Kesadaran Sejarah untuk Emansipasi Perempuan

Kesadaran Sejarah untuk Emansipasi Perempuan
©Blibli

Kesadaran Sejarah untuk Emansipasi Perempuan

Dalam perkembangan masyarakat, peran perempuan sangatlah berkontradiksi dengan kepentingan kaum perempuan. Diskriminasi dan praktik-praktik penindasan selalu menjerat kaum perempuan dalam lingkungan sosial masyarakat yang cenderung patriarki.

Sementara fakta sejarah, perempuan memiliki andil dalam perebutan kemerdekaan dan perlawanan terhadap penjajah. Hal ini bisa dilihat dalam sejarah bangsa Indonesia yang tidak terlepas dari perjuangan perempuan-perempuan pemberani yang turut berpartisipasi dan membangun kekuatan bangsa.

Di akhir abad-19, dengan berkembangnya sistem politik etis Belanda, tentunya tidak menjadi hambatan untuk menciptakan perubahan bagi masyarakat pribumi. Pada waktu itu, kondisi masyarakat dan konstruksi berpikir masih mengalami ketertinggalan, apalagi kaum perempuan. Sehingga keterbelakangan pola pikir perempuan menjadi sebab langgengnya budaya patriarki yang menyengsarakan mereka.

Maka muncullah seorang perempuan keturunan bangsawan dengan kesadaran politik dan bercita-cita membebaskan perempuan dari belenggu penindasan yang selama ini menjerat mereka tanpa kebebasan. Perempuan itu bernama R.A. Kartini, yang sangat berperan penting dalam perkembangan bangsa dan emansipasi perempuan.

Dia membangun sekolah untuk perempuan, karena kentalnya budaya yang selalu mengikat dan terkurung, sehingga R.A. Kartini hadir membuat inovasi baru untuk membebaskan perempuan dari cengkeraman budaya yang mengikat, dan bisa mendapatkan pengetahuan yang layak.

Namun, seiring perkembangan, tentunya perjalanan menuju kemerdekaan tidak berhenti sampai di situ. Peperangan yang terus-menerus terjadi justru melahirkan lebih banyak tokoh-tokoh perempuan dalam berpartisipasi untuk membantu kaum laki-laki saat berperang. Yakni di antaranya Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Christian Martha Tiahahu dan Roehana Koedoes serta masih banyak lagi yang coba membuktikan kekuatan perempuan di hadapan publik.

Padahal waktu belum ada doktrinasi menuju kesetaraan hak politik dengan laki-laki tetapi mereka mampu untuk membangun sejarah dalam konfrontasi pribumi dan kolonialisme Belanda. Sehingga perlahan-lahan konstruksi sejarah mulai merajut peran perempuan dengan kesadaran politik, sampai mereka memobilisasi dan mengorganisasikan diri, seperti beberapa organisasi perempuan yang pada waktu itu mulai eksis.

Baca juga:

Salah satunya Putri Merdika, sebagai organisasi perempuan yang lahir pada 1912. Organisasi tersebut berorientasi untuk memberikan pendidikan-pendidikan politik bagi perempuan dan membentuk mentalitas serta mampu tampil di depan umum.

Dan yang paling penting dan memengaruhi perjalanan sejarah sampai hari ini, terkait dengan lahirnya Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928. Pada tahun yang sama kaum perempuan melaksanakan Kongres Perempuan pada 22 Desember, di Yogyakarta. Kongres tersebut bertujuan untuk menuntut hak-hak kesetaraan perempuan dalam segi apa pun, sehingga terbentuknya persatuan perempuan.

Untuk mengenang kongres persatuan perempuan karena bentuk kesadaran mereka terhadap kondisi sosial politik kita sering menyebutnya dengan Hari Ibu pada 22 Desember. Lahirnya kongres tersebut bukanlah sebuah persaingan persatuan dengan kongres pemuda pada 28 Oktober, tetapi lebih cenderung menjadi sebuah kekuatan dalam mengalang semangat perjuangan tanpa memandang gender. Sehingga mobilisasi perlawanan dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat yang lahir atas kesadaran kaum tertindas.

Oleh karena itu, kita dapat berkesimpulan bahwa perempuan juga memiliki andil dalam perubahan dan perkembangan negara, serta memiliki hak politik dan kesetaraan. Namun, di era sekarang peran perempuan selalu diabaikan, bahkan tidak jarang kita jumpai kasus-kasus kekerasan dan diskriminasi yang didapatkan.

Banyak stereotipe yang berkembang di masyarakat kita hari ini, memosisikan peran perempuan menjadi makhluk nomor dua, dan menganggap perempuan sebagai pekerja reproduktif dalam dunia domestik (Menjaga anak, mengurusi rumah dll). Sementara pekerjaan domestik seperti itu merupakan sebuah kesepakatan di antara dua orang, tetapi adagium perempuan merupakan pekerja reproduktif dalam dunia domestik, menjadi sebab terbentuknya patriarki di dunia sosial yang sampai hari ini masih bertahan.

Maka perempuan akan di perhadapkan dengan berbagai masalah dan stigma negatif di lingkungan sosial. Misalnya ada dua asumsi umum yang kita dapatkan seperti, (1) Marginalisasi; yang itu sering terjadi dalam prospek ekonomi, perempuan selalu mendapat posisi pekerjaan yang tidak selalu strategis dan selalu dibeda-bedakan. Karena banyak anggapan bahwa potensi perempuan tidak seperti laki-laki.

(2) Stereotipe negatif; perempuan selalu mendapatkan pelabelan negatif yang inheren seperti manja, cengeng, lemah, dll. Hal itu justru menjadi sebuah kepincangan gender dengan melabeli perempuan dengan hal-hal subjektif, padahal persoalan seperti itu merupakan sebuah pembentukan lingkungan yang tidak selamanya ada.

Untuk itu paradigma yang cenderung mendiskriminasi kaum perempuan haruslah di hilangkan, sebab mereka juga punya hak-hak untuk kesetaraan dan berekspresi di lingkungan sosial. Selain itu kaum perempuan juga mesti memiliki kesadaran intelektual dalam melihat kondisi sosial hari ini, dan mau mengorganisasikan diri dalam melawan sistem patriarki yang selalu menindas mereka.

Baca juga:

Banyak sekali perempuan itu selalu dilecehkan di instansi-instansi formal seperti perkantoran dan dunia pendidikan, tetapi banyak dari mereka yang tidak berani mengungkapkan fakta yang sebenarnya, karena selalu di intimidasi.

Namun untuk mengantisipasi akan hal itu, perempuan mesti mengembangkan potensi intelektual dan mempelajari sejarah perjuangan parah tokoh-tokoh perempuan, karena dari merekalah menjadi motivasi untuk membangkitkan semangat perubahan. Dan mampu membebaskan diri dari belenggu penindasan yang ada.

Sebab, sebagai manusia—laki-laki atau perempuan, kita tetap sama di mata sistem yang menindas. Sehingga perlu adanya membentuk kesadaran ideologis untuk dapat memahami setiap perihal kehidupan yang sering kali dianggap lumrah bagi orang lain. Apalagi perempuan sebagai manusia yang sering di anggap remeh, maka berpengetahuan dan mengorganisasikan diri untuk melawan adalah hal yang sangat penting untuk dilaksanakan.

Akhir dari saya, mari menjaga harkat dan martabat seorang perempuan, sebagai bentuk kepedulian kita dan cinta terhadap Ibu pertiwi, serta selalu mendukung perjuangan kaum perempuan.

Fikram Guraci