Keteladan dalam Kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib

Keteladan dalam Kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib
©TJA

Berbicara mengenai kepemimpinan, kepemimpinan bisa kita artikan sebagai kemampuan seseorang untuk memimpin orang lain dalam suatu kelompok atau organisasi. Ini juga bertujuan untuk keberlangsungannya kegiatan yang dilakukan secara berkelompok atau organisasi.

Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan pendapat tentang keteladan dalam kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Ali dikenal sebagai pemimpin yang cermat; jujur mengedepankan keadilan; cerdas pemberani; berbudi pekerti; bersungguh-sungguh dalam hal mempelajari ilmu kehidupan rohani; pandai bersyukur; rendah hati; dan rela berkorban demi mempertahankan kebenaran sesuai ajaran Nabi.

Apalagi jika dikaitkan melalui ajaran Islam, bahwa kepemimpinan itu suatu kegiatan yang memimpin, menunjukkan dan menuju jalan Allah SWT yang baik dan benar. Aktivitas semacam itu tadi bertujuan untuk meningkatkan potensi mereka ke dalam masyarakat yang ingin memimpin dengan usahanya untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia maupun di akhirat melalui ketentuan Allah SWT.

Salah satunya ada sebuah kisah masa kepemimpinan Ali ini tentang baju berbahan besi dicuri oleh seorang Nasrani. Beliau pun mengajaknya untuk menemui seorang hakim dari kaumnya. Kemudian hakim itu memutuskan jika baju besi itu punya seorang Nasrani, dikarenakan beliau tidak mempunyai bukti kepemilikan baju tersebut.

Karena perilakunya, seorang Nasrani tadi mengucap syahadat. Sebagai contoh Ali mencontohkan sikap pemimpin yang rendah hati. Beliau pernah memasuki pasar sendirian dan menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat dan selalu membantu rakyatnya yang membutuhkan bantuan.

Nah, beliau mengingatkan mereka dalam QS. Al-Qashas ayat 83 yang berbunyi:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: Negeri akhirat itu kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa (lihat QS. Al-Qashas: 83). “Ayat ini dapat melekat pada orang-orang yang mengamalkan keadilan dan Tawadu’,” jelas Ali (Tahdzib Bidayah wan Nihayah: 3:282).

Baca juga:

Dalam kepemimpinan Ali ini, Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan nama Zahid. Beliau mempunyai keistimewaan yang tidak dikuasai oleh sahabat lainnya, jauh dari semua kenikmatan yang ada di dunia, dan juga dengan seseorang yang bebas dari dosa dan tuduhan (orang saleh/salihah).

Penasihat Abu Bakar, Umar dan Usman mempunyai wawasan yang begitu mendalam terkait keputusan kasus tersebut. Ali juga selalu mengutarakan pendapatnya yang sangat kuat dan baik kepada seluruh orang dan ikhlas menekur pada lawan bicaranya.

Ali diamanahkan untuk bisa menjadi penasehat para khalifah sebelumnya Abu Bakr, Umar dan Usman. Pandangannya begitu mendalam sehingga dalam menyelesaikan masalah, dikenal dengan gelar “Imam”, bisa juga disebut “al-Imam” yang berarti Ali bin Abi Thalib. Mungkin ini disebabkan karena Ali mampu menafsirkan Alquran dan membagikan dakwah keagamaan di Masjid Nabawi. Di antaranya sikap dan perilaku yang dilakukan Ali bin Abi Thalib yakni:

1) Kematangan psikologis, manualitas dan keluasan sosial. Ini suatu pemimpin yang umumnya mempunyai emosi yang stabil, matang, dan mempunyai kegiatan aktivitas dan pandangan yang cukup matang.

2). Dorongan batin dan kemauan berprestasi. Nah seseorang pemimpin harus memiliki tekad, semangat, kemampuan dan dorongan untuk meraih suatu maksud dan tujuan, termasuk peranannya khalifah Ali Bin Abi Thalib dalam perang badr bersama Nabi dan para sahabat, serta berada di tempat lainnya.

Dia berkata: Maut yang paling mulia yakni mati dalam pertempuran. Ketika ingin menemui musuh ia tidak pernah memulainya, tetapi ketika mendapat serangan tidak pernah mundur. Beliau mampu menahan diri dari mundur dan  mengalahkan musuh-musuhnya dengan keterampilan yang hebat.

3). Adanya relasi Interpersonal: Pemimpin seharusnya mampu memperhatikan, menghargai pendapat orang lain, memuliakan dan menghormati anggota menurut Yanani. Bahwa ikatan antara bawahan dan pemimpin dalam suatu organisasi saling mempengaruhi.

Ali benar-benar sangat baik dan rajin mengambil pelajaran dengan senyuman dari Nabi kepada semua orang. Saya berbicara banyak dengan manis dan fasih. Dan ketika ada pertikaian, ia tetap menampakkan pertikaiannya yang sangat kuat dan rela mengalah demi kedamaian.

Baca juga:

Akan tetapi, jika permohonan dari pihak lain dirasa cukup kuat dan kokoh, maka ia dengan senang hati menerimanya.

Hidupnya mempunyai sikap rendah hati. Ali bukanlah orang yang berkarakter merasa dirinya paling tinggi dari orang lain, atau memperlakukan orang sebagai bawahannya. Justru Ali menjadi seorang pemimpin yang mempunyai karakter yang tidak jauh dari ajaran rasulullah.

Antara lain: murah hati, lapang dada, tidak pendendam, selalu memelihara tali silaturahmi da pemaaf, dan memang ini telah dilaksanakan oleh Ali. Ia juga tidak pernah marah dan berpikiran buruk kepada semua orang.

Demikian yang bisa saya kutip dan diambil dari berbagai sumber kepemimpinan khalifah Ali Bin Abi Thalib yaitu cerdas, bertanggung jawab, berani, sederhana, dan adil. Selain itu, dasar-dasar pemikiran islam terkait pendidikan yang punya banyak pokok pembahasan dalam kepemimpinan Khalifah Ali Bin Abi Thalib, yang mana hidupnya relatif mempunyai sikap rendah hati.

Ia tidak pernah menyombongkan diri seperti dirinya lebih tinggi dari orang lain, atau memperlakukan orang sebagai bawahannya.

Nah, Ali sendiri pun sudah menjadi bawahan, namun tidak lepas dari didikan rasulullah, murah hati dia, lapang dada, tidak pendendam, selalu menjaga tali silaturahmi dan sikap pemaaf. Bahkan ini dapat diimplementasikan oleh Ali dan Ia tidak pernah marah serta berprasangka buruk kepada orang lain.

Marena Asriati