Kerusakan yang Ditata Ulang

Kerusakan yang Ditata Ulang
©Blogspot
BPJS Busuk

Lagu-lagu berputar di kepala
dengan panasnya asam lambung
aku berangkat menjemput air matamu
saat melihat bercak merah darah
di sapu tangan putih itu

O kekasih kelabuku,
dunia ini tidak akan absurd
bila pemimpin kita sejak dahulu jujur
orde sembilan delapan memang sungguh
membikin malu sampai sejarahnya diubah[1]

Adikku, sayangku, bunga putihku!
bronkitis kronisku kambuh lagi
dan aku berangkat ke dokter, dia bilang,
“Mana uang?”
dan bukankah BPJS ini sudah semestinya
melunasi segala biaya yang ada?

Oh Tuhan, bila kartu ini tidak berfungsi
maka buat apa aku membayar iuran setiap bulan
dengan hasil bumi yang sudah dirusaki pabrik?
juga gelang-gelang warisan nenekku
dan cincin-cincin emas buyutku
apalagi sawah-sawah leluhurku!!!

Kerusakan yang Ditata Ulang

Aku adalah pelangi tanpa warna
membias di matamu yang ganas

O negara, cinta, serta derita yang nyata
aku berpayung kepada presiden putih
dengan hati yang kuyakini juga suci
namun terlalu banyak fondasi rusak
telah dibangun oleh pendahulu yang galak

Pakdhe Jokowi!
kupercayakan hatiku padamu
meski susah ini sungguh serius
tetap aku rasa engkau berkerja
dengan sangat becus

Presiden…
wajahmu yang cerah mencokelat
layaknya orang kelahiran Jawa[2]
semacam kulitku pula,
maka Pakdhe … susun[3]lah Indonesia!

Ramalan Jayabaya

Adalah suatu cerita di mana ada raja
sekaligus pertapa yang laku spiritualnya bagus
beliau meramalkan akan datangnya pemimpin
yang melebihi gagahnya elang dan matahari
dan bukankah burung itu sudah terbang
dengan sayap putih dan baju sederhananya?

Jokowi…
ayahku yang pernah
menjadi DPR Jombang itu bilang
“Jokowi itu kurang tampak gagah
semestinya harus pakai jas.”

Pakdhe…
di negara ini, hanya tiga presiden
yang aku doakan, yakni Soekarno
orang NU besar di Jombang
dan engkau seorang yang masih hidup

Mungkin bila Indonesia belum maju
di zamanmu ini, aku pasti menanti
akan presiden lain yang wataknya
serupa dengan dirimu, Pakdhe
cuma belum ketemu orang sebaik itu


[1] Di sekolah-sekolah, buku sejarah diorat-arit isinya. Pramoedya dan orang macam aku tentu murka.

[2] Orang Jawa, konon katanya, halus dan baik. Memendam amarah meski marah. Dan aku belum pernah melihat Pakdhe Jokowi marah. Karena orang Jawa semestinya memang begitu.

[3] Seperti sunan-sunan menyusun hati orang nonmuslim menjadi damai. Toh agama cuma baju, yang penting itu kedamaiannya.

    Arham Wiratama
    Latest posts by Arham Wiratama (see all)