merugi nanti di akhirat itu adalah orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan yang berhak baginya sebuah surga (al-‘Ashr: 3).

Karenanya, saya kurang sependapat terhadap sebuah ungkapan para kiai yang menyatakan bahwa nanti di akhirat yang dihisab pertama kali adalah salat. Ketika salatnya bagus dan diterima, maka ia langsung masuk surga. Tetapi, sebaliknya, sekalipun ia memiliki kebaikan yang banyak, ia akan masuk neraka terlebih dahulu hanya karena disebabkan salatnya yang jelek. Mereka biasa menyandarkan pernyataan itu kepada hadis Nabi yang belum diketahui sahih dan tidaknya. Kalau pun itu benar hadis dan sahih secara sanad, maka saya sependapat untuk mendha’ifkannya secara matan karena bertentangan dengan al-Qur’an dan akal sehat.

Menurut Alquran, surga itu juga untuk orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan (al-Baqarah: 25, 82 & Muhammad: 12 dan lain sebagainya). Bahkan Allah sendiri mewanti-wanti umat ini untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan kepada siapa pun (al-Baqarah: 148). Tentu hal ini sangat relevan dengan konteks timbangan amal nanti di akhirat. Sehingga masalah masuk surga atau masuk neraka juga ditentukan oleh berat dan tidaknya amal kebaikan atau keburukan kita.

Pertanyaan sederhananya adalah apakah mungkin pahala salat itu bisa mengalahkan pahala lain dari kebaikan-kebaikan yang kita miliki? Menurut saya, beratnya pahala salat dan kebaikan yang lain akan menjadi satu kesatuan yang akan saling membantu dalam melawan beratnya keburukan-keburukan yang kita kerjakan. Bukan malah sebaliknya, yaitu pahala salat akan melawan pahala kebaikan yang lain.

Anak muda, kalau menurut saya, sebaiknya kamu tetap melanjutkan pekerjaan sebagai kernet. Persoalan salat jangan terlalu dirisaukan. Bagaimana pun Allah tidak bisa dibatasi dengan itu-itu saja. Barat dan timur adalah milik-Nya. Kamu bisa menyetubuhinya melalui hembusan napas yang dihirup kemudian dimuntahkan. Karena ia adalah zikir panjang nan halus yang tak akan pernah putus hingga maut menjemput.

Yang terpenting lagi, kamu tabung baik-baik uang gajianmu itu sebagai bekal kelak ketika sudah berhenti. Yaitu, semisal, membangun pabrik keripik pisang dan singkong di kampungmu. Sehingga kamu tidak perlu banyak berdakwah untuk menghentikan tetangga-tetanggamu melakukan perusakan terhadap perbukitan yang dikeruk batu-batunya. Hutan-hutan yang ditebang pepohonannya untuk dijual. Lautan yang digerus terus-menerus pasirnya dan sekarang hanya tinggal karang yang menganga kepanasan sebagaimana kamu ceritakan tadi.

Anak muda, al-Mashlahah al-‘Ammah Muqaddam ‘alâ al-Maslahah Fardiyyi (kemaslahatan komunal harus lebih diutamakan dari pada kemaslahatan individu). Izâ Ijtama’a Haqq Adamiyyin wa Haqq Allah Quddima Haqqu Adamiyyin (ketika hak anak Adam dan hak Allah saling bercampur satu sama lain. Maka dahulukanlah hak anak Adam). Walau disadari, memenuhi kedua-duanya adalah paling baik kalau itu memungkinkan,” ceramahnya panjang lebar sembari mengambil selembar kertas dalam kantong gendongnya.

“Ini kenang-kenangan dari saya untuk kamu amalkan di sela-sela lelahmu dari pekerjaan itu,” tambahnya pelan. Sejurus kemudian, ia pergi tanpa pamit meninggalkan Sukardi yang masih fokus membaca kertas itu yang berisikan syair.

___________________

*Klik di sini untuk membaca cerpen-cerpen lainnya.

Latest posts by Imam Jasuli (see all)