Kesalahpahaman yang Menguntungkan

Kesalahpahaman tentu sangat merugikan, bahkan menyakitkan. Tapi siapa bilang bahwa salah paham itu selalu seperti itu?

Salah paham mungkin bisa saja sebaliknya. Misalnya saja, ketika kita dalam situasi darurat, tiba-tiba ada yang datang menolong karena menyangka kita adalah saudaranya. Jadi kesalahpahaman ini justru menggeser makna, bahkan memenjarakan makna baru yang tercipta. Tulisan ini akan membahas permasalahan kronik dan unik ini.

Salah satu yang menarik dari sebuah kasus sepele datang dari kancah lokal yang justru keberadaannya berasal dari lagu internasional. Band Jepang, Kiroro, dengan lagunya Mira e (masa depan) sangat enak didengar. Lagu masa depan berbau keibuan jika ditinjau dari isi lirik lagunya.

Namun, menariknya di Indonesia, lagu ini memiliki kesamaan dengan lagu yang dimiliki oleh Via Vallen, seorang penyanyi populer saat ini. Nada dan musiknya sama dengan lagu masa depan tersebut walaupun ada sedikit berbeda. Bagaimana sebuah nada bisa bergeser ini dapat dirasakan dengan lagu Sayang milik Via Vallen.

Menariknya, kesan kerinduan akan ibunya menjadi hilang ketika kita mendengar lagu Via Vallen ini. Mungkin itu dikarenakan lagunya berbau dangdut, terlebih lagi dengan lirik yang sangat berbeda. Lagu Via Vallen terkesan sebagai penantian oleh seorang kekasih. Jelas-jelas ini berbeda namun sama, bukannya hal serupa itu aneh? Pada akhirnya, kedua lagu ini pasti menguntungkan bagi mereka berdua.

Salah satu kesalahpahaman juga muncul dari film Disney, The Jungle Book. Sebenarnya film ini berkisah tentang seorang anak manusia yang dibesarkan oleh kawanan serigala. Yang menariknya dari penyaksian penulis setelah menonton film Disney ini terpukau dengan plot dan isi ceritanya. Mowgli, sang anak manusia itu lebih menonjolkan sisi kemanusiaannya ketimbang cara ‘serigalanya’.

Memang awalnya mereka melarang Mowgli untuk melakukan trik-trik seperti manusia pada umumnya. Kesannya justru kreatif, sedangkan cara serigala itu tumpul. Puncak dari film ini juga menarik sedangkan dalam versi Netflix, malah sebaliknya. Netflix memperlihatkan realisme dari film ini. Anak manusia ini justru sangat kurus digambarkan dalam versi ini, melompat dari pohon ke pohon saja sangat sulit.

Terkesan masuk akal malahan. Kalau dia kurus berarti asupan manusia dan hewan itu jelas berbeda. Disney terkesan bias dalam hal ini, memperlihatkan bagaimana manusia menguasai alam yang justru berbanding terbalik dengan versi Netflix.

Terakhir justru datang dari kancah perpolitikan kita. 212 terkenal dengan suara protes sosial atas dasar penistaan agama dilakukan oleh mantan gubernur Jakarta, yang lebih dikenal atas nama Ahok. Banyak yang bilang gerakan ini murni atas protes sosial. Ada juga yang bilang bahwa ini jelas-jelas politik.

Yang menariknya, kesalahpahaman-kesalahpahaman seperti ini menggiring opini kita. Yang bisa saja disalahgunakan atau bahkan menguntungkan kaum tertentu. Misalnya saja, penggiringan ini kebanyakan dilakukan oleh para politisi pada kedua kubu dan dipertontonkan pada salah satu Channel, yang justru memperlihatkan kita proses kesalahpahaman menguntungkan ini dari pada fokus pada satu makna sebelumnya.

Parahnya, mereka memiliki jagoan-jagoan yang bisa membuat atau memenjarakan satu makna, misalnya politik menjadi yang sosial. Yah, bikin makan hati mau pilih yang mana.

Kesalahpahaman-kesalahpahaman di atas bisa menggiring kita ke mana pun, sialnya jika mereka tak bertanggung jawab. Kesalahpahaman semisal lagu Via Vallen yang mungkin dan bisa saja dari lagu Mira e, anak manusia yang dibesarkan kumpulan serigala, Mowgli, entah yang mana yang benar, 212 bikin bingung, ini beneran protes sosial?

    Kontributor

    Kontributor Nalar Politik
    Kontributor

    Latest posts by Kontributor (see all)