Kesehatan dan Budaya Hedonistik

Kesehatan dan Budaya Hedonistik
©Maxmanroe

Budaya hedonistik hanya berpotensi merusak kehidupan.

Tak seorang mengekspektasikan penderitaan mendera kita. Kerinduan abadi kita adalah intensi hidup dalam koridor kesehatan yang penuh bahagia tanpa rasa sakit sedikit pun.

Sebagai upaya mempertahankan kesehatan, orang berjuang mengoptimalkan segala potensinya demi berakar-uratnya damai dalam sanubari setiap insan. Upaya setiap invidu tersebut cukup tampak dalam istrahat pada waktunya, mengonsumsi makanan yang bernutrisi, berolahraga secukupnya, mengomsumsi air mineral, dan upaya sejenis lainnya.

Selain upaya yang dilakukan secara individual, ada upaya secara kolektif. Misalnya, imbauan dari pemerintah ataupun dari pihak kesehatan. Mereka memberikan sumbangsih yang amat berarti, antara lain melalui sosialisasi intensif tentang bagaimana menciptakan lingkungan sehat, menjaga kesehatan, spontannya mencintai kehidupan dengan memperhatikan etika protokol kesehatan. Upaya kolektif ini sebagai bentuk nyata kepedulian yang bersifat universalitas.

Ironisnya, praktik hidupnya sangat konstras dengan intensi kolektif. Banyak orang secara fundamental mengabaikan protokol kesehatan yang ditawarkan kepada setiap individu. Mayoritas kita bertendensi mengembangkan kehidupan menurut koridor aturan yang dirancang sendiri.

Sejauh observasi penulis, kecenderungan ini didogma oleh sprit memuaskan hasrat sendiri. Kita mengejar sesuatu yang dapat memuaskan hasrat kita tanpa mengalkulasikan dan berspekulasi kemungkinan akibat yang mengintip kita. Tindakan konsuntif yang sering kita lakukan, misalnya, mengonsumsi rokok atau narkotika, menyita sebagian waktu istrahat malam untuk bermain game, membaca berita atau mengonsumsi minuman beralkohol mendahului kapasitas tubuh kita.

Kita sudah mengetahui dan memahami bahwa semua itu sangat dilarang dan sangat berbahaya bagi tubuh kita. Daftar menu ini tidak consisted di dalam daftar makanan yang berkhasiat tinggi yang disarankan dokter. Itu berarti menu tersebut sangat fatalistis bagi kesehatan kita.

Namun, realitas hidup kita lebih gandrung mengonsumsinya. Hal ini sangat berbenturan dengan harapan hidup sehat. Keinginan yang berapi-api melumpuhkan daya kritis-spekulatif kita. Dengan demikian, kita lebih cenderung mengonsumsi tawaran-tawaran menu yang sangat menggiurkan tanpa mengurai dan mengolah terlebih dahulu.

Budaya Hedonistik dan Pola Hidup

Tendensi utama dan normal bagi manusia adalah cinta akan kehidupan. Cinta akan kehidupan ini terungkap dalam kecenderungan dasar untuk mempertahankan hidup dan mengelakkan maut (Kleden, 2009: 40).

Baca juga:

Teori hedonistik berpendapat bahwa segala perbuatan manusia, entah itu disadari ataupun tidak disadari, entah itu timbul dari kekuatan luar ataupun kekuatan dalam, pada dasarnya mempunyai tujuan yang satu, yaitu mencari hal-hal yang menyenangkan dan menghindari hal-hal yang menyakitkan (Handoko, 1992: 11).

Sadar atau tidak, kita sudah menerapkan makna teori ini dalam konteks kehidupan kita. Hal ini tertampak dalam habitus mengonsumsi narkotika, minuman beralkohol, bermain game hingga batas waktu, menonton film hingga larut, mengonsumsi makanan kurang berkhasiat, dan kesenangan sejenis lainnya yang menjamin kebahagiaan sekejap.

Memang kita tidak bisa mengingkari sisi kesenangan dari berbagai menu yang kita komsumsi ini. Tujuan utama mengonsumsinya adalah memcapai kesenangan dan kebahagiaan yang kita dambakan. Sebagai manusia pemburu kebahagiaan, hal ini tak masalah. Namun kita perlu memperluaskan wawasan untuk membaca dan menginterpretasi tujuan kita mengonsumsi dan kemungkinan akibat yang mengintip kita.

Pada prinsipnya, kita tidak mau menderita sakit. Karena itu, kita akan berusaha menancapkan dinamika hidup yang berlandaskan pada koridor protokol kesehatan. Protokol yang dirujuk adalah merumuskan aturan harian yang tepat, jeli mengonsumsi makanan yang muatan nutrisi tinggi, dan seseorang akan sedapat mungkin menjauhi dari berbagai hal yang berpotensi mencederai atau mengancam tubuh kita.

Upaya ini merupakan pengabdian total terhadap kehidupan ini. Namun dalam realitas hidup bernarasi menyimpang. Tampaknya keberadaan, being kita sangat dipengaruhi oleh budaya hedonistik. Segala keputusan dan tindakan kita saat ini dituntun oleh praktik hidup hedonistik.

Praktik hidup ini seakan-akan menipiskan dan mengeruskan daya spekulatif kita. Dalam keadaan seperti ini, kita dibikin seolah-olah tak berkutik dan terbuka menerima serta mengonsumsi segala tawaran tanpa lebih dahulu mengolah dan mengkalkulasi akibat yang muncul kemudian hari.

Mayoritas kita belum sungguh-sungguh memperlihatkan pengabdian total dalam merawat dan mencintai kehidupan kita. Kita lebih condong mengutamakan hal-hal yang justru membahayakan kesehatan tubuh kita.

Kurang perhatian pada kehidupan terungkap melalui pola hidup yang tidak patuh pada protokol kesehatan, deperti yang saya singgung di atas. Misalnya, mengonsumsi ganja, minum beralkohol secara berlebihan, mengonsumsi makanan yang tak berkasiat, tidak istrahat pada waktunya, kurang berolahraga dan minimnya kepedulian pada lingkungan di sekitar kita.

Halaman selanjutnya >>>
    Sebastianus Iyai
    Latest posts by Sebastianus Iyai (see all)