Kesetaraan Keakraban

Kesetaraan Keakraban
©UNESCO

Equilibrium1

Antara dua benua
Antara dua lautan
Batin kita pun terdera
Oleh angin taufan

(Linus Suryadi AG)

Relasionalitas manusia bersifat hierarkis-struktural atau egaliter-resiprokal? Apakah pada dasarnya manusia setara, tetapi kemudian mendapat justifikasi sosial dalam konteks stratifikasi? Ataukah kesetaraan hanya merupakan konsepsi yang coba disediakan oleh demokrasi?

Kesetaraan tidak berhubungan dengan sistem, tetapi tidak bisa mengelak dari kondisi sistematis. Begitu juga ketidaksetaraan tidak ditentukan oleh suatu struktur. Namun ketimpangan struktural dan arogansi birokrasi dapat mengeliminasi kesetaraan.

Kesetaraan merupakan aktualitas being  manusia atau konteks ontologis eksistensi. Keberadaan manusia adalah fakta pemberian. Manusia ada bersama dalam dinamika relasional karena keutamaan kodrati sebagai yang sosial (homo socius). Sama-sama ada sebagai Dasein. Ada di dunia dan di bawah langit yang satu.

Kesetaraan menampilkan autentisitas dari subjek yang ada bersama dan ada bersama yang lain. Setiap pribadi memiliki keindahan gaya bahasa, sanggup berpikir dan memperoleh pengetahuan, dan mengemban religiositas karena transendensi dirinya. Setiap pribadi memiliki keutamaan. Itulah subjektivitas. Kesetaraan dibenah dan dikembangkan karena aktualitas dan potensialitas dari eksistensi.

Apakah cukup dengan proposisi itu? Rasa-rasanya belum. Seperti ideal dari sebuah spekulasi subjektif yang kurang memadai. Peradaban butuh konsep, tetapi lebih dari itu praksis yang menentukan.

Relevansi sikap hidup itulah ukuran empiris dari konteks manusia yang mengupayakan kesetaraan (equality) atau ketidasetaraan (inequality). Kita sama sebagai warga negara, satu tingkat di hadapan hukum, memiliki hak dan kebebasan, tetapi apakah kita saling menghormati satu sama lain.

Cara berpikir kita perlu kita asuh. Tindakan kita mesti diarahkan oleh akal sehat. Alam pikiran kita sangat memengaruhi cara kita mengafirmasi diri. Kalau kita boleh jujur, doktrin agama membuat orang tunduk karena ada finalitas. Tidak semua vitamin kebudayaan sehat untuk karakter etnisitas, tetapi feodalisme menyebabkan hipervitaminosis yang melumpuhkan kreativitas. Begitu juga proposisi ilmu pengatahuan kadang membentuk suatu tatanan sudut pandang yang reduksionistik terhadap hal-hal subtil kehidupan.

Umumnya dominasi patriarki, dan di dalam sistem, tuan eksekutif ambil kendali secara otoriter. Ada yang disingkirkan karena kalah kompetisi; yang lain diterima karena modal finansial yang memadai untuk biaya pentas politik. Pikiran dikendalikan oleh gairah pasar, oleh hasrat “to have”, bukan oleh filsafat kritis untuk “to be”.

Respek kepada sesama manusia didorong oleh nafsu untuk memiliki atau memperkaya diri. Menjadi penjilat karena dibayar dengan materi. Kesetaraan tidak tumbuh dari relasi materialistik macam ini. Menjadi manusia setara artinya saling menerima untuk membentuk diri menjadi autentik karena solidaritas, respek, dan cinta.

Apakah Kita Setara?

Secara eksistensial mungkin setara sebagai entitas ada yang mengafirmasi diri – bahwa saya dan engkau, kita sesama manusia, sama-sama ada di dalam dunia, ada bersama yang lain, dan kita adalah subjek yang terbatas. Namun secara sosiologis manusia dalam kolektivitasnya ada di dalam struktur sosial suatu masyarakat.

Perbedaan fungsional jelas membagi manusia ke dalam kelompok-kelompok atau kategori-kategori komunitarian. Situasi asali atau kondisi Eden awal penciptaan telah beralih di dalam sejarah peradaban sehingga meskipun suara revolusi Prancis menyatakan liberté, égalité, fraternité, tetap saja komunitas manusia memiliki dominasi kuasa. Nietzsche mungkin benar di sini afirmasinya terhadap jati diri manusia sebagai kehendak untuk kuasa (der Wille zur Macht).

Golongan tertentu, misalnya kalangan militer. Pendidikan mereka sangat rigor dan latihan fisiknya keras. Mereka tampak meneteng senjata. Apakah jagoan dan bebas membunuh? Berita di media menyatakan bahwa ada oknum TNI yang memutilasi warga sipil.2 Ada juga seorang ibu prajurit TNI menuntut keadilan karena anaknya meninggal (diduga) dianiaya oleh senior.3

Mengapa subjek penting keamanan negara bertindak sewenang-wenang memutilasi warga sipil? Ada kepentingan apa yang melatarbelakangi tindakan kriminal pembunuhan?

Halaman selanjutnya >>>
Edy Soge
Latest posts by Edy Soge (see all)