Kesaktian Menulis

Kesaktian Menulis
©IDN Times

Kesaktian menulis itu akan makin terlihat apabila diawali dengan membaca, membaca, dan membaca.

Manusia memiliki fitrahnya, yakni sebagai makhluk yang berpikir. Sehingga setiap orang membutuhkan yang namanya alat atau media supaya bisa menyampaikan apa yang dipikirkannya dengan menempuh berbagai cara. Salah satunya menulis.

Menulis merupakan sebuah kegiatan atau aktivitas yang membuat seseorang akan terasa bebas untuk berimajinasi. Tertantang karena dapat memacu adrenalin. Akan merasa senang sekaligus emosi. Semuanya itu bercampur menjadi satu. Ya, begitulah kira-kira yang akan dirasakan ketika kita menulis.

Ketika menulis, orang akan merasa termotivasi dan semangat untuk terus mengeluarkan ide, gagasan, dan pemahaman yang menyangkut fenomena, realitas kehidupan yang disorot dalam kacamata ilmu dan pengetahuan. Artinya, menulis merupakan upaya untuk membuat teks yang bersumber dari cara melihat realitas atau fenomena yang terjadi dengan berdasar pengetahuan yang dimiliki atau didapatkan.

Ilmu pengetahuan bisa dapatkan dengan salah satu cara, yakni membaca, baik itu membaca buku, informasi, serta membaca fenomena alam itu sendiri. Membaca merupakan keharusan yang mesti dilakukan untuk seseorang itu bisa menulis. Sebab, kesaktian menulis itu akan makin terlihat apabila diawali dengan membaca, membaca, dan membaca.

Membaca merupakan aktivitas menginput data dan informasi yang selanjutnya kita proses dan kita olah yang kemudian kita transformasikan dengan menulis. Melalui rangkaian proses ini, dinamika ilmu pengetahuan terus berjalan dari masa ke masa.

Dengan membaca, baik membaca teks maupun fenomena, kita akan memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman yang tidak kita ketahui sebelumnya. Sedangkan dengan menulis, kita mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang kita peroleh sebelumnya melalui proses membaca.

Lalu, apa itu menulis?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Ada juga beberapa penjelasan yang bisa dijadikan sebagai sumber untuk mengetahui dan memahami defenisi menulis.

Baca juga:

Menurut Prof Dr. Henry Guntur Tarigan dalam buku Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (2008) bahwa menulis ialah kegiatan menuangkan ide atau gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampaiannya.

Sedangkan menurut Pranoto (2004), menulis berarti menuangkan buah pikiran ke dalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan. Sehingga dari pengertian-pengertian di atas, bagi saya, menulis adalah mengaktifkan imajinasi.

Seno Gumira Ajidarma pernah berkata dalam sebuah karya yang diberi judul Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara, bahwa menulis adalah suatu bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.

Setiap tulisan akan terasa menarik apabila banyak mengandung nilai edukasi dan pembaca merasa tertarik untuk terus membaca tulisan tersebut. Sebab, menulis adalah sesuatu yang maha asyik.

Ada kutipan yang bagi saya sangat provokatif dari Pramoedya Ananta Toer bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”. Karena bagi Pram, menulis adalah kita bekerja. Bekerja untuk keabadian. Saat orang yang menulis mengalami kematian, tubuhnya saja yang akan hilang, namun pemikirannya akan kekal.

Artinya, kita tidak akan pernah mengenal seorang penulis dari berbagai zaman, berbagai negara, baik yang masih hidup atau sudah mati, kalau mereka tidak menulis. Atau kita tidak mengetahui dan memahami pemikiran-pemikiran mereka kalau mereka tidak menulis.

Kita mengenal pemikiran para ilmuwan dari Yunani, seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan Rene Descartes. Dari Timur (Islam), ada Ibnu Sina, al-Kindi, al-Farabi, hingga para intelektual sekaliber Aguste Comte, Karl Marx, Antony Gidens, Sigmund Freud, Mahatma Gandhi, Al Ghazali, Murtada Muttahari, Ali Syariati, dan masih banyak lagi.

Mereka dikenal oleh dunia karena menulis, baik itu teori, pemikiran, ide, dan gagasan. Sebab mereka menyadari bahwa keberadaan mereka akan terasa apabila mereka menulis. Dan bagi mereka, Aku menulis maka ku ada, atau “Scribo Ergo Sum” , “I write then I exist”.

Baca juga:

Yusrin Ahmad Tosepu (2019) dalam tulisannya Menulis Itu Mengembangkan dan Menyebarluaskan Ilmu, mengatakan bahwa bisa bayangkan apa yang terjadi sekiranya para ilmuwan terdahulu yang telah banyak melahirkan teori kehidupan tidak pernah menuliskan ilmu yang diperolehnya. Bisa jadi saat ini kita tidak akan tahu tentang teori matematika, fisika, kedokteran, dan lain seperti yang ditemukan oleh para ilmuwan terdahulu.

Bahkan, saya berani katakan kalau peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan tidak akan pernah terjadi jika tidak ada satu orang pun di dunia ini yang menulis. Pemikiran dari seorang penulis tentu akan bertahan selama bertahun-tahun, bisa juga sampai berabad-abad, dan akan mampu melampaui zaman saat tulisannya dibuat.

Apalagi di tengah era banjir informasi seperti saat ini. Sudah seharusnya kita memaksimalkan penggunaan waktu kita untuk hal-hal yang lebih produktif. Yakni, melalui kegiatan membaca dan menulis.

Motivasinya untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman. Kemudian mentransformasikan ulang dengan berbagai temuan dan produk pemikiran yang lebih kreatif dan inovatif. Melalui apa? Adalah karya tulis sebagai bentuk upaya pengembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat manusia.