Kesantunan Politik, dari Teks ke Panggilan

Bagaimana jika kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi dari masyarakat termasuk para mahasiswa dibungkam? Mereka sekurang-kurangnya tidak digubris dan seakan-akan tidak didengar apa tuntutannya.

Subversif atau tidak dijaminkah konstitusi bagi setiap warga negara jika terjadi perbedaan pandangan dan sikap, kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi? Jika dijamin, mengapa masih dianggap sebagai sesuatu yang aneh?

Bagaimana jika berbeda warna dan cara berpakaian, berbeda cara beribadah dalam agama; atau pelukis dan penyanyi yang menyalurkan kebebasan berekspresinya tidak dianggap ‘musuh’ atau ‘membahayakan’?

Sejauh ini, kebebasan berpendapat dan berekspresi masih dilawankan dengan rambu-rambu hukum yang berlaku. Bisakah aktivis ‘98 menjelaskan ke publik tentang bagaimana koreksi atau kritik yang tepat atas kinerja pemerintahan?

Pernyataan dari berbagai pihak di mana saja bisa ditanggapi secara berimbang. Ada data dan fakta yang memadai bisa dijadikan dasar penilaian atas kinerja pemerintahan. Secara khusus, kita juga percaya bahwa aktivis ‘98 menggunakan data atau fakta tanpa igauan atau asal bunyi.

***

Tempo peristiwa paling dekat dengan pergerakan aktivis ‘98 melalui pertemuan di presiden terjadi sebelumnya. Ada banyak aktivis ‘98 yang jauh dan tidak berada dalam lingkaran kuasa negara.

Tidak sedikit juga mereka berada dalam lingkaran kuasa negara. Mereka patut memilih jalan hidupnya sendiri yang berbeda lantaran hak-hak menuntut hal demikian sebagai kodrat bagi setiap individu.

Sejauh mereka tidak melakukan perampasan hak, kekerasan, dan pemaksaan kehendak, maka pertemuan yang dilakukan oleh setiap orang dengan presiden adalah hal biasa dan perlu dilindungi hak-hak asasi manusianya. Termasuk membahas perkembangan terkini yang dihadapi bangsa dan negara kita juga merupakan hal yang wajar.

Baca juga:

Begitulah, prasangka dari sebagian pihak terhadap pertemuan dalam lingkaran kuasa negara tidak membebani warga negara untuk menyatakan pendapat yang berbeda. Kecuali prasangka dari kaum oposan politik menganggap ada ‘persekongkolan politik’ di dalamnya adalah sangat berlebihan dan menyesatkan.

Kehadiran salah satu aktivis ‘98 yang berada di luar lingkaran kuasa negara terdengar kontras dalam pernyataan-pernyataan.

Tahun 2022, sebelum pertemuan dengan presiden, muncul pernyataan seorang aktivis ‘98: “Harapan Untuk Rezim Jokowi Tinggal 30 Persen.” “Situasi dan kondisi era Orba dan kini tidak ada perubahan, malah makin buruk dari sisi sistem politik yang makin otoriter dan ekonomi yang dikuasai oligarki yang rakus dan serakah.” (rmol, 2022/06/26, 28)

Rangkaian pernyataan tersebut dari sosok aktivis ‘98 tampak berada di luar lingkaran kuasa negara yang sedang berjalan dengan suara bebas, lugas, dan vulgar. Dari suara ke ujaran, dari ujaran ke panggilan sebagai kenampakan.

Kita menaruh harapan pada aktivis ‘98 dengan segala riuh rendahnya. Semoga mereka mencerminkan cara berpikir inklusif, plural, dan teguh dalam pemikiran dan kehidupan bangsa dan negara.

Kaum intelektual atau aktivis ‘98 akan bertanya bukan siapa dalam lingkaran kuasa negara, melainkan berapa banyak yang kita perankan demi kemajuan bangsa. Bagaimana kesantunan politik bisa menghargai dan mengembangkan kemajemukan.

Berapa banyak pemikiran yang dinyatakan secara bebas, bukan berapa banyak yang kita umbar di ruang publik. Kita sadar akan panggilan untuk menyebarkan rahmat sekalian alam. Mudah-mudahan demikian adanya.

Ermansyah R. Hindi